Sunday, July 27, 2014

Can't Sleep.

Detik-detik terakhir menuju hari raya. Suara kembang api dan petasan bersahutan diluar sana. Semua orang dirumah ini sudah terlelap. Dan seperti biasa, saya belum bisa tidur.

Sayup-sayup suara takbir dari beberapa mesjid, masih bergema diluar sana. Hati siapa yang tidak bergetar mendengarnya. Tiga puluh hari Bulan Ramadhan terasa berlalu begitu cepat. Manusia bahkan mungkin tidak tahu harus bersedih karena kepergian Ramadhan ataukah harus berbahagia karena Hari Raya Idul Fitri. Mungkin juga harus merasa keduanya.

Sejenak doa-doa pun disebut dalam hati. Banyak doa yang rasanya ingin sekali dibiarkan melangit malam ini, bersama gema takbir. Semoga diri ini bisa bertemu kembali dengan Ramadhan tahun depan. Bersama keluarga dan orang-orang tercinta. Semoga Allah melindungi keluarga saya. Semoga Allah melindungi teman dan kerabat diluar sana. Semoga Allah melindungimu. Hanya sebuah doa yang tidak muluk untuk malam ini.

Aamiin..

Saturday, July 26, 2014

I need to write something on my blog. I am getting more insane lately.

Wednesday, July 16, 2014

Note For This Morning

Catatan pagi ini:

Semoga Allah memberkahi orang yang lembut hatinya, saking baiknya bahkan sangat sedih melihat seekor katak mati pagi ini.

Dan..

Semoga Allah mengampuni orang yang egois hatinya, saking buruknya bahkan tanpa merasa bersalah lewat di atas jalanan yang belum sepenuhnya selesai. Semennya masih basah. Padahal, banyak orang yang terjaga hanya untuk membangun jalan tersebut, untuk kepentingan umum.

Aamiin..

Monday, July 14, 2014

Es Krim

Es krim ini mulai mencair. Mungkin karena tadi aku lupa masukkan di kulkas. 
Tapi, tak apalah, mencair pun ia tetap namanya es krim. Rasanya juga masih 
sama.

Bukan masalah es krim ini enak maka lantas aku tetap memakannya 
walaupun ia mencair, 
yang membuat es krim ini berharga. 
Tapi, karena ada kebaikanmu di dalam sana. 

Mungkin karena merasa kebaikan ini tulus 
makanya es krim ini terus melekat dipikiranku. 
Dan aku mereda.
Entahlah. Tapi, mengapa?

Maka, kupandangi lagi es krim ini. 
Mencari tanya dan jawabannya sekaligus disana.
Berharap rasionalitasku tetap bekerja saat ini.

Email Tahun 2013

Seperti ada yang aneh lagi ketika melihat sekumpulan email itu lagi, dari pengirim yang sama. Sekumpulan email yang dikirimkan pada tahun 2013 lalu. Sekumpulan email yang menjadi saksi bisu dari sebuah awal dan proses, walaupun akhirnya gagal. Sengaja saya tidak hapus, supaya mengingatkan diri sendiri tentang bagaimana harapan bermula dan ketidakpastian selalu menjadi bagiannya.

Bukan orangnya, tapi makna dan hikmahnya itu yang membekas dari proses tersebut. Ternyata setiap detil hidup selalu diatur oleh Allah. Masih jelas terekam bagaimana awal, proses dan akhirnya. Tidak terduga, diluar akal saya. But, that's the way it is. Begitulah caraNya. 

Tapi, justru kegagalan itu seperti menumbuhkan harapan. Bahwa dulu saja Allah bisa pertemukan dengan orang yang tidak terduga, dengan cara tidak terduga pula. Mengapa tidak Dia lakukan sekali lagi, kepada saya kelak?

Siapa dan dimana dia? Pertanyaan klasik bagi orang-orang yang sedang merindu separuh hidupnya. Hanya menggenggam ketidaktahuan dan ketidakpastian yang dikandung masa depan. Tapi, justru itu yang menumbuhkan keinginan untuk berjuang. Bukan hanya sekedar untuk jodoh itu sendiri, tapi untuk Allah dan diri sendiri, dunia dan akhirat.

Kadang ragu kapan Allah akan mempertemukan. Hingga perlahan rasa jenuh dan bosan hinggap. Mungkin itu saatnya Allah sedang bertanya "apakah kau bersungguh-sungguh?" Dan mengajak diri melihat jauh ke dalam. 

Tulisan ini bukan hanya perihal jodoh saja, tapi tentang sesuatu yang harus kau perjuangkan untuk dirimu sendiri. Yang harus kau usahakan yang terbaik untuk mendapatkan akhir yang terbaik. Dengan segala macam ketidakpastian dan kemungkinan yang akan muncul di sepanjang jalan. Membuatmu jatuh bangun dalam berharap. 

Bukankah jika segala sesuatu itu sudah pasti kita ketahui setiap rincinya, kita tidak akan melakukan apa-apa? Kita tidak akan punya sesuatu yang bisa kita tuju. Tidak seru. Terus, hidupmu kemana? Imanmu buat apa? 

Harapan karena ketidakpastian dengan setiap lantai keraguan didalamnya, membuat kita mau kembali berdiri, berjuang lagi. Membuat iman mu justru menjadi hidup.
"Berjalan berseberangan untuk kemudian saling menemukan sekali lagi, walau tahu akan kembali mengeja rasa masing-masing dalam diam, sekali lagi."

(reblogged this from http://ainidarmansyah.tumblr.com/)

Sunday, July 13, 2014

Renungan Hari ke-16: Haruskah Hati Menciptakan Jarak?

Alkisah, seorang Ustadz bertanya kepada para santrinya, "Tahukah kalian, mengapa ketika seseorang dalam keadaan marah, ia berbicara kuat-kuat atau berteriak?" 

Seorang santri menjawab,"Mungkin karena disaat seperti itu, ia telah kehilangan kesabaran sehingga berteriak."

"Tapi, bukankah lawan bicaranya berada di dekatnya? Jadi, mengapa harus berteriak? Apakah sang lawan bicara tidak dapat mendengar jika dengan sura halus? Ataukah ia tak dapat berbicara secara halus?"

Hampir semua santri memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut pertimbangan mereka. Namun, tak satupun jawaban memuaskan. Lalu, sang Ustadz berkata "Ketahuilah, ketika dua orang sedang berada dalam situasi penuh dengan kemarahan, maka jarak antara kedua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang sedemikian jauh, mereka harus berteriak. Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin menjadi-jadi pula kemarahan mereka dan jarak hati yang ada diantara keduanya pun menjadi semakin jauh. Karena itu, mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi"

Satu Bingkai.

Kerudung orangenya berkibar tertiup hembusan angin. Rintik hujan mulai turun. Langkahnya cepat seperti biasa. Waktu berbuka puasa sudah dekat. Alunan A Thousand Year kembali mengalun di telinganya. Dengan sedikit terburu-buru, ia naik mobil angkutan umum yang sudah mulai menjauh lagi.

Ini hari yang melelahkan untuknya. Entah kepada siapa lagi ia harus mengadu kecuali dengan hatinya sendiri. Tidak, bukannya ia tidak mempunyai orang-orang disekitarnya yang rela mendengarkan keluh kesahnya. Hanya saja, kadang seseorang butuh waktu untuk dirinya sendiri. Mungkin sekedar berbincang sebentar dengan Tuhan yang ada dalam hatinya. Lagipula ini hanya lelah, bukan sekarat. Bukan masalah.

Sesekali perempuan itu memeriksa telepon selularnya. Sekedar melihat, sudah jam berapa sekarang. Deg..seperti ada denyutan kecil di kalbunya setiap melihat wallpaper di layar handphone-nya.

Entah apa yang menggerakan perempuan itu untuk memilih foto tersebut. Bagaimana bisa ia sekarang bisa berada satu bingkai dengan orang yang sebelumnya dia tidak pernah berfikir, bahkan hanya untuk mengharapkannya saja rasanya dirinya tidak pantas? Dia, dengan segala sempurnanya. Dan perempuan itu, dengan segala kekurangannya.

Terlihat canggung perempuan itu di foto itu. Ah, mungkin ini hanya satu kesempatan kecil dari Tuhan. Agar dia sejenak bisa merasakan rasanya berdiri di sampingnya, bukan hanya dibelakangnya. Memandangi punggungnya diam-diam setiap dia berjalan. Tidak hanya mengaguminya dari jauh, tapi dari jarak sedekat ini. Dalam satu bingkai.

Saturday, July 12, 2014

Renungan Hari ke-15: Bulan Ramadhan, Bulan Sabar

Bulan Ramadhan mengajarkan kita untuk bersabar. Karena pahala yang dijanjikan adalah tak terhingga.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda 

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” (HR. Muslim no. 1151)

Renungan Hari ke-14: Barangsiapa Yang Bertawakal Kepada Allah, Dia Akan Mencukupinya

Suatu ketika masuklah seorang sahabat RasulullahShalallahu ‘Alaihi wassalam ke masjid Nabawi padahal saat itu bukan waktunya untuk melaksanakan shalat fardhu. Di dalam masjid, sahabat tersebut menemukan seorang bocah kecil sedang melaksanakan shalat dengan khusyuk. Hingga ia pun lantas menunggui bocah tersebut sampai selesai melaksanakan shalatnya.

Setelah selesai shalat, sahabat tersebut mendekati bocah itu dan menyalaminya sembari berkata, “Wahai anakku, siapakah orang tuamu?” anak tersebut menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mengeluarkan air mata pertanda menangis dan sedang sedih. Ia kemudian mengangkat kepalanya dan berkata, “Wahai pamanku, aku adalah anak yatim piatu yang sudah tidak lagi mempunyai ayah dan ibu.”

Renungan Hari ke-13: Hidup Itu Pilihan

Sebab, keimanan manusia tidak diciptakan untuk ditahan dalam tempurung baja yang terkunci rapat dan aman. Iman diciptakan oleh Allah dan ditempatkan ke dalam organ yang tidak statis. Ia justru bernaung di hamparan organ yang mudah berubah, bolak-balik, naik turun, yaitu di dalam kalbu, di hati manusia.

Mengapa Allah menaungkan iman di dalam organ abstrak yang labil dan mudah sekali berubah? Mengapa tidak diciptakan saja organ statis dan stabil yang melindungi dari hawa nafsu dan hembusan kotor masuk kedalamnya, supaya iman itu aman, sehingga selamatlah kita semua?

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al-Ankabut: 2)

Maka, terjawablah pertanyaan itu. Kalau iman sudah terjaga dalam hamparan organ yang tidak mungkin ditembus oleh rayuan kotor hawa nafsu, lalu untuk apa kita diciptakan di jagat raya ini? Dunia yang penuh sesak oleh segala kesenangan semu dan bujuk rayu sengaja diciptakan untuk menggoda hati kita yang selalu berbolak-balik. Apakah kita bisa bertahan dengan rayuannya yang sering kali melalaikan?

Renungan Hari ke-12: Haruskah Menunggu Batu Yang Dilemparkan?

Alkisah, seorang eksekutif muda memacu mobil Jaguar-nya yang baru. Di tengah perjalanan, dimana banyak mobil diparkir di pinggir jalan, tiba-tiba sebuah batu bata dilemparkan dengan keras ke pintu Jaguar-nya.
Secepat kilat ia menginjak rem dan memutar balik, menuju asal batu itu dilemparkan. Dengan marah ia melompat keluar dari mobil menarik kasar kerah baju anak yang melempar batu bata, dan mendorongnya hingga terbentur sebuah mobil yang diparkir.

“Apa-apaan ini? Apa yang kamu lakukan? Perbuatanmu membuatku harus mengeluarkan banyak uang untuk memperbaikinya. Apa maksudmu melakukannya?”

Anak laki-laki itu berbicara takut-takut,”Maaf , Tuan, saya minta maaf. Saya tidak tahu harus berbuat apa lagi. Saya melemparkannya karena tidak ada yang mau berhenti”

Thursday, July 10, 2014

Note For Us.

Alunan A Thousand Year versi Boyce Avenue memenuhi malam larut ini. Semoga lagu ini bisa meninabobokan aku, membuatku tidur walau hanya sebentar. Aneh karena malam ini mataku tidak mau terpejam padahal seharian ini rasanya melelahkan sekali.

Kupandangi langit-langit kamarku dan entah sudah berapa kali lagu ini dimainkan. Dan aku masih tidak bisa terlelap.

Seribu tahun. Aku belum tahu apa yang akan aku lakukan jika aku benar-benar bisa melewati seribu tahun kehidupanku. Tapi, apakah memang rasanya akan menyenangkan hidup disini selama itu? Sayang sekali ini bukan film Twilight, yang kehidupan tokohnya berjalan sempurna. Ini hidup, dan hidup itu dinamis. Bergerak naik-turun.

Seribu tahun. Mungkin akan terasa sangat lama jika seandainya aku harus menunggu seribu tahun untuk sesuatu. Tapi, jika itu adalah waktu yang terbaik pada saat tahun ke seribu, maka disitulah ia akan terjadi. Segala sesuatu yang terbaik tidak akan salah atau disesali kelak. Dan waktu terbaik itu hanya akan datang pada orang-orang yang siap.

Kita akan telusuri setapak jalan ini. Kita ikuti saja alur cerita hidup kita ini. Kita berjalan, kita tumbuh. Perlahan saja. Biar kita tidak merusak akhir ceritanya.

Maka, aku akan bersiap. Aku akan bersabar. Walau seandainya, itu membutuhkan waktu seribu tahun.

Wednesday, July 9, 2014

Note for Gaza.

Tulisan pendek pagi ini untuk saudara-saudari kita di Gaza. Thanks for twitter, which could provide update informations about what happened out there.

Baru saja saya sibuk scroll timeline twitter, dan tidak hanya penuh dengan berita kemenangan Jerman dan berhasil mempercundangi Brazil di pertandingan Semifinal World Cup 2014. Tapi, timeline saya juga penuh dengan berita tentang penyerangan lagi di bumi Gaza oleh Israel. Rasanya timeline twitter menjadi sangat ironis ketika menyajikan berita gembira dan berita duka di saat yang bersamaan.

Pilu rasanya ketika melihat foto anak-anak kecil yang terbujur kaku, setiap hari pasti ada dari mereka meninggal. Disaat bersamaan, baru saja kemarin di sebuah rumah makan cepat saji, saya melihat anak balita yang sangat lucu, sehat, tanpa kekurangan satu anggota tubuh pun. Ketika saya mengingat-ingat lagi, membandingkan anak-anak di Gaza dan di Indonesia, maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Alhamdulillah anak-anak disini sedikit lebih beruntung. Tapi, dibalik musibah ada hikmah. Anak-anak disini mungkin baik-baik saja, tapi mereka tidak mendapatkan kesempatan mati syahid seperti anak-anak di tanah Gaza. Menunggu orang tua mereka di gerbang Jannah. Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Semoga Allah memberikan kekuatan dan kesabaran kepada saudara-saudari kita di Gaza, dalam menghadapi kezaliman disana. Insya Allah, Allah akan memberikan balasan Jannah untuk mereka yang sedang berjuang di jalan Allah. Mari kita juga sejenak renungkan dan kirimkan doa untuk mereka disana.
Aamiin..

(Ditulis di pagi hari yang tenang. Maaf jika tulisan ini kata-katanya berantakan. Saya hampir kehabisan kata ketika menulis ini)

Tuesday, July 8, 2014

Renungan Hari ke-11: Jemaah Facebookiyah

“Jangan-jangan kita lebih menikmati teriknya siang di bulan Ramadhan hanya untuk ber-facebook ria daripada melakukan aktivitas produktif. Lebih intens update status daripada menyempatkan waktu untuk iktikaf. Kita lebih memilih chatting daripada membaca Al-Qur’an”

Tidak selamanya teknologi selalu membawa kebaikan. Meskipun begitu banyak kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi, tetapi begitu banyak pula yang direnggutnya. Meskipun kita sadari bersama bahwa tidak selamanya kita harus bingung akibat teknologi baru yang terus bermunculan. Teknologi itu sesuatu yang netral. Tidak bisa disebut sebagai sumber kebaikan, tetapi tidak bisa juga disebut sumber keburukan. Ibarat sebilah pisau, ia bisa menjadi kebaikan, juga terkadang berdampak keburukan, bergantung siapa yang memegangnya. Kalau bilah pisau itu dipegang oleh perampok, ia akan beralih fungsi menjadi alat pembunuhan, media kejahatan. Tentu berbeda jika pisau itu dipegang oleh ibu kita di dapur untuk mengiris bawang.

Lalu, bagaimana menyikapi facebook atau jejaring sosial yang telah bertaburan di internet?

Renungan Hari ke-10: Cerdas Menghadapi Kaum Peminta

“Jika anda memilih untuk tidak memberi tapi selanjutnya tidak mau melakukan tindakan apapun kepada mereka, ya, sama juga bohong”

Negeri Kaum Peminta, itulah kita. Berdasarkan survey dari sebuah lembaga, jumlah kaum pengemis dan gelandangan semakin bertambah tiap tahunnya. Beberapa daerah, baik provinsi maupun kabupaten, melaporkan bahwa peningkatan jumlah kaum pengemis masih cukup signifikan. Meskipun kita sepenuhnya menyadari, menjadi dilematis ketika kita harus menyorot kehidupan pengemis, namun bukan tidak pantas juga bagi kita untuk mengkritisinya. Pasalnya, “pekerjaan” ini selalu menjadi alternatif menarik bagi yang merasa tidak memiliki keahlian pada pekerjaan yang lebih baik.

Monday, July 7, 2014

Di gelap ini..
Diri menahan pilu serta malu karena telah lupa
Rasanya sudah terlalu lama
Kaki ini telah pergi melanglang buana

Gelap yang ini..
Bulir-bulir air mata basahi sajadah
Getar memohon ampun ucap bibir ini
Adakah Tuhan maafkan aku yang salah?

Gelap yang ini..
Biarkan gelap ini tenggelamkanku
Agar bisa ku peluk Nuur yang ku cari
Agar Tuhan bisa beri aku cahaya-Nya, memelukku.

Sunday, July 6, 2014

Note for Someone

Kalau ada yang berbuat tidak baik dibelakang kita, itu masalah dia.

Yang jadi masalah, kalau kita ikutan seperti itu.

Gak apa-apa kalau dia mau berbuat buruk apa saja dibelakang sana, asal jangan kita yang berbuat seperti itu.

Kita cuma bisa berdoa agar dijauhkan dari segala macam keburukan, baik yang terlihat, maupun yang tidak terlihat.

Keep calm and let Allah do the rest.

(Inspired by my deep-conversation with Sri couple days ago. Hmm Sri has taught me a lot of things)

Renungan Hari ke-9: Getaran Syahadat

Islam selalu memberikan jalan bagi umatnya, dalam melakukan segala aktivitas melalui berbagai cara yang unik. Sepertinya masing-masing syariatnya tidak berhubungan tetapi  setelah diperdalam, kita pun akan semakin mengerti tentang indahnya agama kita. Semuanya saling terkait satu sama lain. Lima panduan, lima pedoman. Berbicara tentang pedoman, kita punya 5 poin yang terbentuk sebagai lima rukun islam. Rukun islam inilah yang menjadi pedoman bagaimana cara untuk mengimplementasikan keislaman kita dalam kehidupan sehari-hari. Yaitu dengan Syahadat, Shalat, Zakat, Puasa, dan Haji. Tapi, dari kelima ini, syahadat menjadi poin terpenting dalam Islam. Karena jika baik syahadatnya, memaknai nya dengan baik, maka insya Allah, keempat rukun lainnya dapat dilakukan dengan baik pula.

Sejatinya, syahadat adalah perjanjian kita dengan Allah. Dalam Al-Qur’an telah Allah beritahukan bahwa sebelum seorang manusia dilahirkan, sudah ada perjanjian antara roh manusia dan Allah. Roh ditanya,”Alatsu birabbikum? (Bukankah Aku ini Rabbmu?), Roh menjawab,”Balaa syahidnaa” (Ya benar, kami bersaksi)

Saturday, July 5, 2014

Renungan Hari ke-8: Lu'lu'ul Maknun

“Jangan takut tidak memiliki eksistensi dalam lembar sejarah dunia karena lembar catatan sejarah akhiratmu tidak akan pernah melewatkan manusia-manusia mulia yang mengikhlaskan diri meniti jalan Tuhan”

Seorang Arab kampung datang kepada Muawiyah bin Abi Sofyan dengan pakaian yang sangat kumal. Ternyata karena alasan tiu, Muawiyah pun tidak memedulikan kehadirannya.“Ya Amirul Mukminin,” kata orang Arab Kampung itu. “Bukanlah pakaian yang mengajak anda berbicara tuan! Yang mengajak tuan bicara adalah manusia yang berada di dalam pakaian ini.”

Arab Kampung itu kemudian berbicara panjang lebar tentang berbagai masalah dengan tingkat keilmuan yang tinggi. Tutur kata dan bahasanya indah. Muawiyah tidak menyangka sebelumnya. Usai berbicara, Arab Kampung itu keluar dan pergi meninggalkan istana tanpa meminta suatu apapun. 

Muawiyah pun berkata,”Aku belum pernah melihat seseorang yang pada awalnya sama sekali tidak kuhargai, namun pada akhirnya ia begitu mulia dimataku.”

Lu’lu’ul Maknun. Mungkin banyak dari kita yang tertunduk malu pada mereka. Ketika banyak dari kita yang memburu popularitas, tidak terbersit dalam jiwa mereka untuk dikenal banyak orang dan diketahui jasa-jasa mereka. Mereka tidak tertarik dengan puja-puji dari manusia. Mereka tidak tertarik untuk dikenal oleh banyak manusia. Layaknya sebuah mutiara yang tersembunyi. Mereka hanya ingin dikenal sebagai hamba yang mulia oleh Tuhannya. Hanya merindu untuk segara tidur di atas dipan bertakhtakan emas. Mereka merindu hidup bersama bidadari-bidadari surga bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan. Lu’lu’ul Maknun.

Ada lagi kisah lain dalam buku ini yang dipaparkan penulis, membuat saya sangat malu dan tersentuh. Ada seorang tukang bakso yang memiliki kebiasaan unik. Setiap menerima uang dari pembelinya, ia menyimpan uang itu di tiga tempat. Sebagian di laci gerobaknya, sebagian di dompetnya, dan sisanya di kaleng bekas tempat roti. Ketika ditanya alasannya, jawabannya:

Friday, July 4, 2014

Renungan Hari ke-7: ‘Abidu Haramain

Pemuda itu dikenal di seluruh penjuru Arabia sebagai perampok. Meski masih muda, reputasinya sebagai penjahat kelas sanggup membuat nyali semua orang ciut. Ia tak kenal ampun dengan korban-korbannya. Siapapun yang coba-coba melawan ia tak segan membunuhnya.

Suatu ketika, ia tertarik dengan seorang gadis. Karena tak mampu menahan gejolak hatinya, dia berencana untuk mengendap masuk ke rumah si Gadis di kala semua penduduk kota terlelap tidur. Namun, belum sempat melancarkan niat jahatnya, pemuda mendengarkan seorang menyenandungkan ayat Al-Qur’an,

Thursday, July 3, 2014

Renungan Hari ke-6: Hidup Itu Singkat, Kawan.

“Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?” Seorang sahabat bertanya Rasulullah menjawab “Yang paling baik mengingat mati kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut. Itulah orang yang paling cerdas” (HR. Ibnu Majah dan Thabrani)


Hidup gak hanya didunia. Setelah kematian, kita semua akan memasuki kehidupan lain yang jauh berbeda dengan kehidupan dunia, yaitu kehidupan akhirat. Semua amal hanya bisa dikerjakan didunia, sedang “evaluasinya” dilakukan di akhirat. Pokoknya kalau di hidup dunia sebenarnya buat cari bekal kehidupan selanjutya. Cuma sebagai tempat singgah, untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya yang lebih panjang, yang lebih abadi.

Wednesday, July 2, 2014

Renungan Hari ke-5: Tuhan, Maaf Kami Sedang Sibuk

“Sungguh aku sangat ingin memerintahkan shalat untuk didirikan, lalu aku perintahkan seorang laki-laki untuk mengimami orang-orang, kemudian aku berangkat bersama beberapa orang laki-laki dengan membawa beberapa ikat kayu bakar kepada orang-orang yang tidak ikut shalat, lalu aku bakar rumah-rumah mereka dengan api tersebut” (HR. Bukhari dan Muslim)

Saat berjalan di mal, saat lagi sibuknya menyelesaikan pekerjaan kantor atau lagi sibuk mengerjakan tugas kuliah di kampus, lalu tiba-tiba adzan dikumandangkan. Ada berapa banyak dari kita yang langsung memenuhi panggilan Allah itu? Tuhan sering sekali kita nomor dua-puluh-tujuh-kan. Seolah kita bilang kepada Tuhan, “Maaf Tuhan, saya sedang sibuk. Shalatnya nanti saja, ya?”. Rasanya sangat menyedihkan kalau mengingat-ingat lagi kita masih sering menunda-nunda waktu sholat, padahal Allah tidak pernah sekalipun tidak memperhatikan umat-Nya. Allah sudah berikan banyak sekali nikmat, tapi mengapa untuk menghentikan kegiatan sejenak untuk sholat tepat waktu saja, kita masih tidak bisa?

Tuesday, July 1, 2014

Renungan Hari ke-4: The Miracle of Fasting

“Berpuasalah kalian, niscaya kalian sehat” (HR. Ibnu Al-Sunni dan Abu Nu’aim)

Mungkin kita belum pernah mau mempelajari kenapa berpuasa itu menyehatkan. Tidak hanya puasa saja, mengenai amalan-amalan lainnya kita juga sebenarnya masih belum memahami kenapa kita diperintahkan untuk melakukan sebuah amalan. Walaupun perintah Allah maupun sunnah Rasulullah itu pasti benar, tapi dengan kita lebih tahu tentang makna dan manfaat ibadah yang diperintahkan Allah kepada kita, Insya Allah akan semakin menguatkan dan memantapkan untuk menjalani ibadah tersebut.Sudah ada penelitian yang dilakukan umat manusia untuk membuktikan bahwa puasa itu menyehatkan fisik, psikis, sosial dan spiritual.

Day 10: Your Bestfriend

Di bangku SD, sahabat saya ada dua orang. Mereka adalah teman sekelas dan teman satu mobil jemputan. Kami bahkan tidak tahu apa itu sahabat....