Friday, December 25, 2015

Bungkus atau Isi ?

Hidup akan sangat melelahkan, sia-sia dan menjemukan bila Anda hanya menguras pikiran untuk mengurus "bungkus" saja dan mengabaikan "isi".

Maka, bedakanlah apa itu "bungkus" dan apa itu "isi".

"Rumah indah" hanya bungkusnya,
"keluarga bahagia" itu isinya.

"Pesta pernikahan" hanya bungkusnya,
"cinta kasih, pengertian, dan tanggung jawab" itu isinya.

"Ranjang mewah" hanya bungkusnya
"tidur nyenyak" itu isinya.

"Kekayaan" itu hanya bungkusnya,
"hati yang gembira" itu isinya.

"Makan enak" hanya bungkusnya,
"gizi, energi, dan sehat" itu isinya.

"Kecantikan dan ketampanan" hanya bungkusnya, "kepribadian dan hati" itu isinya.

"Bicara" itu hanya bungkusnya, "kenyataan" itu isinya.

"Buku" hanya bungkusnya; "pengetahuan" itu isinya.

"Jabatan" hanya bungkusnya,
"pengabdian dan pelayanan" itu isinya.

"Pergi ke tempat ibadah" itu bungkusnya, "melakukan ajaran agama" itu isinya.

"Kharisma" hanya bungkusnya,
"karakter" itu isinya.

"Rejeki" itu hanya bungkusnya, "keberkahan" itu isinya.

Utamakanlah isinya, namun rawatlah bungkusnya.

Maaf, ini tulisan pertama di blog ini lagi setelah sekitar 6 bulan tidak menulis sama sekali. Entahlah, banyak sekali yang terjadi padahal hanya dalam beberapa bulan. Thanks for seorang kakak yang membagi tulisan ini kala saya mungkin terlihat kusut di kantor. Jangan lupa jaga kesehatan. Apalagi dengan cuaca seperti ini. Semoga yang sedang sakit, segera diangkat penyakit nya. Jangan lupa bahagia, apalagi dengan orang-orang tercinta. Hehe..

Sunday, June 21, 2015

Hati-Hati Dengan Selfie

Di suatu sore, saya sedang asyik menjadi silent-reader di chat room mbak-mbak, ibu-ibu, maupun para jomblowati di grup distributor. Maklum, kami 52 orang anggota terdiri dari berbagai macam lapisan umur. Ada yang masih muda, paling muda dari kami kelahiran 1995. Dan ada juga yang udah tuwek, alias sudah jadi ibuk-ibuk beranak satu. Tapi, rata-rata dari para emak muda ini memang menikah di umur yang relatif muda, sekitar 22-25 tahun. Tak jarang ketika mereka mulai bercerita tentang masa-masa indah penikahan mereka atau tentang pertumbuhan dan perkembangan balita mereka, membuat para jomblowati di grup itu iri dalam seketika. Termasuk saya. 

Pokoknya kalau notifikasi Line saya udah 999+ unread, ya udah itu pasti kerjaan emak-emak muda itu. Hahaha. Entah ada saja yang mereka bicarakan di grup dalam sehari. Tanpa saya pernah sekalipun dapati notifikasi line saya dibawah 50 unread messages saja. Plis..sekali saja. Entah sudah berapa banyak hape dari member grup itu yang sering hang gara-gara notif line suka masuk secara membabi buta, tidak teknologi-awi dan tak mengenal waktu. Hehehe..


Thanks to them. Alhasil, saya banyak belajar dari seringnya mereka berdiskusi. Saya jadi lebih tahu bermacam-macam hal, selain belajar jualan. Dan membuka fikiran sedikit demi sedikit, karena tahu apa yang sedang terjadi diluar sana disaat saya harus te-rauto-pilot dalam aktivitas yang sama selama hampir 10 jam, selama 5 hari dalam seminggu. Hingga hari ini, saya kembali tertarik dengan salah satu pembicaraan mereka. 

Catatan Ramadhan Hari Ini

"(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (untuk jihad) di jalan Allah. Mereka tidak dapat (berusaha) di bumi. Orang yang tidak tahu menyangka mereka adalah orang kaya karena mereka memelihara diri dari minta-minta. Engkau mengenali mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kalian nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui" (QS. Al Baqarah (2) : 273)

Beberapa hari yang lalu, seorang remaja tanggung mengingatkan saya kepada suatu hal yang ada kaitannya dengan potongan ayat yang di bold itu. Anak itu mengingatkan bahwa harta yang selama ini kita usahakan setiap harinya, semata-mata hanya dari Allah. Dan kita punya kewajiban untuk menyedekahkan sebagian lagi di jalan Allah. 

Wednesday, June 17, 2015

Ego Is Soul's Worst Enemy

Di dunia ini apa yang sama, selain dua orang saudara kembar? Selama ini, rasanya saya sendiri belum pernah menemukan seseorang, ciptaan Tuhan yang keduanya sama persis, kecuali itu buatan manusia. Tidak ada manusia yang sama. Yang ada hanya sejalan. Tiada pula manusia yang sama. Yang ada hanya selaras.

Manusia diciptakan berbeda-beda. Tuhan Maha Besar ketika kita melihat manusia-manusia dilahirkan berbeda. Baik secara fisik, karakter, latar belakang, dan lainnya. Tapi, somehow, kita masih bisa hidup beriringan. Sekali dua kali konflik masyarakat muncul tapi kerusakan itu tidak berakibat secara signifikan.  Walaupun, kerusakan ini bisa menjadi bom waktu berujung kehancuran.

Adalah ego. Salah satu hal yang manusia miliki dalam dirinya masing-masing. Sekaligus menjadi PR untuk kita mengendalikannya. Konflik masyarakat yang akhir-akhir ini muncul, bukan tidak mungkin itu semua bermula dari ego seorang manusia saja. Sangat disayangkan.

Tapi, mari kita berbicara tentang diri sendiri dulu. Apakah selama ini ego kita selalu menjadi pemicu konflik dengan orang lain? Apakah kita sering menuruti ego lantas menimbulkan kerugian untuk orang lain?

Menjalin hubungan dengan manusia lain adalah salah satu tuntutan hidup. Gak salah kalau manusia dianggap sebagai makhluk sosial. Ia tidak bisa hidup tanpa bantuan manusia lain. Apakah itu mudah?
Ada saja yang menjadi masalah dalam suatu hubungan. Masalah kerap kali muncul disaat hidup beriringan dengan orang lain. Baik itu kita dengan keluarga, sesama teman, rekan kerja, atau suami-istri. Maklum, mempertemukan dua orang berkarakter berbeda itu tidak gampang. Ini hanya soal cocok-mencocokkan saja, apakah mereka bisa selaras atau tidak.

Tiap kali saya punya masalah ego dengan orang lain. Pertanyaan semacam ini sering muncul dalam benak. "Apakah ini perlu?"

Apakah ego ini perlu diprioritaskan? Kalau iya, mengapa? Kalau tidak, mengapa? Apakah keinginan ini patut dijadikan prioritas kita? Apakah hal ini malah bisa merugikan lebih banyak orang lagi? Dan pertanyaan yang lebih penting: apakah ego ini jika dituruti, akibatnya akan sepadan dengan nilai hubungan ini?

Semakin mengenal banyak orang, saya semakin mengerti. Bahwa, terkadang ada ingin kita yang tidak bisa dipaksakan. Kita tidak selamanya menjadi anak remaja tanggung yang egoisnya bukan main. Kita perlu dewasa terhadap ego. Perlu mengerti bahwa pakai hati harus pakai akal juga. Karena hidup bukan soal "aku", tapi juga "dia" , lalu "mereka".

Bukan berarti kita harus mengubah jati diri, atau harus selalu mengalah. Tapi, ketika ego datang, coba fikirkan lagi.

Will it be more valuable than the value of your relationship?

Sunday, June 14, 2015

Lalu..

Setiap aku rasakan kedua kaki ku lelah bekerja di kantor. Berjalan kesana kemari. Mengurusi ini-itu. Bahkan, untuk beribadah rasanya berat sekali kedua kaki ini melangkah.

Lalu..
Hari ini aku melihat seorang tua berjalan dengan semangat menuju mesjid. Walau harus bersusah payah. Dengan tongkat penyangga. Untuk menopang tubuhnya. Menggantikan satu kaki yang tidak ia miliki.


Setiap aku rasakan rezki ku semakin hari semakin sedikit. Tagihan dan cicilan mengambil porsi lebih banyak dari seluruh gajiku. Belum lagi kebutuhan pribadi dan kebutuhan keluarga yang harus aku penuhi. Gajiku terasa sedikit dan tidak cukup.

Lalu..
Hari ini aku melihat seorang lusuh mengais-ngais tempat sampah. Mencoba mencari sesuatu yang berharga. Kemudian, ia temukan sebungkus roti sisa disana. Dan, ia makan.


Setiap aku merasa pekerjaanku semakin hari semakin banyak. Tekanannya dimana-mana. Semakin sulit saja aku menyelesaikannya saking banyaknya. Entah pekerjaan yang mana yang harus aku dahulukan. Pekerjaan ini kian menyiksaku.

Lalu..
Hari ini aku melihat seorang nenek sedang duduk di bawah jembatan, dengan tumpukan koran dipangkuannya. Lampu lalu lintas menunjukkan merah. Seluruh kendaraan berhenti. Ia berdiri, dan mulai menjajakan sisa korannya hari ini. Mencoba menawarkan barangkali ada dari mereka yang masih membutuhkan koran walau hari sudah malam begini. Terbayang keseharian nenek itu hari ini.


Setiap aku mengingat semua itu. Lalu, aku berfikir..

Setiap aku menatap diriku di cermin. Tidak ada kekurangan fisik. Normal. Tidak ada alat bantu. Atau setidaknya, aku tidak perlu menggunakan tongkat penyangga.

Setiap aku melihat isi dompetku. Ada beberapa lembar uang disana. Setidaknya, aku tidak perlu mengais di pinggir jalan hanya untuk sebungkus roti. Aku masih bisa makan dengan uang ini.

Setiap aku melihat tumpukan pekerjaan di meja kerjaku. Beberapa map seakan menunggu untuk diselesaikan. Setidaknya, aku tidak perlu berpanas ria diluar sana. Bekerja di jalanan dari pagi hingga malam hari. Pekerjaan ini menghasilkan jumlah cukup dan sebagai bonus, tempat kerjaku nyaman.

Akan selalu ada hal yang membuat kita mengeluh. Tanpa pernah berfikir, bahwa masih banyak orang diluar sana bernasib kurang beruntung dibandingkan kita. Betapa banyak nikmat yang diberikan, tapi tidak jarang kita lupakan. Manusia sering lupa. Kita sering salah.

Ketika kau rasakan seluruh dunia ini sulit dan sempit. Berhentilah sejenak dari melihat dirimu. Lihat sekelilingmu. Lihat ke bawah. Mungkin dengan begitu akan membuka matamu untuk melihat nikmat yang jauh lebih banyak dari yang kau keluhkan. Hidup akan jauh lebih bahagia ketika kita penuhi dengan bersyukur.

Wednesday, June 10, 2015

Aku Ingin Tua Bersamamu.

Aku ingin tua bersamamu
Menapak tahap kita dari terbawah
Menaiki setiap tangganya
Sedikit demi sedikit
Tapi, kita tahu akan menuju kemana

Saturday, June 6, 2015

Patah Hati..

Patah hati..
Dunia terasa buruk ketika segala sirna
Rasanya hanya ada satu perspektif disana.
Hanya ada satu pandangan. Satu rasa.
Kesakitan. Kebencian. Prahara.

Patah hati..
Apa yang mereka tidak mengerti adalah setelahnya.
Apa yang dibaliknya.
Apa yang patah hati ini coba jelaskan.
Sayang sekali, kebanyakan dari mereka tidak mengerti.

Patah hati..
Biarkan ia datang.
Biarkan sakit itu memenuhi udaramu hingga kau sesak.
Peluk ia dengan segala durinya
Terima dengan selapang-lapangnya dada.
Sungguh, itulah satu-satu cara mengobatinya.


Jatuh Cinta.

Jatuh cinta..
Panggil mereka gila karena tersenyum.
Tersenyum padamu.
Tersenyum pada kenangan yang sudah ia ukir.
Tersenyum pada hari baru. Karena akan ada satu hari lagi yang aku hadapi denganmu.

Jatuh cinta..
Apa yang salah dengannya?
Salahkah ketika ia membuat seseorang menjadi seorang pujangga?
Sebelumnya tak pernah sekalipun menulis puisi.
Dan..voila! Tiba-tiba dia menjadi seorang penulis hebat.
Sungguh tidak ada yang salah ketika kata-kata mengalun.
Hanya karena ia jatuh cinta.

Jatuh cinta..
Sebut saja mereka tolol.
Karena menghambakan sebagian hatinya kepadanya.
Membiarkan jantungnya berdebar cepat.
Menikmati setiap detaknya.
Menghela setiap nafasnya yang sesak .
Karena cinta sudah memenuhi udaranya.

Tapi, apa yang lebih indah saat jatuh cinta?
Mereka tidak pernah tahu sedalam apa cinta itu.
Tidak sampai ketika mereka hanya berdua dengan Tuhan.
Bercakap-cakap.
Dan ada namanya disana.

Saturday, May 23, 2015

Will He Still Love You In The Morning?

Mama saya pernah bilang, ada dua hal penting yang dibutuhkan sebuah pernikahan. Dua hal yang akan menjadi roda, mengarahkan akan dibawa kemana pernikahan itu akan dibawa. Menuju kebahagiaan atau kesengsaraan ditentukan dari kedua hal ini. Kalau salah satunya tidak terpenuhi, maka jangan harap pernikahan itu akan adem ayem saja, tanpa masalah. Adalah keuangan dan kesetiaan.

Untuk mereka yang masih belum menikah, perlu memerhatikan dua hal inti ini saja. Selebihnya, mungkin kita bisa memberikan sedikit toleransi. Agak longgar dengan berbagai macam perbedaan. Tapi, tidak dengan kedua hal ini. 

Sunday, May 17, 2015

Forgiven, But Not Forgotten

Menjadi pemaaf memang tidak mudah. Apalagi, jika kita harus memaafkan seseorang dengan kesalahan fatal untuk diri kita. Menyakiti hati kita. Yang akibatnya hanya penuh dengan hal-hal buruk untuk kehidupan kita. Tapi, bukan manusia namanya jika tidak pernah bersalah. 

Memang betul, waktu akan menyembuhkan. Tapi, sepertinya salah itu bukan untuk dilupakan. Forgive, but not forgotten. Memaafkan tapi tidak melupakan. Mengapa? Karena selain akibat buruk yang terjadi sebagai ampas dari kesalahan itu untuk diri kita. Kalau saja, kita melihat lebih jauh lagi. Memeriksa ke dalam diri, jauh lebih dalam lagi. Memikirkan kembali lebih matang lagi. Ternyata, ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari kesalahan orang-orang yang sudah mereka lakukan. Mari belajar dari kisah Rasulullah dan seorang pengemis tua berikut ini.

Tuesday, May 5, 2015

Pernikahan Bukan Sebuah Dongeng

Dan akhirnya, topik tulisan hari ini tentang pernikahan. Lagi-lagi soal cinta. Tulisan di blog ini juga sudah beberapa kali memaparkan opini saya perihal momen berharga dan sakral bagi masing-masing orang di dunia ini. Khususnya, para perempuan. Rasanya tidak habis dan tidak bosannya kita membicarakan ini. Apalagi, para perempuan biasanya semangat sekali jika ada forum percakapan membahas tentang hal ini dalam keseharian, di sela-sela kesibukan mungkin. Entah itu menjadi bahan gosip saat jam makan siang di kantor, atau sela-sela saat bertemu dengan ibu-ibu di teras rumah ketika sedang membeli sayur. 

Monday, May 4, 2015

"Selamat Ulang Tahun, Semoga..."

Sebelumnya, mau bilang terima kasih untuk umurnya. Untuk detiknya. Terlepas dari kenyataan bahwa hidup ini justru semakin pendek, bukan semakin panjang seperti yang tersebut dalam lirik Lagu Ulang Tahun "Panjang umurnya..panjang umurnya..panjang umurnya serta mulia..". Menilik lebih jauh, benarkah umur semakin panjang? Bukankah semakin dekat detik kita menuju umur akhir hidup yang telah ditentukan?

Sunday, May 3, 2015

Cerita Skoliosis Setelah Bertahun-Tahun Dilupakan

Lagi asik-asik bongkar dasbor blog, tiba-tiba gue terpaku melihat satu postingan blog tiga hari lalu milik seseorang. Blog itu milik Indi. Indi siapa? 

Umur dan Ide

Kemarin saya sempat menulis tentang sebuah pengingat yang terinspirasi dari sebuah caption di instagram. Isinya kurang lebih adalah dunia hanya main-main dan sementara, tempat singgah untuk ke tempat selanjutnya yang sifatnya lebih selamanya, dan lebih indah atau lebih menyakitkan. Bahwa meski dunia begitu menyilaukan, jangan menjadi alasan untuk mengeksklusifkan diri, buta dengan perubahan. Kita hanya perlu menentukan sikap atas dunia. Sebab, sikap itu akan menentukan apakah dunia akan menjadi amanah pangkal ladang pahala, atau fitnah berujung ladang dosa. Bahwa apa yang kita miliki di dunia ini hanya pinjaman. Tidak ada guna kita besarkan dan banggakan apalagi dicintai melebihi cinta kepada Yang Maha Memiliki. Dia bisa ambil kapan saja, dimana saja. (baca lagi: A Kind Reminder For Me Today)

Dan hari ini, saya sadar. Ada yang Dia sudah ambil tanpa saya sadari. Tanpa saya duga. 

Saturday, May 2, 2015

A Kind Reminder For Me Today

Banyak orang-orang di dunia ini yang mempunyai lebih banyak ilmu daripada kita sendiri. Ilmu dunia dan akhirat mumpuni, jauh diatas melebihi ilmu yang kita miliki. Tapi, sangat disayangkan jika semakin kita banyak tahu, semakin tinggi pula hati kita. Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Semakin bertambah ilmu, semakin sombong merasa diri kita yang paling benar. Paling beriman. Paling bersih. Awalnya, sifat sombong, ujub, dan riya' hanya sebesar biji zarrah. Sangat kecil. Lama kelamaan, semakin besar rasa itu. Bukankah ilmu itu seharusnya membuat kita waspada? Bukankah semakin banyak tahu seharusnya membuat kita semakin berhati-hati dalam melangkah? Bukankah berpengetahuan luas seharusnya membuat kita semakin rendah diri, membuat kita semakin kecil bahwa bumi dan langit beserta ilmu Allah itu sangat luas?

Thursday, April 23, 2015

Note For You.

Tidak ada hadiah terindah untuk seseorang yang berulang tahun selain doa..
Dari Ibunya.
Dari Ayahnya.
Dari Saudara-saudarinya.
Dari teman-temannya.
Dari orang-orang yang menyayanginya.
Maka, berbahagialah.
Dan tidak ada pemberian yang paling berharga untuk seseorang yang mengulang tahun selain..
Waktu dari Tuhannya.
Maka, manfaatkanlah.
Selamat ulang tahun..

Sunday, April 12, 2015

Nice To Meet You, Douglas.

Kebaikan dari hati akan sampai juga ke hati.

Kuawali hari ini dengan mengikuti sebuah seminar kemuslimahan di CCC. Awal yang baik untuk hari libur ini. Saya hanya berharap weekend ini akan produktif dan bermanfaat seperti ini. Cukup lama menunggu hingga acara dimulai membuat saya dan para peserta lain tidak beranjak dari tempat. Ribuan muslimah hadir ditempat ini. Muslimah dari berbagai kalangan dan usia. Mulai dari pelajar, mahasiswa, ibu-ibu paruh baya, sampai ibu-ibu tua renta juga turut hadir. Sempat juga saya lihat ada seorang ibu tua renta yang buta, tergopoh-gopoh berjalan sambil dituntun oleh para akhwat panitia penyelenggara. Masya Allah. Betapa bersemangatnya para muslimah untuk menimba ilmu disini. Dan saya yakin, mereka tidak hanya berdomisili di kota Makassar saja, tapi juga ada yang datang jauh-jauh dari daerah luar kota Makassar. 

Acara masih berlangsung hingga memasuki waktu dhuzur dan saat itu saya harus pulang ditengah-tengah materi.Karena saya harus ke optik di Mall Panakukkang untuk mengambil kacamata baru yang saya sudah pesan kemarin. Iya, kacamata minus saya rusak dan saya sangat membutuhkan itu secepat mungkin, Maka, mengalahlah saya hari ini demi sebuah kacamata. Sayang sekali. 

Singkat cerita, setelah selesai mengambil kacamata, saya pun bergegas pulang. Mumpung libur, rencananya saya mau menulis. Lumayan kalau waktu kosong begini dipakai buat menulis. Minimal bisa jadi satu tulisan. Itu fikir saya. Baru saja keluar dari parkiran Mall Panakukkang, baru beberapa meter dari pintu keluar, saya pun melihat pemandangan menarik. 

Saturday, April 11, 2015

Bukan Badai, Tapi Layarnya.

Kalau tidak bisa mengendalikan badai nya, 
Belajarlah kendalikan layarnya.

Kita tidak akan pernah bisa membuat seseorang berperilaku seperti yang kita mau.
Tidak akan pernah bisa membuat seseorang melakukan sesuatu yang kita minta, tanpa ada dari kemauan dia sendiri pula.
Dan kita tidak akan pernah bisa membuat seseorang menjadi sempurna, persis seperti yang kita mau.
Masing-masing kita punya jalan dan cara sendiri.

Ada banyak hal yang bisa dijadikan mimpi di dunia ini.
Dan setiap orang berhak memilih satu, jika dia mau.

Ada banyak hal yang membuat kita semua saling bersinggungan.
Ada banyak faktor yang bisa membuat kita semua saling mengecewakan.

Ketika semua tidak berjalan sesuai rencana, lantas tanya mengapa.
Lantas tanya apa yang salah lalu tanya siapa yang salah.
Tidak perlu repot mengurusi dan terlalu memikirkan badainya.
Fokuslah memikirkan kemudi dan layarnya.

Tidak perlu sulit memikirikan bagaimana mengendalikan situasi.
Fokuslah mengendalikan diri kita sendiri.

Tulisanmu adalah Cerminmu.

Monday, April 6, 2015

Rintik-rintik hujan..
Jatuh lugu dalam genangan.
Tenang bertemu tanah.
Walau ia tidak tahu, kapan akan bersua langit.

Kamu..
Kita..
Semoga tetap dipeluk-Nya dalam balutan iman.
Semoga tetap sederhana dalam waktu.
Walau kita tidak tahu, apa yang telah kita harapkan dari masa.

Peluk rasa sakitnya.
Resapi setiap durinya.
Hayati sakitnya.
Pahami bahwa melepaskan adalah tanda sejati untuk segala sesuatu yang baik.
Bahwa melepaskan artinya mengikhlaskan.
Bahwa melepaskan artinya paham kalau semua hal di dunia ini bukan milikmu.
Semoga dengan melepaskan, rasa perih itu sendiri yang akan melepaskan diri.

Sunday, March 22, 2015

Kapan Menulis?

"Non. Kamu kok bisa rutin menulis sih. Blog masih kamu update sampai sekarang. Kapan nulisnya?"

"Yaa disempat-sempatin aja. Hehe"

Teringat dengan sekilas percakapan dengan seorang teman beberapa hari yang lalu. Saya dan dia, mungkin juga teman-teman lainnya yang mengenal saya akan bertanya dengan pertanyaan sama. Dilihat dari keseharian, saya bekerja pada sebuah instansi yang mengharuskan saya bekerja 10 jam per hari, setiap hari Senin hingga Jumat, dari pagi sampai malam. Dengan beban kerja serta tuntutan harus selalu stand-by ditempat. Tidak jarang waktu kerja saya harus ditambah hingga malam karena tuntutan profesi ini. Mungkin mengalahkan satpam di kantor kalik ya, hehe. Lalu, kapan menulis?

Wednesday, March 18, 2015

Mereka Adalah Penjual Minyak Wangi

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Cerita kali ini adalah tentang sebuah komunitas yang baru saja saya bergabung beberapa bulan yang lalu. Komunitas ini berawal terbentuk dari sebuah brand online-shop khusus memasarkan produk hijab syar'i. Pasti udah pada tau kan, kalau saya adalah salah satu distributor baru brand ini (baca: Curhatan Seorang Distributor). Waktu pertama gabung, grup ini masih beranggotakan sekitar 15 orang akhwat keren dan hebat, berasal dari seluruh penjuru Indonesia. Malah beberapa dari kami, ada yang menetap di luar negeri. Seperti Jepang dan Taiwan. Mereka pulang ke Indonesia hanya sesekali dalam beberapa bulan. Tapi, dalam beberapa bulan kemudian, anggota grup ini sudah berjumlah 44 orang akhwat. Dengan komunikasi hanya melalui via chatting LINE. Thanks for technology that connects us around the world. Kebayang dong banyak dan rame nya grup ini kalau 44 orang ini lagi nimbrung di chat-room. Apalagi kalau lagi bahas produk jualan. Wahahaha..

Wednesday, March 11, 2015

8 Ayat Jawaban Untuk Malam Ini

Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?
Dan Kami telah menghilangkan dari padamu bebanmu.
Yang memberatkan punggungmu.
Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu.
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.
Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.

Sunday, March 8, 2015

Thursday, March 5, 2015

Maafkan.
Ikhlaskan.
Syukuri.

Alhamdulillah, untuk satu hari kehidupan yang berakhir lagi.

Sunday, March 1, 2015

Antara Pallubasa dan Kartu Kredit

Entah apa yang merasuki dan mendorong gue hari ini untuk bangun pagi-pagi dan memutuskan untuk jogging. Bukan jogging di sekitar rumah lagi, tapi di lapangan yang perjalanannya ke tengah kota lagi. Maklum, rumah gue lumayan jauh dan masih termasuk dalam lingkungan baru yang sedang berkembang. Belum ada apa-apa dan masih pure, murni dan asri seperti kampung sendiri. 

Thursday, February 26, 2015

Sebelum kita menguatkan orang lain, kita yang harus kuat dahulu.

Sebelum kita membuat orang berani, kita yang harus berani dahulu.

Menangislah. Sepanjang itu bisa menghilangkan ketakutanmu.

Menangislah. Sepanjang itu bisa menghilangkan kelemahanmu.

Monday, February 23, 2015

Apakah kau memerhatikan?
Ada sepasang mata jeli yang memerhatikan.
Melihat dengan alis berkerut.
Berharap ia bisa menjadi alasan bahagiamu.

Sunday, February 22, 2015

Cek Lagi

Ketika ada barang kesukaan kita hilang, rusak atau bahkan tidak bisa dipakai lagi.
Cek lagi, mungkin selama ini kita selalu melakukan hal yang sia-sia dengan barang itu. Tidak dimanfaatkan dengan hal bermanfaat.

Ketika ada harta, uang yang hilang, dicuri, atau bahkan kita tidak tahu sudah kita pakai apa uang itu. Rasanya rezeki berkurang untuk kita.
Cek lagi, mungkin selama ini kita terlalu boros beli ini-itu hingga lupa dengan sedekah dari harta itu.

Ketika ada suatu waktu tidak ada seorang teman yang menemani, kita sendirian. Padahal kita biasanya selalu sempat hang-out dengan mereka.
Cek lagi, mungkin kita terlalu sibuk dengan orang lain hingga lupa dengan yang utama. Lupa menyisihkan quality time dengan keluarga. Lupa quality time dengan Allah.

Ketika semuanya berjalan baik-baik saja, tiba-tiba kita mengalami kesulitan. Dijauhkan sejenak segalanya yang kita punya. Hati menjadi sangat demikian kesepian dan hampa. Kata-kata bahkan sulit melukiskannya.

Cek lagi, mungkin Allah hanya ingin ada kita dan Dia. 
Berdua saja.

"We Read to Know We Are Not Alone"- C.S Lewis

Buku-buku di atas meja belajar sudah mulai berdebu. Walaupun sampul dari sebagian buku-buku ini terjaga dan jarang ada yang lecek, apalagi sampai robek, tapi debu dikamar ini tetap saja selalu membuat semua buku ini kelihatan tidak terjaga. Makanya, tiap hari harus selalu saya bersihkan atau kalau mau praktis, saya tutupkan kain diatasnya biar tidak gampang berdebu. 

Friday, February 20, 2015

Pengen sekali-kali menulis cerpen disini. What do you think, guys? Hahaha. Maybe.





Semakin mencari, semakin hilang.
Semakin berharap, semakin kecewa.
Semakin berjalan jauh sendirian, semakin banyak jalan buntu yang ditemui.
Tidak terhitung sudah berapa kali berbalik arah dan terus mencari.
Tidak terhitung sudah berapa kali jatuh tertimpa harapan dan bangkit dari puing-puingnya.
Padahal hakikatnya adalah apa yang semu, semakin dicari maka ia akan semakin hilang.
Padahal apa yang fana, semakin digenggam, maka ia akan semakin terlepas.
Apa yang kita cari, dapatkan, dan pilih belum tentu yang terbaik.

Maka, lepaskanlah.
Lalu, biarkan Tuhan yang memilihkan.

Maka, perbaikilah.
Lalu, biarkan Tuhan menepati apa yang selalu Ia janjikan.

Maka, yakinlah.
Lalu, biarkan Tuhan yang membukakan jalan.

Karena..
Tuhan tidak pernah main-main dengan janjiNya.

Monday, February 16, 2015

Cerita DTU (Part 3)

Day 4-8 Minggu Materi

Melewati tiga hari pertama, yang konon katanya adalah tiga hari yang terberat selama DTU gak membuat kami lega. Tekanan dari instruksi demi instruksi dari pelatih tetap saja menghantui di hari keempat ini dan juga hari- hari selanjutnya. Pada hari ke 4 hingga hari ke 8 diisi dengan dengan beberapa materi selain latihan PBB (Pelajaran Baris Berbaris). Misalnya materi Penghormatan, TUS (Tata Upacara Sipil), ada juga satu sesi materi yang diisi oleh KPK, materi P3K, dan materi lainnya. Apakah di minggu materi ini kami lantas enak-enak di dalam ruangan ber-AC seperti saat diklat Prajab? Ckck..jangan coba-coba berfikir bakal enak-enak disini. *ngupil*

Sunday, February 15, 2015

Cerita DTU (Part 2)

Setelah menulis pengantarnya secara garis besar kegiatan ini seperti apa (baca: Cerita DTU (Part 1)), mari kita flash-back lagi. Apa yang gue dan 800-an orang lainnya lakukan selama DTU di Lido, Sukabumi pada tanggal 25 November - 5 Desember 2014 lalu.

Day H-1 Registrasi

Menginjak kaki di kota Jakarta bersama dengan 15 orang lainnya, bikin gue bisa secara pribadi merasa excited, karena gue bisa ketemu lagi dengan teman-teman sekelas yang unyu (hoeeeek..) semasa kuliah dulu. Tapi, sekaligus gue juga merasa mules  males. Mengingat lagi cerita-cerita pembantaian pada saat diklat dari para senior yang notabenenya sudah duluan mengikuti DTU ini. Menginjak kota Jakarta H-1 sebelum hari diklat, diawali dengan sibuk mengurus berkas untuk Registrasi dan akan dibawa ke KPDJP. Agak beruntung juga bisa berangkat penerbangan pagi, biar sampai ke Jakarta bisa agak siang. Apalagi batas waktu registrasi ini cuma sehari. Parno aja kalau telat kesana karena macet. Takut aja tersesat dan tak tahu arah jalan pulang gara-gara gak tahu jalan. Hiks.

Curhatan Seorang Distributor

Awalnya gue gak tau apakah gue ini benar-benar siap atau tidak untuk memulai usaha. Bukan usaha yang besar sih, tapi kecil-kecilan aja. Tapi, apa yang ada dalam fikiran gue sejak memutuskan untuk menyisihkan sebagian tabungan untuk ini adalah "kalau bukan sekarang, kapan lagi? Lo gak bakal tau kapan lo benar-benar siap sampai lo mulai". Itu saja yang ada dalam benak gue waktu itu. Toh, emang gue ada rencana untuk memulai sebuah usaha, sebagai sampingan kerjaan pegawai ini. Orang tua juga sudah lama banget menasihati untuk mencoba memulai usaha. Karena gue betul-betul sadar, ada banyak hal baik yang pengen gue lakukan dan itu semua gak akan pernah terwujud kalau gue gak punya banyak uang. Menabung dengan gaji pegawai mungkin akan butuh waktu yang lama sekali. Gue punya visi untuk orang lain diluar sana, yang gue tau, itu juga butuh modal. 

Saturday, February 7, 2015

Baca Ini Untuk Mengingatkanmu, Non

Terima kasih atas satu hari kehidupan lagi yang telah diberikan. Aku tahu, aku adalah orang yang selama ini banyak meminta. Dan kali ini, terima kasih atas kesempatan untuk sekedar mengucap syukur untuk semua yang telah terjadi dan juga yang akan terjadi.

Terima kasih untuk setiap nafas dari bangun dini hari hingga malam hari. Untuk setiap hening kala terbangun tepat di sepertiga malam. Untuk setiap waktu sunyi dalam satu malam, hanya sekedar berdiam. Merenung. Bahkan menangis. Hanya untuk mengeluarkan segala penat dan noda hati dihadapanMu. Hanya berdua denganMu. 

Terima kasih untuk setiap subuh khidmat setiap harinya. Jadi aku bisa mengawali hari dengan hal-hal positif lebih awal. Terima kasih untuk sarapan telur ceplok dan segelas susu coklat atau teh di setiap pagiku. Aku tahu, masih banyak orang lain yang belum beruntung diluar sana. Jangankan sarapan, bisa makan atau tidak hari ini saja, mereka belum tahu pasti. Mungkin juga pada malam harinya, mereka bahkan tidak tidur karena sibuk menahan lapar.

Monday, January 26, 2015

Kamu Gagal?

Allah selalu punya banyak cara untuk membuat sebuah pertemuan dan perpisahan.

Selalu ada makna terselip di balik sebuah kejadian indah dan suram.

Semua kejadian yang manusia alami selalu berawal dari sebuah pertemuan. Lalu, berlanjut terus, hingga waktu membuktikan sesuatu.

Sayang, kita selalu tidak pernah punya petunjuk, akan dengan siapa dan dimana kita menemukan sebuah pertemuan.

Orang bijak bilang, seseorang bisa hadir sebagai berkah..atau pelajaran. Perantara atas apa yang coba Allah ajarkan kita, bisa jadi melalui seseorang, dengan sebuah kejadian.

Tapi, dari semua kejadian itu, Allah hanya ingin ajarkan satu hal.

Keikhlasan. Bagaimana caranya memberikan terbaik hanya untuk Dia, setelah mendapatkan atau mengalami sesuatu.

Banyak manusia lupa akan itu. Termasuk saya. Mungkin juga Anda. Lupa kalau sesuatu itu bukan milik kita. Sehingga, kita memberikan segala usaha hanya untuk menggenggamnya.

Sayang, banyak juga yang lupa. Allah yang miliki segalanya. Dia bisa memberikan apapun, kapanpun kepada siapapun.

Tapi, Allah juga bisa mengambilnya, kapanpun dari siapapun.

Maka, ketika ada yang hilang. Ada yang pergi. Ada yang gagal. Mengapa terjadi?

Maka, tanyakan pada dirimu sendiri dulu. Siapa kamu sebenarnya hendak coba memiliki segalanya tapi tidak mencoba untuk memiliki Allah? Padahal Dia adalah Yang Maha Memiliki.

Menggenggam sesuatu tapi mulai melepaskan Allah, sama sekali bukan tindakan cerdas.

Semoga di kemudian hari, ego yang ingin memiliki semuanya tidak menguasai lagi. Apa yang terjadi, maka terjadilah.

Bukan sesuatu yang harus dilupakan dan disesali. Justru disyukuri. Karena melalui itu, Allah coba berbicara kepada kita dan ajarkan sesuatu.

Mungkin kamu gagal, karena hubunganmu dengan Allah sudah retak.

(Semoga tulisan ini menjadi pengingat untuk saya. Dan juga Anda yang membaca)

Friday, January 16, 2015

Cerita DTU (Part 1)

Mungkin sekitar sebulan lalu, saya mengikuti sebuah diklat yang diadakan oleh instansi tempat saya bekerja. As your information, diklat ini diikuti oleh sekitar 800-an orang, yang notabenenya adalah pegawai baru dan wajib mengikuti diklat ini. Awalnya gak kebayang aja gimana rasanya diklat dengan 800 orang selama 10 hari. Dengan aktivitas diklat yang gak biasa. Saya ceritakan sedikit kalau diklat ini memang basisnya adalah orientasi dan pembentukan karakter sebagai seorang abdi negara. Tapi, tahu kan yang namanya orientasi itu dimana-mana kayak gimana? Orientasi kampus, SMA, sampai udah jadi pegawai gini aja masih mesti di orientasi. Dilatih sama Kopassus pula. Bukan sama senior seperti yang ada di bayangan lo semua. Diklatnya di dekat gunung pula. Bukan di lapangan kampus lagi.

Guling-guling di atas rumput, tiarap bareng, doing push-ups, sit-ups, lari kayak orang gila. Kerjaannya ikutin instruksi pelatih dan jadwal dari panitia penyelenggara. Duduk diatas rumput, diguyur hujan terus kena sinar matahari lagi. Gitu terus bolak-balik. Cuacanya..

Wednesday, January 14, 2015

Seandainya Saja..

Seandainya saja perasaan kita tidak saling menyapa dari jarak sejauh ini,
Mungkin aku tidak perlu sesendu ini ketika hanya melihat langit yang sama dengan mu.

Seandainya saja pertemuan ini tidak begitu berarti.
Mungkin aku tidak perlu teringat melulu denganmu ketika hanya melihat hujan.

Seandainya saja aku sadar kalau aku pernah kalah melawan jarak dan waktu.
Mungkin aku tidak perlu menyisipkan sedikit tempat disini, di sebuah sudut dalam nirwanaku.

Begitu lucu ketika sebuah pertemuan diantara banyak pertemuan menjadi begitu sangat membekas. Sebab pada kenyataannya, kita selalu bertemu dengan orang lain. 

Awalnya tidak saling menyapa.
Tapi lama-lama bukan sekedar kita lagi yang berbincang.

Tapi, tidak denganku. Dan tidak pula denganmu. Kita berdua tahu. 
Pertemuan itu adalah awal. Entah kemana itu akan membawa kita.

Biarkan saja perasaan ini menggenggam dirinya sendiri, dalam senyap.
Disaat jemariku belum bisa tertaut dengan jemarimu.

Biarkan saja kata-kata ini mengantarkan rindu menujumu.
Disaat lisanku belum bisa berbisik sayang di telingamu.

Biarkan saja doa ini melindungimu dari sini.
Disaat lenganku belum bisa melingkar hangat membalas dekapanmu.

Biarkan waktu dan jarak ini mengiringi.
Hingga kita siap turut menggenggamnya.

Biarkan saja Tuhan yang tahu.
Siapa nama yang selalu aku biarkan melangit menuju-Nya.

Saturday, January 10, 2015

A Very Strong and Deep Line With Someone.

"Kalau suka, kenapa galau? Bukannya senang?"

"Setiap rasa punya resikonya.

Setiap hubungan ada masalahnya masing-masing.

Kita yang menentukan akan tetap tinggal..

..atau tidak"

Friday, January 2, 2015

Sebuah Keluarga

Sungguh senang dan tenang rasanya melihat sebuah keluarga kecil saling mendukung satu sama lain. Sekalipun anak-anaknya yang masih kecil. Bahkan berbicara saja masih belum bisa. Bahkan, yang kemana-mana masih pakai pempers. 

Bagaimana bisa tahu? Iya, sebuah keluarga itu saling mendukung satu sama lain akan terlihat dari luar. Ketika tidak ada yang melihat. Sore ini, aku terdiam sejenak, terduduk sambil sedikit tersenyum. Salah satu pegawai keluar dengan sedikit tergopoh-gopoh sambil menggendong seorang balita perempuan yang umurnya belum genap setahun. Berhati-hati agar ia tidak terpeleset. Maklum, seharian ini kota ku diguyur hujan deras. Dengan erat ia memeluk tubuh anaknya. Kerudung lebar warna hijau tuanya berkibar pelan ditiup angin sore. Kasih sayang ibu itu terpancar. Jika saja semua orang bisa melihatnya.

Anak yang ada di gendongan sang Ibu hanya mengerjapkan mata bulatnya. Cantik. Apalagi dengan baju berwarna merah muda. Kulitnya putih bersih. Suci, tanpa dosa dan kesedihan terlihat di wajahnya. Anak ini tidak rewel. Pintar seperti Ibunya mungkin. Makanya, ia tidak mudah menangis. Dia bisa saja mengerti bahwa Ibunya ini sedang bersusah payah menggendongnya kemana-mana. Apalagi jalanan sedang licin. 

Disamping sang Ibu, ada laki-laki tinggi turut berjalan beriringan. Itu jelas sekali adalah sang Suami. Sang Bapak. Sama berhati-hatinya seperti sang Istri, dia berjalan hati-hati dengan sebuah tas tergantung di lengannya. Berat pasti. Mungkin berisi peralatan si Bayi Perempuan tadi. Dengan sabar dan tanpa merengut- sekali lagi terlihat di wajahnya. Tulisan ini memang hasil visual penglihatan saya sih- memayungi si Istri dan si Bayi. Batiknya basah terkena hujan. Lebih baik ia yang basah daripada mereka. Belum lagi ada anak kecil lainnya, sekitar umur 4 tahun, bergelayut manja di gendongannya. Menambah beban berat lengan kokohnya.

Tapi, tidak pernah ada beban jika itu untuk keluarga. Tidak pernah ada yang merasa disulitkan ketika untuk keluarga. Saling mendukung satu sama lain. Saling menghargai. Begitu seharusnya sebuah keluarga. Sebuah pemandangan sederhana nan mengharukan dari sebuah keluarga kecil sore ini kembali mengingatkan saya tentang itu. Membuat hangat siapa saja yang melihatnya. Andai saja kalian bisa melihatnya juga.

Setelah semua ini, muncul pertanyaan baru: Kapan saya bisa punya keluarga kecil saya sendiri, seperti itu? 

Entahlah. Tuhan yang tahu.

Day 10: Your Bestfriend

Di bangku SD, sahabat saya ada dua orang. Mereka adalah teman sekelas dan teman satu mobil jemputan. Kami bahkan tidak tahu apa itu sahabat....