Wednesday, June 8, 2016

Surat Kedua

Assalamualaikum, nak.

Sore-sore gini enaknya makan yang manis- manis ya? Pantesan mama pulang belum sampai rumah udah nagih makan lagi. Baru dua jam setelah makan siang lho ini.

Lapar ya? Sama mama juga. Mama sampai pusing tujuh keliling kalau lagi lapar. Apalagi kamu yang didalem ya nak? Pasti pusing juga, kok mama nya gak ngunyah lagi.

Iya, kamu sudah mulai masuk ke fase tiap-dua-jam-mesti-minta-makan. Sabar ya. Mama lagi tunggu pisang goreng coklat keju favorit mama. Semoga kamu suka. Alias gak dimuntahin. Habis makan, mama jangan dibikin muntah ya? Kamu makan ya?

Makan ya biar bagus pertumbuhannya. Papa pengen banget liat kamu tuh udah ada tangannya. Kakinya. Kepalanya. Kalau mama, lihat jantung kamu berkedap-kedip di layar USG aja, senangnya udah gak ketulungan. Hehe..

Sabtu ini kita check up lagi ya. Kita ketemu lagi.

Love,
Calon Mamanya Kakak

Tuesday, May 31, 2016

Surat Pertama

30 Mei 2016

Hai, sayang. Sebenarnya masih bingung bakal mau panggil apa ke kamu. Kayaknya calon mama dan papa kamu bakal geli sendiri kalau pakai sayang. Hahaha. Hmm..panggil Kakak aja, boleh? Kamu kan anak pertama. Bakal jadi anak sulung, kakak dari adik-adikmu nanti. Insya Allah ya, nak. 

Kamu, tepat hari minggu tanggal 29 Mei 2016, usia kehamilan mama yang isinya kamu, umurnya sudah 8 minggu lho. Kalau mama baca-baca, kamu masih sebesar kacang merah. Masih kecil banget. Tapi, mama sudah bisa lihat detak jantung kamu waktu USG terakhir di minggu ke 7 lebih 5 hari. Denyut nya lebih cepat dari jantung mama. Dua kali lebih cepat. Kenapa? Deg deg an ya? Sama mama juga. Hehehe.. Senang nya waktu lihat denyut jantung kamu didalam sana. Apalagi dokter bilang kamu sehat disana. Alhamdulillah. You are going to be a sweet little baby.

Sehat-sehat didalam sana ya, nak. Walaupun mama akan lewatin 3 bulan ini dengan mual yang masih rajin-rajin nya, kamu tenang aja. Nanti mama usahakan makan terus pokoknya biar kamu bisa makan juga di dalam sana. We will see you soon at the next check-up, yaaa :)


Love,
Calon Mama nya Kakak

Calon Mama nya Kakak.

Now, i know the struggle of pregnant moms. Because i finally am a mom-to-be. Calon Mama nya Kakak. Gue panggil Kakak aja, soalnya lucu aja. Mau panggil "sayang" tapi kayaknya gue geli sendiri. Hahaha.


Alhamdulillah. Gak bisa digambarkan rasa bersyukurnya saat ini. Jujur aja, ini adalah salah satu kekhawatiran gue sebelum menikah. "Kapan gue bisa punya anak?" Dan Tuhan mengusir segala khawatir gue dulu dengan mengirimkan kehidupan di dalam rahim gue sendiri. Yang bakal jadi pelipur lara keluarga kami jika ia lahir. Yang bakal meneruskan amal jariyah. Mendoakan kami, orangtuanya, di dunia dan akhirat. Insya Allah, kalau dia sehat sampai lahir. Lahir dengan sehat, lengkap dan selamat. Insya Allah. Aamiin..


Thursday, May 26, 2016

1 Bulan

Hai. Ketemu lagi. Akhirnya, bisa nulis di blog ini lagi. Setelah bulan lalu yang lagi "chaos" nya. Bikin jungkir balik. Rasa campur aduk. Bahagia, terharu, sedih, stress, capek, tapi semuanya terbayar setelah akhirnya gue melihat jawaban atas doa gue selama ini, duduk bersanding di pelaminan. Tepat disamping gue. Bukan yang sedang salaman bareng tamu lain. 

Kira-kira sebelum lamaran terjadi, gue bener-bener minta ke Tuhan. Kalau lelaki ini baik untuk gue, dekatkan dan mudahkan urusan kami berdua. Tapi, kalau gak baik, tolong buang aja dia ke laut. Setelah lamaran pun, gue tetap menjerit dalam hati dengan doa yang sama. Semakin dekat, semakin berdoa. Alhamdulillah. Tepat tanggal 9 April 2016, si Mas, yang suka ngelarang aku makan junk food itu lhoooo, resmi secara agama dan hukum jadi suami gue *eheumm* dan gue selalu amazed dengan cara Tuhan mempertemukan dua orang yang asing, lalu kemudian dua orang ini mean the entire world for each other. 

Sunday, April 3, 2016

Hari-Hari Menjelang..

Selamat pagi! Ditulis langsung dari sebuah kamar berukuran..mm..gak tau berapa kali berapa meter. But, who cares anyway? Pukul 09.00 dan saya belum sarapan. Semakin dekat menjelang hari H, nafsu makan kadang menjadi sangat tidak terkendali. Maksudnya, kadang tidak terkendali malas makan nya, tapi kadang rakus nya juga tidak bisa dikendalikan. That's a problem for the most of girls, guys. Our appetite. 



Sunday, March 13, 2016

Hadir di Pernikahan Temanmu.

Tepat seminggu yang lalu, satu lagi teman melepas masa lajangnya. Yang awalnya hanya memiliki setengah, sekarang menjadi satu. Apanya? Agamanya. Menikah berarti memenuhi separuh taqwa nya. Terlepas siapapun ia, siapa keluarganya, darimana asalnya, apa agamanya; menikah adalah sesuatu yang sakral, lagi suci, antara manusia dan Tuhan. Karena itu dilaksanakan tidak main-main apalagi sambil bercanda. Dilaksanakan seakan-akan dihadapan Tuhan, padahal kita selalu berada dalam penglihatanNya. 

Hmm..apa ya? Lagi bingung. Gak tau mau bilang apa, tapi pengen banget nulis sekarang juga. Cuma lagi capek aja sih. Lagi ribet juga. Tapi, panggilan alam tetaplah panggilan. Lari nya ke toilet laptop. Entahlah. Lagi males mikir juga. Grr..


Saturday, March 12, 2016

This I Promise You (N'sync)

When the visions around you,
Bring tears to your eyes
And all that surround you,
Are secrets and lies
I'll be your strength,
I'll give you hope,

Keeping your faith when it's gone
The one you should call,
Was standing here all along..

And I will take
You in my arms

And hold you right where you belong
Till the day my life is through
This I promise you
This I promise you

I've loved you forever,
In lifetimes before
And I promise you never...
Will you hurt anymore
I give you my word
I give you my heart (give you my heart)
This is a battle we've won
And with this vow,
Forever has now begun...

Just close your eyes (close your eyes)
Each loving day (each loving day)
I know this feeling won't go away (no..)
Till the day my life is through
This I promise you..
This I promise you..

Over and over I fall (over and over I fall)
When I hear you call
Without you in my life baby
I just wouldn't be living at all...

And I will take (I will take you in my arms)
You in my arms
And hold you right where you belong (right where you belong)
Till the day my life is through
This I promise you baby

Just close your eyes
Each loving day (each loving day)
I know this feeling won't go away (no..)
Every word I say is true
This I promise you

Every word I say is true
This I promise you

Ooh, I promise you...

I Knew I Loved You (Savage Garden)

Maybe it's intuition
But some things you just don't question
Like in your eyes
I see my future in an instant and there it goes
I think I've found my best friend
I know that it might sound more than a little crazy 
But I believe

I knew I loved you before I met you
I think I dreamed you into life
I knew I loved you before I met you
I have been waiting all my life

There's just no rhyme or reason
Only this sense of completion
And in your eyes,
I see the missing pieces
I'm searching for
I think I found my way home
I know that it might sound more than a little crazy 
But I believe

A thousand angels dance around you
I am complete now that I found you

Truly, Madly, Deeply (Savage Garden)

I'll be your dream
I'll be your wish, I'll be your fantasy
I'll be your hope, I'll be your love
Be everything that you need
I'll love you more with every breath
Truly, madly, deeply do

I will be strong
I will be faithful
'cause I'm counting on
A new beginning

A reason for living
A deeper meaning, yeah

I want to stand with you on a mountain
I want to bathe with you in the sea
I want to lay like this forever
Until the sky falls down on me

And when the stars are shining brightly in the velvet sky,
I'll make a wish send it to heaven
Then make you want to cry
The tears of joy for all the pleasure and the certainty

That we're surrounded by the comfort and protection of
The highest powers
In lonely hours
The tears devour you

Oh can you see it baby?
You don't have to close your eyes
'Cause it's standing right before you

All that you need will surely come

I'll be your dream I'll be your wish
I'll be your fantasy
I'll be your hope I'll be your love
Be everything that you need
I'll love you more with every breath
Truly, madly, deeply do

I want to stand with you on a
mountain
I want to bathe with you in the sea
I want to live like this forever
Until the sky falls down on me

Saturday, February 20, 2016

Finding The Right Man.

Finding the right man is like..

Semua orang bisa terlihat salah.
Walaupun orang lain lebih sempurna adanya, tapi dengan ia yang tidak sempurna membuat semuanya tetap terasa benar.

Kamu akan tahu, mengalah bukan berarti kalah.
Ia bukan manusia sempurna. Hanya lelaki biasa dengan segala salah dan khilaf nya. Ketika ia berada di hadapanmu, kamu akan tahu bahwa ego mu tidak harus selalu menang.

You will always listening.
Kamu mungkin orang yang keras kepala. Sulit mendengar orang lain. Everyone's theories sounds like a bull. Everyone seems like a smartass. Ketika menemukan orang yang benar, kamu akan mau mendengar setiap kata, setiap hela nafasnya.

Finding the right man..

Kamu akan tahu siapa orang itu.

Mungkin tidak sekarang.
Tapi, nanti.
Perlahan.
Cinta hanya pintu.
Tapi, keyakinan butuh jalannya sendiri.

Saturday, February 6, 2016

Teruntuk Mas..

Here i again. Sedang berada di suatu tempat, sebuah restoran makanan cepat saji. Pardon me for this. Permisi ya, mas-yang-ngelarang-aku-sering-makan-disini-karena-alasannya-makanannya-gak-sehat. Maaf, ini karena aku lagi nunggu mobilku selesai diservis di bengkel dekat sini. And you exactly know, menunggu di bengkel itu gak asik. Ngebosenin apalagi menunggu nya sendiri. Mendingan aku wi-fi an disini kan daripada disana. Gak, gak makan aneh-aneh kok. Cuma makan Egg McMuffin, French Fries, sama minum Milo. Gak aneh kan? Kalau makan soto pake tangan, gak pake sendok, baru aneh, mas. Hehehe.

Teruntuk Mas-yang-ngelarang-aku-sering-makan-junkfood (namanya berubah lagi, yang tadi kepanjangan. Kayak jalan ke hatimu aja. Huh!)...

Friday, January 1, 2016

Tulisan Pertama

Hai. It's me again. Saya juga tidak yakin dengan penggunaan kata "again" atau "lagi" disini, mengingat saya tidak pernah menulis selama kurang lebih 6 bulan. Waktu yang cukup lama, mengingat juga, pada beberapa bulan sebelumnya, pada tahun lalu, saya adalah orang yang cukup aktif dalam menumbang minimal satu tulisan untuk blog ini (ya iyalah..yang punya blog ini kan, elu, non). Hehehe. Apa yang terjadi? Percayalah, saya juga turut mempertanyakan itu selama beberapa bulan ini. 

Mengapa saya tidak lagi menulis? Tidak, bukan karena lupa. Karena ini sudah menjadi bagian dari kesadaran diri saya sepenuhnya. Tanpa rekayasa, tanpa paksaan. Alam sadar dan bawah sadar sudah mematri untuk menetapkan bahwa menulis sudah menjadi "sesuatu" didalam sini. Mungkin agak berlebihan buat orang lain, minimal saya sendiri yang berpendapat seperti itu. Singkat, saya tidak mungkin lupa dengan menulis. Lalu, apa saja yang sudah terjadi?

Friday, December 25, 2015

Bungkus atau Isi ?

Hidup akan sangat melelahkan, sia-sia dan menjemukan bila Anda hanya menguras pikiran untuk mengurus "bungkus" saja dan mengabaikan "isi".

Maka, bedakanlah apa itu "bungkus" dan apa itu "isi".

"Rumah indah" hanya bungkusnya,
"keluarga bahagia" itu isinya.

"Pesta pernikahan" hanya bungkusnya,
"cinta kasih, pengertian, dan tanggung jawab" itu isinya.

"Ranjang mewah" hanya bungkusnya
"tidur nyenyak" itu isinya.

"Kekayaan" itu hanya bungkusnya,
"hati yang gembira" itu isinya.

"Makan enak" hanya bungkusnya,
"gizi, energi, dan sehat" itu isinya.

"Kecantikan dan ketampanan" hanya bungkusnya, "kepribadian dan hati" itu isinya.

"Bicara" itu hanya bungkusnya, "kenyataan" itu isinya.

"Buku" hanya bungkusnya; "pengetahuan" itu isinya.

"Jabatan" hanya bungkusnya,
"pengabdian dan pelayanan" itu isinya.

"Pergi ke tempat ibadah" itu bungkusnya, "melakukan ajaran agama" itu isinya.

"Kharisma" hanya bungkusnya,
"karakter" itu isinya.

"Rejeki" itu hanya bungkusnya, "keberkahan" itu isinya.

Utamakanlah isinya, namun rawatlah bungkusnya.

Maaf, ini tulisan pertama di blog ini lagi setelah sekitar 6 bulan tidak menulis sama sekali. Entahlah, banyak sekali yang terjadi padahal hanya dalam beberapa bulan. Thanks for seorang kakak yang membagi tulisan ini kala saya mungkin terlihat kusut di kantor. Jangan lupa jaga kesehatan. Apalagi dengan cuaca seperti ini. Semoga yang sedang sakit, segera diangkat penyakit nya. Jangan lupa bahagia, apalagi dengan orang-orang tercinta. Hehe..

Sunday, June 21, 2015

Hati-Hati Dengan Selfie

Di suatu sore, saya sedang asyik menjadi silent-reader di chat room mbak-mbak, ibu-ibu, maupun para jomblowati di grup distributor. Maklum, kami 52 orang anggota terdiri dari berbagai macam lapisan umur. Ada yang masih muda, paling muda dari kami kelahiran 1995. Dan ada juga yang udah tuwek, alias sudah jadi ibuk-ibuk beranak satu. Tapi, rata-rata dari para emak muda ini memang menikah di umur yang relatif muda, sekitar 22-25 tahun. Tak jarang ketika mereka mulai bercerita tentang masa-masa indah penikahan mereka atau tentang pertumbuhan dan perkembangan balita mereka, membuat para jomblowati di grup itu iri dalam seketika. Termasuk saya. 

Pokoknya kalau notifikasi Line saya udah 999+ unread, ya udah itu pasti kerjaan emak-emak muda itu. Hahaha. Entah ada saja yang mereka bicarakan di grup dalam sehari. Tanpa saya pernah sekalipun dapati notifikasi line saya dibawah 50 unread messages saja. Plis..sekali saja. Entah sudah berapa banyak hape dari member grup itu yang sering hang gara-gara notif line suka masuk secara membabi buta, tidak teknologi-awi dan tak mengenal waktu. Hehehe..


Thanks to them. Alhasil, saya banyak belajar dari seringnya mereka berdiskusi. Saya jadi lebih tahu bermacam-macam hal, selain belajar jualan. Dan membuka fikiran sedikit demi sedikit, karena tahu apa yang sedang terjadi diluar sana disaat saya harus te-rauto-pilot dalam aktivitas yang sama selama hampir 10 jam, selama 5 hari dalam seminggu. Hingga hari ini, saya kembali tertarik dengan salah satu pembicaraan mereka. 

Catatan Ramadhan Hari Ini

"(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (untuk jihad) di jalan Allah. Mereka tidak dapat (berusaha) di bumi. Orang yang tidak tahu menyangka mereka adalah orang kaya karena mereka memelihara diri dari minta-minta. Engkau mengenali mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kalian nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui" (QS. Al Baqarah (2) : 273)

Beberapa hari yang lalu, seorang remaja tanggung mengingatkan saya kepada suatu hal yang ada kaitannya dengan potongan ayat yang di bold itu. Anak itu mengingatkan bahwa harta yang selama ini kita usahakan setiap harinya, semata-mata hanya dari Allah. Dan kita punya kewajiban untuk menyedekahkan sebagian lagi di jalan Allah. 

Wednesday, June 17, 2015

Ego Is Soul's Worst Enemy

Di dunia ini apa yang sama, selain dua orang saudara kembar? Selama ini, rasanya saya sendiri belum pernah menemukan seseorang, ciptaan Tuhan yang keduanya sama persis, kecuali itu buatan manusia. Tidak ada manusia yang sama. Yang ada hanya sejalan. Tiada pula manusia yang sama. Yang ada hanya selaras.

Manusia diciptakan berbeda-beda. Tuhan Maha Besar ketika kita melihat manusia-manusia dilahirkan berbeda. Baik secara fisik, karakter, latar belakang, dan lainnya. Tapi, somehow, kita masih bisa hidup beriringan. Sekali dua kali konflik masyarakat muncul tapi kerusakan itu tidak berakibat secara signifikan.  Walaupun, kerusakan ini bisa menjadi bom waktu berujung kehancuran.

Adalah ego. Salah satu hal yang manusia miliki dalam dirinya masing-masing. Sekaligus menjadi PR untuk kita mengendalikannya. Konflik masyarakat yang akhir-akhir ini muncul, bukan tidak mungkin itu semua bermula dari ego seorang manusia saja. Sangat disayangkan.

Tapi, mari kita berbicara tentang diri sendiri dulu. Apakah selama ini ego kita selalu menjadi pemicu konflik dengan orang lain? Apakah kita sering menuruti ego lantas menimbulkan kerugian untuk orang lain?

Menjalin hubungan dengan manusia lain adalah salah satu tuntutan hidup. Gak salah kalau manusia dianggap sebagai makhluk sosial. Ia tidak bisa hidup tanpa bantuan manusia lain. Apakah itu mudah?
Ada saja yang menjadi masalah dalam suatu hubungan. Masalah kerap kali muncul disaat hidup beriringan dengan orang lain. Baik itu kita dengan keluarga, sesama teman, rekan kerja, atau suami-istri. Maklum, mempertemukan dua orang berkarakter berbeda itu tidak gampang. Ini hanya soal cocok-mencocokkan saja, apakah mereka bisa selaras atau tidak.

Tiap kali saya punya masalah ego dengan orang lain. Pertanyaan semacam ini sering muncul dalam benak. "Apakah ini perlu?"

Apakah ego ini perlu diprioritaskan? Kalau iya, mengapa? Kalau tidak, mengapa? Apakah keinginan ini patut dijadikan prioritas kita? Apakah hal ini malah bisa merugikan lebih banyak orang lagi? Dan pertanyaan yang lebih penting: apakah ego ini jika dituruti, akibatnya akan sepadan dengan nilai hubungan ini?

Semakin mengenal banyak orang, saya semakin mengerti. Bahwa, terkadang ada ingin kita yang tidak bisa dipaksakan. Kita tidak selamanya menjadi anak remaja tanggung yang egoisnya bukan main. Kita perlu dewasa terhadap ego. Perlu mengerti bahwa pakai hati harus pakai akal juga. Karena hidup bukan soal "aku", tapi juga "dia" , lalu "mereka".

Bukan berarti kita harus mengubah jati diri, atau harus selalu mengalah. Tapi, ketika ego datang, coba fikirkan lagi.

Will it be more valuable than the value of your relationship?

Sunday, June 14, 2015

Lalu..

Setiap aku rasakan kedua kaki ku lelah bekerja di kantor. Berjalan kesana kemari. Mengurusi ini-itu. Bahkan, untuk beribadah rasanya berat sekali kedua kaki ini melangkah.

Lalu..
Hari ini aku melihat seorang tua berjalan dengan semangat menuju mesjid. Walau harus bersusah payah. Dengan tongkat penyangga. Untuk menopang tubuhnya. Menggantikan satu kaki yang tidak ia miliki.


Setiap aku rasakan rezki ku semakin hari semakin sedikit. Tagihan dan cicilan mengambil porsi lebih banyak dari seluruh gajiku. Belum lagi kebutuhan pribadi dan kebutuhan keluarga yang harus aku penuhi. Gajiku terasa sedikit dan tidak cukup.

Lalu..
Hari ini aku melihat seorang lusuh mengais-ngais tempat sampah. Mencoba mencari sesuatu yang berharga. Kemudian, ia temukan sebungkus roti sisa disana. Dan, ia makan.


Setiap aku merasa pekerjaanku semakin hari semakin banyak. Tekanannya dimana-mana. Semakin sulit saja aku menyelesaikannya saking banyaknya. Entah pekerjaan yang mana yang harus aku dahulukan. Pekerjaan ini kian menyiksaku.

Lalu..
Hari ini aku melihat seorang nenek sedang duduk di bawah jembatan, dengan tumpukan koran dipangkuannya. Lampu lalu lintas menunjukkan merah. Seluruh kendaraan berhenti. Ia berdiri, dan mulai menjajakan sisa korannya hari ini. Mencoba menawarkan barangkali ada dari mereka yang masih membutuhkan koran walau hari sudah malam begini. Terbayang keseharian nenek itu hari ini.


Setiap aku mengingat semua itu. Lalu, aku berfikir..

Setiap aku menatap diriku di cermin. Tidak ada kekurangan fisik. Normal. Tidak ada alat bantu. Atau setidaknya, aku tidak perlu menggunakan tongkat penyangga.

Setiap aku melihat isi dompetku. Ada beberapa lembar uang disana. Setidaknya, aku tidak perlu mengais di pinggir jalan hanya untuk sebungkus roti. Aku masih bisa makan dengan uang ini.

Setiap aku melihat tumpukan pekerjaan di meja kerjaku. Beberapa map seakan menunggu untuk diselesaikan. Setidaknya, aku tidak perlu berpanas ria diluar sana. Bekerja di jalanan dari pagi hingga malam hari. Pekerjaan ini menghasilkan jumlah cukup dan sebagai bonus, tempat kerjaku nyaman.

Akan selalu ada hal yang membuat kita mengeluh. Tanpa pernah berfikir, bahwa masih banyak orang diluar sana bernasib kurang beruntung dibandingkan kita. Betapa banyak nikmat yang diberikan, tapi tidak jarang kita lupakan. Manusia sering lupa. Kita sering salah.

Ketika kau rasakan seluruh dunia ini sulit dan sempit. Berhentilah sejenak dari melihat dirimu. Lihat sekelilingmu. Lihat ke bawah. Mungkin dengan begitu akan membuka matamu untuk melihat nikmat yang jauh lebih banyak dari yang kau keluhkan. Hidup akan jauh lebih bahagia ketika kita penuhi dengan bersyukur.

Wednesday, June 10, 2015

Aku Ingin Tua Bersamamu.

Aku ingin tua bersamamu
Menapak tahap kita dari terbawah
Menaiki setiap tangganya
Sedikit demi sedikit
Tapi, kita tahu akan menuju kemana

Saturday, June 6, 2015

Patah Hati..

Patah hati..
Dunia terasa buruk ketika segala sirna
Rasanya hanya ada satu perspektif disana.
Hanya ada satu pandangan. Satu rasa.
Kesakitan. Kebencian. Prahara.

Patah hati..
Apa yang mereka tidak mengerti adalah setelahnya.
Apa yang dibaliknya.
Apa yang patah hati ini coba jelaskan.
Sayang sekali, kebanyakan dari mereka tidak mengerti.

Patah hati..
Biarkan ia datang.
Biarkan sakit itu memenuhi udaramu hingga kau sesak.
Peluk ia dengan segala durinya
Terima dengan selapang-lapangnya dada.
Sungguh, itulah satu-satu cara mengobatinya.


Day 10: Your Bestfriend

Di bangku SD, sahabat saya ada dua orang. Mereka adalah teman sekelas dan teman satu mobil jemputan. Kami bahkan tidak tahu apa itu sahabat....