Sunday, May 17, 2015

Forgiven, But Not Forgotten

Menjadi pemaaf memang tidak mudah. Apalagi, jika kita harus memaafkan seseorang dengan kesalahan fatal untuk diri kita. Menyakiti hati kita. Yang akibatnya hanya penuh dengan hal-hal buruk untuk kehidupan kita. Tapi, bukan manusia namanya jika tidak pernah bersalah. 

Memang betul, waktu akan menyembuhkan. Tapi, sepertinya salah itu bukan untuk dilupakan. Forgive, but not forgotten. Memaafkan tapi tidak melupakan. Mengapa? Karena selain akibat buruk yang terjadi sebagai ampas dari kesalahan itu untuk diri kita. Kalau saja, kita melihat lebih jauh lagi. Memeriksa ke dalam diri, jauh lebih dalam lagi. Memikirkan kembali lebih matang lagi. Ternyata, ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari kesalahan orang-orang yang sudah mereka lakukan. Mari belajar dari kisah Rasulullah dan seorang pengemis tua berikut ini.


Alkisah, di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, “Jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya.” 
Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah saw mendatanginya dengan membawakan makanan. Tanpa berucap sepatah kata pun, Rasulullah menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu, sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah Muhammad—orang yang selalu ia caci maki dan sumpah serapahi. 
Rasulullah saw melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat. 
Setelah wafatnya Rasulullah saw praktis tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. 
Suatu hari Abubakar berkunjung ke rumah anaknya Aisyah, yan g tidak lain tidak bukan merupakan istri Rasulullah. Ia bertanya kepada anaknya itu, “Anakku, adakah kebiasaan Rasulullah yang belum aku kerjakan?” 
Aisyah menjawab, “Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja.” 
“Apakah Itu?” tanya Abubakar penasaran. Ia kaget juga karena merasa sudah mengetahui bagaimana kebiasaan Rasulullah semasa hidupnya. 
“Setiap pagi Rasulullah selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada di sana,” kata Aisyah. 
Keesokan harinya Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abubakar mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abubakar mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil menghardik, “Siapakah kamu ?” 
Abubakar menjawab, “Aku orang yang biasa.” 
“Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku,” bantah si pengemis buta itu dengan ketus “Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut setelah itu ia berikan padaku.” 
Abubakar tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, “Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya. Orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah shallallahu alaihi wassalam.” 
Seketika itu juga kaget pengemis itu. Ia pun menangis mendengar penjelasan Abubakar, dan kemudian berkata, “Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun. Ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia…. ” Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar saat itu juga dan sejak hari itu menjadi Muslim.

Walaupun, pengemis tua itu senantiasa hanya memberikan celaan dan hinaan, Rasulullah tidak membalas. Beliau malah menghujani orang yang menghinanya itu dengan kebaikan yang bahkan tidak pernah diketahui oleh pengemis tersebut. Tanpa merasa perlu mendapatkan timbal balik. Gimana gak terenyuh?

Memang sulit ketika ada seseorang berbuat zalim, lantas kita tidak berbuat apa-apa. Rasanya selalu ada saja keinginan untuk membalas yang lebih keji dan lebih buruk kepada dia. Mungkin tanpa sadar kita malah berdoa yang jelek-jelek tentang dia. Tapi, apa daya, apa yang sudah terjadi maka terjadilah. Bisa jadi hal itu disebabkan karena kekhilafan kita juga. Kita tidak bisa merubah lagi waktu yang sudah berlalu.

"Tapi, kan bukan berarti dia berhak berbuat seperti keji seperti itu kepada dirimu," sebuah suara mencoba mendebat saya.

Iya, memang benar. Dia salah. Dia berbuat keji. Bagaimanapun dia sama sekali tidak berhak. Tapi, apa merupakan kewajiban kita juga untuk membalas? Apa kuasa kita untuk memberikan balasan atas apa yang ia perbuat? Gak ada, kan? Kalau kita berbuat sama seperti apa yang ia lakukan, maka apa bedanya dirimu dengan dirinya? 

Belajar dari kisah tadi, menjadi pemaaf bukan hal mudah. Manusia semulia Rasulullah saja memutuskan untuk memaafkan si pengemis tua tadi, bahkan berbuat baik. Lalu, apakah kita sudah menjadi sedemikian sombong dan lebih mulia untuk tidak bersikap pemaaf seperti itu? Perlu dilatih dan dibiasakan agar dendam tidak dibuat menumpuk di dalam diri. Tidak mudah memang menjadi jiwa yang besar, karena balasannya juga bukan hal sepele, tapi surga. 

Setiap perbuatan punya hikmahnya sendiri. Baik atau buruk, masing-masing ada balasannya. Dan bukan kewajiban dan hak kita untuk menghakimi, atau membalas. Allah punya hak prerogatif untuk itu. Karena Dia lebih mengetahui dan lebih adil daripada hambaNya yang salah. Tugas kita hanya memaafkan, mensyukuri, dan mempelajari lembar kehidupan yang bermasalah itu.

Maafkan ia yang bersalah. Syukuri kalau dia pernah hadir. Setidaknya kau akan tahu, kalau dirimu tidak akan menyakiti manusia lain dengan hal sama. Belajar untuk memeriksa diri. Kita banyak kurang, begitupun juga manusia lainnya. Tapi, kita tidak perlu menjadi dia. Dia baik, kita bisa berbuat lebih baik lagi. Dia jahat, kita tetap bersabar dan berbuat baik terhadap dia. Mungkin itu lebih menenangkan.


No comments:

Post a Comment

Day 10: Your Bestfriend

Di bangku SD, sahabat saya ada dua orang. Mereka adalah teman sekelas dan teman satu mobil jemputan. Kami bahkan tidak tahu apa itu sahabat....