Tuesday, July 28, 2020

Grey's Anatomy

Di #SelasaBacaNonton kali ini, saya akan mencoba menulis ulasan tentang serial TV yang ditayangkan di US yaitu Grey's Anatomy. 



Konon, Grey's Anatomy adalah serial TV yang berbasis medical, yang running paling lama dibandingkan dengan serial TV dengan basis cerita yang sama. Sebut saja misalnya The Good Doctor yang dibintangi oleh Freddie Highmore yang hanya bertahan selama 3 season saja. 

Grey's Anatomy adalah salah satu american series TV yang ditulis oleh Shonda Rhimes yang telah running dari tahun 2005 hingga sekarang dengan menayangkan 16 season. Dan kabarnya series ini masih on going berlanjut ke season 17. Series ini bergenre drama dengan menempatkan Meredith Grey yang diperankan oleh Ellen Pompeo, sebagai tokoh utama. 

Adalah seorang wanita yang pada awal mula ceritanya adalah seorang dokter yang mengambil program internship di sebuah rumah sakit bernama Seattle Grace Hospital. Kalau dalam lingkungan kerja di rumah sakit, internship itu mungkin sama aja kayak fresh graduate alias anak magang. Lapisan terbawah dari sebuah "rantai makanan" di lingkungan pekerjaan (haha..). Cerita series ini bermula dari masa-masa awal Meredith Grey meniti karir nya sebagai seorang dokter.


Seiring dengan titian jejaknya dalam menjalani karir sebagai seorang dokter, Grey (dan juga tokoh-tokoh yang berada dalam sekitar Grey) menghadapi banyak sekali kasus-kasus medis yang langka dan way far beyond the imagination (tapi tetap menarik) untuk orang awam seperti saya, yang tidak pernah mengenal dunia medis, Saking langka nya, bahkan saya yang saat nonton series ini untuk pertama kalinya sering bertanya-tanya sendiri "masa sih ada orang sakitnya kayak ini-itu?" wkwk. Tapi, hey who am i to judge? Kali aja memang di dunia medis ada beberapa kasus di series ini yang betul terjadi di kehidupan nyata. Yang penting kan bagus, tugas saya cuma nonton. Hahaha..

Selain menghadapi kasus-kasus medis, bumbu-bumbu drama turut mengambil peran dalam plot di tiap episodenya, juga menjadi poin penting dalam series ini. Tidak jarang kasus-kasus medis ini dibuat seakan berkaitan, baik langsung maupun tidak langsung, dengan unsur drama nya. Drama percintaan, keluarga, pertemanan, serta isu-isu besar seperti faith, mental illness, gender equality, hingga LGBTQ, tidak lepas dari kehidupan para tokoh, baik tokoh-tokoh dokternya atau pasiennya, disetiap episode Grey's Anatomy. 

Yang menjadi daya tarik untuk tetap menonton series ini, banyak sih, saya bahkan sampai 2 kali menghabiskan 16 seasonnya , kayaknya tuh saya enggan sekali mencoba nonton series lain. Apalagi di era pandemi ini, di rumah aja, orang-orang udah pada nonton series ini-itu, tapi di saya, gak. Kayaknya belum tertarik untuk berpindah ke series lain. Haha.. Tapi, kenapa sih gak mau coba pindah ke series lain?

Pertama, karena drama nya. Itu sumpah ya si Shonda Rhimes ini, sang dalang nya, jago banget mempermainkan perasaan penontonnya. Layaknya menaiki roller coaster, perasaan penonton dibuat campur aduk tidak karuan di setiap seasonnya. Sometimes I really think Shonda is an evil, saking kadang bencinya gue dengan twist yang dia buat pada beberapa episodenya. Benci tapi penasaran tapi suka ya kayak gitu lah. Hahaha..

ini dalangnya, wkwk

Tiap episode selalu saya bisa nikmati dengan perasaan "fresh" karena konflik yang terjadi antar tokoh, antara satu dan yang lainnya, beragam. Dan tidak berputar disekitar tokoh-tokoh itu saja layaknya sinentron indonesia yang masalah nya itu-itu mulu dah ga selesai sampai tamat. Setiap konflik yang  dibalut dengan naskah yang bukan kaleng-kaleng, membuat konflik yang terjadi menjadi berarti bukan hanya untuk 'perpanjangan' cerita tapi karena selalu ada nilai yang bisa kita cerna dan dapat diambil hikmahnya. 

Yang menarik adalah gak ada tokoh antagonis dan protagonis. Kadang ada episode dimana Meredith menjadi 'blunder' atau egois misalnya mengambil keputusan yang salah, sehingga menjadikan dia 'jahat', begitu juga yang terjadi pada tokoh lainnya. Dan menurutku, dengan pengelompokkan karakter yang abu-abu seperti ini, maka benar dan salah tidak berlaku di tiap konfliknya. Tidak sedikit yang relevan dengan kehidupan sehari-hari  Semua tergantung pada bagaimana penonton menilai. Walaupun tidak terlepas dari tokoh Meredith Grey, tokoh yang ada dalam series ini juga berganti-ganti. Karena plot dalam series ini berjalan dinamis. 


Aktor dan aktris yang memerankan dalam series ini juga ganteng dan cakep banget. Eh gak banget juga sih, tapi lebih ke dreamy, gak berlebihan mendekati sempurna macam aktor di series korea. Ellen Pompeo selaku aktris yang memerankan Meredith Grey, memiliki pesona tersendiri yang dipancarkan melalui aktingnya yang ciamik. Act di tiap scene tidak diperankan secara lebay, misalnya ada adegan tertabrak mobil lalu amnesia (haha..), gak itu gak ada ya. Setiap scene diperankan secara cukup, natural, tidak cringe dan enjoyable.

Menurutku, kekurangan dari Grey’s Anatomy ini hampir tidak ada hingga pada ditayangkan season 12 sampai season 16. Mungkin saking lamanya series ini berjalan, Shonda Rhimes seperti mulai kehilangan magis dalam menulis cerita Grey di empat season terakhir ini. Tetap enjoyable, tapi sedikit lebay dan mulai kurang logis. Apalagi kasus-kasus medis yang awalnya menjadi daya tariknya untuk saya tetap bertahan menonton series ini, mulai berkurang porsinya dan lebih banyak menempatkan fokus cerita pada drama-dramanya. Itupun tetap kurang berkesan karena ceritanya mulai dipaksakan. Tapi, balik lagi ke selera masing-masing ya. Karena kalau di akun-akun fanbase series ini banyak banget opini yang berbeda.

Tokoh Grey mulai too good to be true, dan ini biasanya yang bikin saya ilfil, baik ketika menonton sebuah film/series atau membaca sebuah buku. Tokoh Grey juga mulai kehilangan powernya untuk menjadi titik pusat dalam series ini. Jadinya tuh plotnya meluber kemana-mana, bentar-bentar ini masalahnya tentang apa gitu kadang ga jelas. Dan itu semua membuat judul “Grey’s Anatomy” kurang relevan lagi. Maybe it’s time to end it, Shonda.

Season favorit saya adalah season 10. Kedinamisan plot pada season 1 sampai season 10 berbeda pada saat season 11 hingga 16.  Di season 10, karakter tokoh-tokohnya mulai berkembang seiring dengan berbagai konflik yang ia hadapi. Satu-persatu tokoh meninggalkan series ini dan digantikan dengan tokoh-tokoh baru. Tragic, menjadi pilihan kata yang pas untuk mendeskripsikan kehidupan mereka di sepuluh season tersebut. Khususnya, Grey. Kayak ampun dah masalahnya Grey, kalau gue mending menyerah dan mati aja. Hahaha.. Tapi justru itulah yang membuat karakter Grey menjadi semakin berkembang dan terasa sekali perbedaannya pada saat episode pertama. 

Overall, Grey's Anatomy ini boleh lah kalau dijadikan bahan untuk tontonan marathon di era pandemi ini. Buat yang suka dengan drama, series ini bisa menjadi alternatif untuk mengisi waktu luang. Semoga Season 17 nanti vibenya tidak sama dengan season 16. And please, segeralah tamat :)

No comments:

Post a Comment

Day 10: Your Bestfriend

Di bangku SD, sahabat saya ada dua orang. Mereka adalah teman sekelas dan teman satu mobil jemputan. Kami bahkan tidak tahu apa itu sahabat....