Tuesday, November 12, 2013

Karena Jalannya Salah..


Mata semakin lelah menatap layar monitor. Tapi, ah dasar kepala ini tidak juga menyerah walaupun seluruh sel tubuhku merindukan hangatnya kasur di tempat tidur. Kepala ini masih saja mau terjaga, mau menulis sesuatu, katanya. Tapi, sayang beribu kata-kata tertahan didalam sana, padahal katanya mau menulis. Mana? Malah hanya bisa membuat kepalaku sesak dengan "apa yang harus kutulis sekarang?". Biarlah, setidaknya tulisan seperti apa yang kuhasilkan malam ini tidak akan berpengaruh apa-apa dengan kedamaian dunia, kesejahteraan masyarakat, atau apapun itulah yang menyangkut kepentingan hidup orang banyak. Sepertinya tidak apa-apa kalau saya memanjakan sedikit kemauan otakku yang pantang tidur sebelum ada tulisan baru di blog malam ini juga. Mengingat karena seharian ini saya memang terlalu menyiksanya bersama anggota tubuh lain dengan aktifitas hari ini. Ah, sok sibuk sekali saya ini. Padahal apa yang saya lakukan hari ini masih tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang mungkin orang lain lakukan setiap hari. Ah, sok sekali saya ini. Padahal apa yang saya lakukan hari ini boleh jadi lebih baik daripada tidak melakukan kesibukan apapun. Boleh jadi lebih baik daripada orang-orang bisanya mengeluh di social media, tebar energi negatif, hanya gara-gara hal sepele. Putus sama pacar, misalnya. 



Heran kali saya, kenapa masih ada yang pilih pacaran. Tahu kan pacaran itu kayak gimana? Sudah tahu pacaran itu lebih banyak galaunya, tidak pastinya, tidak jarang malah dapat yang gak cocok (ya kebanyakan karena memang belum kenal baik), yah macem-macem lah. Pasti kalian pada tahu semua. Padahal jodoh kita kan kita gak tahu siapa, lagi dimana. Kalau mau cari jodoh dengan pacaran, masa iya kita mau nyobain satu-satu pacaran sama orang sampai ketemu. Misalnya nih ya, pacaran kan awalnya karena sama-sama suka, terus mikirnya "jalanin aja dulu, siapa tahu jodoh", terus pacaran nih ceritanya, eh ternyata bukan jodoh karena banyaknya masalah-masalah yang timbul, bikin galau, karena akhirnya sudah tidak kuat hadepinnya, lalu putus. Udah tahu siklus putus cinta kan? Cek disini aja deh. Bagus kalau udah bisa langsung Move On, kalau gak? Nih cek disini cara move on. Siapa tahu ngaruh. Terus kalau sudah bisa move on, habis itu ketemu sama orang yang disuka lagi, kecantol lagi, kalau gak sadar sama yang lalu sih, dan emang bukan jodoh (lagi), sudah pasti endingnya sama juga, putus. Tapi, kadang memang manusia keras kepala, butuh berkali-kali salah untuk menjadi benar. Butuh berkali-kali bikin salah dulu baru ngeh "ooh iya yah apa yang saya lakukan ini salah". 

Emang sih jodoh itu ditangan Tuhan. Dua manusia yang ditakdirkan berjodoh itu, tetap berusaha buat saling "menjemput" satu sama lain. Berusaha. Usaha. Pasti ada yang mikir "pacaran itu juga usaha kok". Sekarang, gini deh. Tahu pacaran itu gimana hukumnya? Tahu kenapa hukumnya gitu kan? Saya gak perlu jelasin panjang lebar deh. Intinya, pokoknya jalannya salah (kalau ada yang bisa beneran jodoh, gapapa sih. Lain cerita itu. Tapi, yakin?). Jodoh itu layaknya rezeki. Kalau mau rezeki yang berkah, benar, aman dan halal dimakan sama anak-istri, yah gak mungkin kan nyari dengan cara korupsi? Kenapa? Karena jalannya salah. Sama aja dengan jodoh. Mau jodoh yang berkah, baik, dan (insya Allah) berpahala, masa iya dicari lewat pacaran? Gak kan? Kenapa? Karena jalannya salah. Tujuannya, dapat pasangan sih iya bisa dapat, tapi esensinya? Jauh dari tujuan sebenarnya. Kenapa? Karena jalannya salah.

Ibaratnya nih ya, kita mau ke kantor. Udah rapi nih, kece lagi. Terus ada dua jalan. Satu, jalan yang penuh dengan batu kerikil besar, kerang raksasa, duri beracun, angin badai, sama lalat tse-tse. Dua, jalan yang lurus mulus dan lapang. Seandainya, anggap saja jalan apapun itu, possibility kita sampai di kantor tetap 100%. Kalau pilih jalan satu, iya kita memang sampai di kantor, tapi pasti kemeja udah lecek, kotor, badan penuh luka tertusuk duri, rambut habis dimakan kerang raksasa. Esensi diri kita, misalnya pakaiannya yang rapi tadi, cacat. Bisa jadi hilang. Atau semangat untuk bisa kerja secara maksimal, langsung hilang (gila apa, habis dimakan kerang raksasa sih) Karena apa? Karena jalannya salah. Tentu ini akan lain dengan orang yang pilih jalan dua. Esensi kita, mulai dari luar, pakaian, sampai ke dalam, hati, semangat, misalnya, boleh jadi tetap ada. Karena apa? :)

Logikanya sih begitu. Tapi, namanya keputusan masing-masing manusia tetap milik manusia itu juga. Lagian siapa peduli dengan tulisan ini, apalagi ini hanya karena otakku memaksa untuk nulis sesuatu. Ini malah tulisannya jadi panjang lebar gini pula. Padahal ini tadinya mau nulis yang nyampah aja sih tapi malah jadinya kayak ini. Tapi, apakah namanya tetap nyampah kalau di blog sendiri? Ngawur.

No comments:

Post a Comment

Day 10: Your Bestfriend

Di bangku SD, sahabat saya ada dua orang. Mereka adalah teman sekelas dan teman satu mobil jemputan. Kami bahkan tidak tahu apa itu sahabat....