Saturday, March 12, 2016

This I Promise You (N'sync)

When the visions around you,
Bring tears to your eyes
And all that surround you,
Are secrets and lies
I'll be your strength,
I'll give you hope,

Keeping your faith when it's gone
The one you should call,
Was standing here all along..

And I will take
You in my arms

And hold you right where you belong
Till the day my life is through
This I promise you
This I promise you

I've loved you forever,
In lifetimes before
And I promise you never...
Will you hurt anymore
I give you my word
I give you my heart (give you my heart)
This is a battle we've won
And with this vow,
Forever has now begun...

Just close your eyes (close your eyes)
Each loving day (each loving day)
I know this feeling won't go away (no..)
Till the day my life is through
This I promise you..
This I promise you..

Over and over I fall (over and over I fall)
When I hear you call
Without you in my life baby
I just wouldn't be living at all...

And I will take (I will take you in my arms)
You in my arms
And hold you right where you belong (right where you belong)
Till the day my life is through
This I promise you baby

Just close your eyes
Each loving day (each loving day)
I know this feeling won't go away (no..)
Every word I say is true
This I promise you

Every word I say is true
This I promise you

Ooh, I promise you...

I Knew I Loved You (Savage Garden)

Maybe it's intuition
But some things you just don't question
Like in your eyes
I see my future in an instant and there it goes
I think I've found my best friend
I know that it might sound more than a little crazy 
But I believe

I knew I loved you before I met you
I think I dreamed you into life
I knew I loved you before I met you
I have been waiting all my life

There's just no rhyme or reason
Only this sense of completion
And in your eyes,
I see the missing pieces
I'm searching for
I think I found my way home
I know that it might sound more than a little crazy 
But I believe

A thousand angels dance around you
I am complete now that I found you

Truly, Madly, Deeply (Savage Garden)

I'll be your dream
I'll be your wish, I'll be your fantasy
I'll be your hope, I'll be your love
Be everything that you need
I'll love you more with every breath
Truly, madly, deeply do

I will be strong
I will be faithful
'cause I'm counting on
A new beginning

A reason for living
A deeper meaning, yeah

I want to stand with you on a mountain
I want to bathe with you in the sea
I want to lay like this forever
Until the sky falls down on me

And when the stars are shining brightly in the velvet sky,
I'll make a wish send it to heaven
Then make you want to cry
The tears of joy for all the pleasure and the certainty

That we're surrounded by the comfort and protection of
The highest powers
In lonely hours
The tears devour you

Oh can you see it baby?
You don't have to close your eyes
'Cause it's standing right before you

All that you need will surely come

I'll be your dream I'll be your wish
I'll be your fantasy
I'll be your hope I'll be your love
Be everything that you need
I'll love you more with every breath
Truly, madly, deeply do

I want to stand with you on a
mountain
I want to bathe with you in the sea
I want to live like this forever
Until the sky falls down on me

Saturday, February 20, 2016

Finding The Right Man.

Finding the right man is like..

Semua orang bisa terlihat salah.
Walaupun orang lain lebih sempurna adanya, tapi dengan ia yang tidak sempurna membuat semuanya tetap terasa benar.

Kamu akan tahu, mengalah bukan berarti kalah.
Ia bukan manusia sempurna. Hanya lelaki biasa dengan segala salah dan khilaf nya. Ketika ia berada di hadapanmu, kamu akan tahu bahwa ego mu tidak harus selalu menang.

You will always listening.
Kamu mungkin orang yang keras kepala. Sulit mendengar orang lain. Everyone's theories sounds like a bull. Everyone seems like a smartass. Ketika menemukan orang yang benar, kamu akan mau mendengar setiap kata, setiap hela nafasnya.

Finding the right man..

Kamu akan tahu siapa orang itu.

Mungkin tidak sekarang.
Tapi, nanti.
Perlahan.
Cinta hanya pintu.
Tapi, keyakinan butuh jalannya sendiri.

Saturday, February 6, 2016

Teruntuk Mas..

Here i again. Sedang berada di suatu tempat, sebuah restoran makanan cepat saji. Pardon me for this. Permisi ya, mas-yang-ngelarang-aku-sering-makan-disini-karena-alasannya-makanannya-gak-sehat. Maaf, ini karena aku lagi nunggu mobilku selesai diservis di bengkel dekat sini. And you exactly know, menunggu di bengkel itu gak asik. Ngebosenin apalagi menunggu nya sendiri. Mendingan aku wi-fi an disini kan daripada disana. Gak, gak makan aneh-aneh kok. Cuma makan Egg McMuffin, French Fries, sama minum Milo. Gak aneh kan? Kalau makan soto pake tangan, gak pake sendok, baru aneh, mas. Hehehe.

Teruntuk Mas-yang-ngelarang-aku-sering-makan-junkfood (namanya berubah lagi, yang tadi kepanjangan. Kayak jalan ke hatimu aja. Huh!)...

Friday, January 1, 2016

Tulisan Pertama

Hai. It's me again. Saya juga tidak yakin dengan penggunaan kata "again" atau "lagi" disini, mengingat saya tidak pernah menulis selama kurang lebih 6 bulan. Waktu yang cukup lama, mengingat juga, pada beberapa bulan sebelumnya, pada tahun lalu, saya adalah orang yang cukup aktif dalam menumbang minimal satu tulisan untuk blog ini (ya iyalah..yang punya blog ini kan, elu, non). Hehehe. Apa yang terjadi? Percayalah, saya juga turut mempertanyakan itu selama beberapa bulan ini. 

Mengapa saya tidak lagi menulis? Tidak, bukan karena lupa. Karena ini sudah menjadi bagian dari kesadaran diri saya sepenuhnya. Tanpa rekayasa, tanpa paksaan. Alam sadar dan bawah sadar sudah mematri untuk menetapkan bahwa menulis sudah menjadi "sesuatu" didalam sini. Mungkin agak berlebihan buat orang lain, minimal saya sendiri yang berpendapat seperti itu. Singkat, saya tidak mungkin lupa dengan menulis. Lalu, apa saja yang sudah terjadi?

Friday, December 25, 2015

Bungkus atau Isi ?

Hidup akan sangat melelahkan, sia-sia dan menjemukan bila Anda hanya menguras pikiran untuk mengurus "bungkus" saja dan mengabaikan "isi".

Maka, bedakanlah apa itu "bungkus" dan apa itu "isi".

"Rumah indah" hanya bungkusnya,
"keluarga bahagia" itu isinya.

"Pesta pernikahan" hanya bungkusnya,
"cinta kasih, pengertian, dan tanggung jawab" itu isinya.

"Ranjang mewah" hanya bungkusnya
"tidur nyenyak" itu isinya.

"Kekayaan" itu hanya bungkusnya,
"hati yang gembira" itu isinya.

"Makan enak" hanya bungkusnya,
"gizi, energi, dan sehat" itu isinya.

"Kecantikan dan ketampanan" hanya bungkusnya, "kepribadian dan hati" itu isinya.

"Bicara" itu hanya bungkusnya, "kenyataan" itu isinya.

"Buku" hanya bungkusnya; "pengetahuan" itu isinya.

"Jabatan" hanya bungkusnya,
"pengabdian dan pelayanan" itu isinya.

"Pergi ke tempat ibadah" itu bungkusnya, "melakukan ajaran agama" itu isinya.

"Kharisma" hanya bungkusnya,
"karakter" itu isinya.

"Rejeki" itu hanya bungkusnya, "keberkahan" itu isinya.

Utamakanlah isinya, namun rawatlah bungkusnya.

Maaf, ini tulisan pertama di blog ini lagi setelah sekitar 6 bulan tidak menulis sama sekali. Entahlah, banyak sekali yang terjadi padahal hanya dalam beberapa bulan. Thanks for seorang kakak yang membagi tulisan ini kala saya mungkin terlihat kusut di kantor. Jangan lupa jaga kesehatan. Apalagi dengan cuaca seperti ini. Semoga yang sedang sakit, segera diangkat penyakit nya. Jangan lupa bahagia, apalagi dengan orang-orang tercinta. Hehe..

Sunday, June 21, 2015

Hati-Hati Dengan Selfie

Di suatu sore, saya sedang asyik menjadi silent-reader di chat room mbak-mbak, ibu-ibu, maupun para jomblowati di grup distributor. Maklum, kami 52 orang anggota terdiri dari berbagai macam lapisan umur. Ada yang masih muda, paling muda dari kami kelahiran 1995. Dan ada juga yang udah tuwek, alias sudah jadi ibuk-ibuk beranak satu. Tapi, rata-rata dari para emak muda ini memang menikah di umur yang relatif muda, sekitar 22-25 tahun. Tak jarang ketika mereka mulai bercerita tentang masa-masa indah penikahan mereka atau tentang pertumbuhan dan perkembangan balita mereka, membuat para jomblowati di grup itu iri dalam seketika. Termasuk saya. 

Pokoknya kalau notifikasi Line saya udah 999+ unread, ya udah itu pasti kerjaan emak-emak muda itu. Hahaha. Entah ada saja yang mereka bicarakan di grup dalam sehari. Tanpa saya pernah sekalipun dapati notifikasi line saya dibawah 50 unread messages saja. Plis..sekali saja. Entah sudah berapa banyak hape dari member grup itu yang sering hang gara-gara notif line suka masuk secara membabi buta, tidak teknologi-awi dan tak mengenal waktu. Hehehe..


Thanks to them. Alhasil, saya banyak belajar dari seringnya mereka berdiskusi. Saya jadi lebih tahu bermacam-macam hal, selain belajar jualan. Dan membuka fikiran sedikit demi sedikit, karena tahu apa yang sedang terjadi diluar sana disaat saya harus te-rauto-pilot dalam aktivitas yang sama selama hampir 10 jam, selama 5 hari dalam seminggu. Hingga hari ini, saya kembali tertarik dengan salah satu pembicaraan mereka. 

Catatan Ramadhan Hari Ini

"(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (untuk jihad) di jalan Allah. Mereka tidak dapat (berusaha) di bumi. Orang yang tidak tahu menyangka mereka adalah orang kaya karena mereka memelihara diri dari minta-minta. Engkau mengenali mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kalian nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui" (QS. Al Baqarah (2) : 273)

Beberapa hari yang lalu, seorang remaja tanggung mengingatkan saya kepada suatu hal yang ada kaitannya dengan potongan ayat yang di bold itu. Anak itu mengingatkan bahwa harta yang selama ini kita usahakan setiap harinya, semata-mata hanya dari Allah. Dan kita punya kewajiban untuk menyedekahkan sebagian lagi di jalan Allah. 

Wednesday, June 17, 2015

Ego Is Soul's Worst Enemy

Di dunia ini apa yang sama, selain dua orang saudara kembar? Selama ini, rasanya saya sendiri belum pernah menemukan seseorang, ciptaan Tuhan yang keduanya sama persis, kecuali itu buatan manusia. Tidak ada manusia yang sama. Yang ada hanya sejalan. Tiada pula manusia yang sama. Yang ada hanya selaras.

Manusia diciptakan berbeda-beda. Tuhan Maha Besar ketika kita melihat manusia-manusia dilahirkan berbeda. Baik secara fisik, karakter, latar belakang, dan lainnya. Tapi, somehow, kita masih bisa hidup beriringan. Sekali dua kali konflik masyarakat muncul tapi kerusakan itu tidak berakibat secara signifikan.  Walaupun, kerusakan ini bisa menjadi bom waktu berujung kehancuran.

Adalah ego. Salah satu hal yang manusia miliki dalam dirinya masing-masing. Sekaligus menjadi PR untuk kita mengendalikannya. Konflik masyarakat yang akhir-akhir ini muncul, bukan tidak mungkin itu semua bermula dari ego seorang manusia saja. Sangat disayangkan.

Tapi, mari kita berbicara tentang diri sendiri dulu. Apakah selama ini ego kita selalu menjadi pemicu konflik dengan orang lain? Apakah kita sering menuruti ego lantas menimbulkan kerugian untuk orang lain?

Menjalin hubungan dengan manusia lain adalah salah satu tuntutan hidup. Gak salah kalau manusia dianggap sebagai makhluk sosial. Ia tidak bisa hidup tanpa bantuan manusia lain. Apakah itu mudah?
Ada saja yang menjadi masalah dalam suatu hubungan. Masalah kerap kali muncul disaat hidup beriringan dengan orang lain. Baik itu kita dengan keluarga, sesama teman, rekan kerja, atau suami-istri. Maklum, mempertemukan dua orang berkarakter berbeda itu tidak gampang. Ini hanya soal cocok-mencocokkan saja, apakah mereka bisa selaras atau tidak.

Tiap kali saya punya masalah ego dengan orang lain. Pertanyaan semacam ini sering muncul dalam benak. "Apakah ini perlu?"

Apakah ego ini perlu diprioritaskan? Kalau iya, mengapa? Kalau tidak, mengapa? Apakah keinginan ini patut dijadikan prioritas kita? Apakah hal ini malah bisa merugikan lebih banyak orang lagi? Dan pertanyaan yang lebih penting: apakah ego ini jika dituruti, akibatnya akan sepadan dengan nilai hubungan ini?

Semakin mengenal banyak orang, saya semakin mengerti. Bahwa, terkadang ada ingin kita yang tidak bisa dipaksakan. Kita tidak selamanya menjadi anak remaja tanggung yang egoisnya bukan main. Kita perlu dewasa terhadap ego. Perlu mengerti bahwa pakai hati harus pakai akal juga. Karena hidup bukan soal "aku", tapi juga "dia" , lalu "mereka".

Bukan berarti kita harus mengubah jati diri, atau harus selalu mengalah. Tapi, ketika ego datang, coba fikirkan lagi.

Will it be more valuable than the value of your relationship?

Sunday, June 14, 2015

Lalu..

Setiap aku rasakan kedua kaki ku lelah bekerja di kantor. Berjalan kesana kemari. Mengurusi ini-itu. Bahkan, untuk beribadah rasanya berat sekali kedua kaki ini melangkah.

Lalu..
Hari ini aku melihat seorang tua berjalan dengan semangat menuju mesjid. Walau harus bersusah payah. Dengan tongkat penyangga. Untuk menopang tubuhnya. Menggantikan satu kaki yang tidak ia miliki.


Setiap aku rasakan rezki ku semakin hari semakin sedikit. Tagihan dan cicilan mengambil porsi lebih banyak dari seluruh gajiku. Belum lagi kebutuhan pribadi dan kebutuhan keluarga yang harus aku penuhi. Gajiku terasa sedikit dan tidak cukup.

Lalu..
Hari ini aku melihat seorang lusuh mengais-ngais tempat sampah. Mencoba mencari sesuatu yang berharga. Kemudian, ia temukan sebungkus roti sisa disana. Dan, ia makan.


Setiap aku merasa pekerjaanku semakin hari semakin banyak. Tekanannya dimana-mana. Semakin sulit saja aku menyelesaikannya saking banyaknya. Entah pekerjaan yang mana yang harus aku dahulukan. Pekerjaan ini kian menyiksaku.

Lalu..
Hari ini aku melihat seorang nenek sedang duduk di bawah jembatan, dengan tumpukan koran dipangkuannya. Lampu lalu lintas menunjukkan merah. Seluruh kendaraan berhenti. Ia berdiri, dan mulai menjajakan sisa korannya hari ini. Mencoba menawarkan barangkali ada dari mereka yang masih membutuhkan koran walau hari sudah malam begini. Terbayang keseharian nenek itu hari ini.


Setiap aku mengingat semua itu. Lalu, aku berfikir..

Setiap aku menatap diriku di cermin. Tidak ada kekurangan fisik. Normal. Tidak ada alat bantu. Atau setidaknya, aku tidak perlu menggunakan tongkat penyangga.

Setiap aku melihat isi dompetku. Ada beberapa lembar uang disana. Setidaknya, aku tidak perlu mengais di pinggir jalan hanya untuk sebungkus roti. Aku masih bisa makan dengan uang ini.

Setiap aku melihat tumpukan pekerjaan di meja kerjaku. Beberapa map seakan menunggu untuk diselesaikan. Setidaknya, aku tidak perlu berpanas ria diluar sana. Bekerja di jalanan dari pagi hingga malam hari. Pekerjaan ini menghasilkan jumlah cukup dan sebagai bonus, tempat kerjaku nyaman.

Akan selalu ada hal yang membuat kita mengeluh. Tanpa pernah berfikir, bahwa masih banyak orang diluar sana bernasib kurang beruntung dibandingkan kita. Betapa banyak nikmat yang diberikan, tapi tidak jarang kita lupakan. Manusia sering lupa. Kita sering salah.

Ketika kau rasakan seluruh dunia ini sulit dan sempit. Berhentilah sejenak dari melihat dirimu. Lihat sekelilingmu. Lihat ke bawah. Mungkin dengan begitu akan membuka matamu untuk melihat nikmat yang jauh lebih banyak dari yang kau keluhkan. Hidup akan jauh lebih bahagia ketika kita penuhi dengan bersyukur.

Wednesday, June 10, 2015

Aku Ingin Tua Bersamamu.

Aku ingin tua bersamamu
Menapak tahap kita dari terbawah
Menaiki setiap tangganya
Sedikit demi sedikit
Tapi, kita tahu akan menuju kemana

Saturday, June 6, 2015

Patah Hati..

Patah hati..
Dunia terasa buruk ketika segala sirna
Rasanya hanya ada satu perspektif disana.
Hanya ada satu pandangan. Satu rasa.
Kesakitan. Kebencian. Prahara.

Patah hati..
Apa yang mereka tidak mengerti adalah setelahnya.
Apa yang dibaliknya.
Apa yang patah hati ini coba jelaskan.
Sayang sekali, kebanyakan dari mereka tidak mengerti.

Patah hati..
Biarkan ia datang.
Biarkan sakit itu memenuhi udaramu hingga kau sesak.
Peluk ia dengan segala durinya
Terima dengan selapang-lapangnya dada.
Sungguh, itulah satu-satu cara mengobatinya.


Jatuh Cinta.

Jatuh cinta..
Panggil mereka gila karena tersenyum.
Tersenyum padamu.
Tersenyum pada kenangan yang sudah ia ukir.
Tersenyum pada hari baru. Karena akan ada satu hari lagi yang aku hadapi denganmu.

Jatuh cinta..
Apa yang salah dengannya?
Salahkah ketika ia membuat seseorang menjadi seorang pujangga?
Sebelumnya tak pernah sekalipun menulis puisi.
Dan..voila! Tiba-tiba dia menjadi seorang penulis hebat.
Sungguh tidak ada yang salah ketika kata-kata mengalun.
Hanya karena ia jatuh cinta.

Jatuh cinta..
Sebut saja mereka tolol.
Karena menghambakan sebagian hatinya kepadanya.
Membiarkan jantungnya berdebar cepat.
Menikmati setiap detaknya.
Menghela setiap nafasnya yang sesak .
Karena cinta sudah memenuhi udaranya.

Tapi, apa yang lebih indah saat jatuh cinta?
Mereka tidak pernah tahu sedalam apa cinta itu.
Tidak sampai ketika mereka hanya berdua dengan Tuhan.
Bercakap-cakap.
Dan ada namanya disana.

Saturday, May 23, 2015

Will He Still Love You In The Morning?

Mama saya pernah bilang, ada dua hal penting yang dibutuhkan sebuah pernikahan. Dua hal yang akan menjadi roda, mengarahkan akan dibawa kemana pernikahan itu akan dibawa. Menuju kebahagiaan atau kesengsaraan ditentukan dari kedua hal ini. Kalau salah satunya tidak terpenuhi, maka jangan harap pernikahan itu akan adem ayem saja, tanpa masalah. Adalah keuangan dan kesetiaan.

Untuk mereka yang masih belum menikah, perlu memerhatikan dua hal inti ini saja. Selebihnya, mungkin kita bisa memberikan sedikit toleransi. Agak longgar dengan berbagai macam perbedaan. Tapi, tidak dengan kedua hal ini. 

Sunday, May 17, 2015

Forgiven, But Not Forgotten

Menjadi pemaaf memang tidak mudah. Apalagi, jika kita harus memaafkan seseorang dengan kesalahan fatal untuk diri kita. Menyakiti hati kita. Yang akibatnya hanya penuh dengan hal-hal buruk untuk kehidupan kita. Tapi, bukan manusia namanya jika tidak pernah bersalah. 

Memang betul, waktu akan menyembuhkan. Tapi, sepertinya salah itu bukan untuk dilupakan. Forgive, but not forgotten. Memaafkan tapi tidak melupakan. Mengapa? Karena selain akibat buruk yang terjadi sebagai ampas dari kesalahan itu untuk diri kita. Kalau saja, kita melihat lebih jauh lagi. Memeriksa ke dalam diri, jauh lebih dalam lagi. Memikirkan kembali lebih matang lagi. Ternyata, ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari kesalahan orang-orang yang sudah mereka lakukan. Mari belajar dari kisah Rasulullah dan seorang pengemis tua berikut ini.

Tuesday, May 5, 2015

Pernikahan Bukan Sebuah Dongeng

Dan akhirnya, topik tulisan hari ini tentang pernikahan. Lagi-lagi soal cinta. Tulisan di blog ini juga sudah beberapa kali memaparkan opini saya perihal momen berharga dan sakral bagi masing-masing orang di dunia ini. Khususnya, para perempuan. Rasanya tidak habis dan tidak bosannya kita membicarakan ini. Apalagi, para perempuan biasanya semangat sekali jika ada forum percakapan membahas tentang hal ini dalam keseharian, di sela-sela kesibukan mungkin. Entah itu menjadi bahan gosip saat jam makan siang di kantor, atau sela-sela saat bertemu dengan ibu-ibu di teras rumah ketika sedang membeli sayur. 

Monday, May 4, 2015

"Selamat Ulang Tahun, Semoga..."

Sebelumnya, mau bilang terima kasih untuk umurnya. Untuk detiknya. Terlepas dari kenyataan bahwa hidup ini justru semakin pendek, bukan semakin panjang seperti yang tersebut dalam lirik Lagu Ulang Tahun "Panjang umurnya..panjang umurnya..panjang umurnya serta mulia..". Menilik lebih jauh, benarkah umur semakin panjang? Bukankah semakin dekat detik kita menuju umur akhir hidup yang telah ditentukan?

Sunday, May 3, 2015

Cerita Skoliosis Setelah Bertahun-Tahun Dilupakan

Lagi asik-asik bongkar dasbor blog, tiba-tiba gue terpaku melihat satu postingan blog tiga hari lalu milik seseorang. Blog itu milik Indi. Indi siapa? 

Umur dan Ide

Kemarin saya sempat menulis tentang sebuah pengingat yang terinspirasi dari sebuah caption di instagram. Isinya kurang lebih adalah dunia hanya main-main dan sementara, tempat singgah untuk ke tempat selanjutnya yang sifatnya lebih selamanya, dan lebih indah atau lebih menyakitkan. Bahwa meski dunia begitu menyilaukan, jangan menjadi alasan untuk mengeksklusifkan diri, buta dengan perubahan. Kita hanya perlu menentukan sikap atas dunia. Sebab, sikap itu akan menentukan apakah dunia akan menjadi amanah pangkal ladang pahala, atau fitnah berujung ladang dosa. Bahwa apa yang kita miliki di dunia ini hanya pinjaman. Tidak ada guna kita besarkan dan banggakan apalagi dicintai melebihi cinta kepada Yang Maha Memiliki. Dia bisa ambil kapan saja, dimana saja. (baca lagi: A Kind Reminder For Me Today)

Dan hari ini, saya sadar. Ada yang Dia sudah ambil tanpa saya sadari. Tanpa saya duga. 

Saturday, May 2, 2015

A Kind Reminder For Me Today

Banyak orang-orang di dunia ini yang mempunyai lebih banyak ilmu daripada kita sendiri. Ilmu dunia dan akhirat mumpuni, jauh diatas melebihi ilmu yang kita miliki. Tapi, sangat disayangkan jika semakin kita banyak tahu, semakin tinggi pula hati kita. Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Semakin bertambah ilmu, semakin sombong merasa diri kita yang paling benar. Paling beriman. Paling bersih. Awalnya, sifat sombong, ujub, dan riya' hanya sebesar biji zarrah. Sangat kecil. Lama kelamaan, semakin besar rasa itu. Bukankah ilmu itu seharusnya membuat kita waspada? Bukankah semakin banyak tahu seharusnya membuat kita semakin berhati-hati dalam melangkah? Bukankah berpengetahuan luas seharusnya membuat kita semakin rendah diri, membuat kita semakin kecil bahwa bumi dan langit beserta ilmu Allah itu sangat luas?

Thursday, April 23, 2015

Note For You.

Tidak ada hadiah terindah untuk seseorang yang berulang tahun selain doa..
Dari Ibunya.
Dari Ayahnya.
Dari Saudara-saudarinya.
Dari teman-temannya.
Dari orang-orang yang menyayanginya.
Maka, berbahagialah.
Dan tidak ada pemberian yang paling berharga untuk seseorang yang mengulang tahun selain..
Waktu dari Tuhannya.
Maka, manfaatkanlah.
Selamat ulang tahun..

Sunday, April 12, 2015

Nice To Meet You, Douglas.

Kebaikan dari hati akan sampai juga ke hati.

Kuawali hari ini dengan mengikuti sebuah seminar kemuslimahan di CCC. Awal yang baik untuk hari libur ini. Saya hanya berharap weekend ini akan produktif dan bermanfaat seperti ini. Cukup lama menunggu hingga acara dimulai membuat saya dan para peserta lain tidak beranjak dari tempat. Ribuan muslimah hadir ditempat ini. Muslimah dari berbagai kalangan dan usia. Mulai dari pelajar, mahasiswa, ibu-ibu paruh baya, sampai ibu-ibu tua renta juga turut hadir. Sempat juga saya lihat ada seorang ibu tua renta yang buta, tergopoh-gopoh berjalan sambil dituntun oleh para akhwat panitia penyelenggara. Masya Allah. Betapa bersemangatnya para muslimah untuk menimba ilmu disini. Dan saya yakin, mereka tidak hanya berdomisili di kota Makassar saja, tapi juga ada yang datang jauh-jauh dari daerah luar kota Makassar. 

Acara masih berlangsung hingga memasuki waktu dhuzur dan saat itu saya harus pulang ditengah-tengah materi.Karena saya harus ke optik di Mall Panakukkang untuk mengambil kacamata baru yang saya sudah pesan kemarin. Iya, kacamata minus saya rusak dan saya sangat membutuhkan itu secepat mungkin, Maka, mengalahlah saya hari ini demi sebuah kacamata. Sayang sekali. 

Singkat cerita, setelah selesai mengambil kacamata, saya pun bergegas pulang. Mumpung libur, rencananya saya mau menulis. Lumayan kalau waktu kosong begini dipakai buat menulis. Minimal bisa jadi satu tulisan. Itu fikir saya. Baru saja keluar dari parkiran Mall Panakukkang, baru beberapa meter dari pintu keluar, saya pun melihat pemandangan menarik. 

Saturday, April 11, 2015

Bukan Badai, Tapi Layarnya.

Kalau tidak bisa mengendalikan badai nya, 
Belajarlah kendalikan layarnya.

Kita tidak akan pernah bisa membuat seseorang berperilaku seperti yang kita mau.
Tidak akan pernah bisa membuat seseorang melakukan sesuatu yang kita minta, tanpa ada dari kemauan dia sendiri pula.
Dan kita tidak akan pernah bisa membuat seseorang menjadi sempurna, persis seperti yang kita mau.
Masing-masing kita punya jalan dan cara sendiri.

Ada banyak hal yang bisa dijadikan mimpi di dunia ini.
Dan setiap orang berhak memilih satu, jika dia mau.

Ada banyak hal yang membuat kita semua saling bersinggungan.
Ada banyak faktor yang bisa membuat kita semua saling mengecewakan.

Ketika semua tidak berjalan sesuai rencana, lantas tanya mengapa.
Lantas tanya apa yang salah lalu tanya siapa yang salah.
Tidak perlu repot mengurusi dan terlalu memikirkan badainya.
Fokuslah memikirkan kemudi dan layarnya.

Tidak perlu sulit memikirikan bagaimana mengendalikan situasi.
Fokuslah mengendalikan diri kita sendiri.

Tulisanmu adalah Cerminmu.

Monday, April 6, 2015

Rintik-rintik hujan..
Jatuh lugu dalam genangan.
Tenang bertemu tanah.
Walau ia tidak tahu, kapan akan bersua langit.

Kamu..
Kita..
Semoga tetap dipeluk-Nya dalam balutan iman.
Semoga tetap sederhana dalam waktu.
Walau kita tidak tahu, apa yang telah kita harapkan dari masa.

Peluk rasa sakitnya.
Resapi setiap durinya.
Hayati sakitnya.
Pahami bahwa melepaskan adalah tanda sejati untuk segala sesuatu yang baik.
Bahwa melepaskan artinya mengikhlaskan.
Bahwa melepaskan artinya paham kalau semua hal di dunia ini bukan milikmu.
Semoga dengan melepaskan, rasa perih itu sendiri yang akan melepaskan diri.

Sunday, March 22, 2015

Kapan Menulis?

"Non. Kamu kok bisa rutin menulis sih. Blog masih kamu update sampai sekarang. Kapan nulisnya?"

"Yaa disempat-sempatin aja. Hehe"

Teringat dengan sekilas percakapan dengan seorang teman beberapa hari yang lalu. Saya dan dia, mungkin juga teman-teman lainnya yang mengenal saya akan bertanya dengan pertanyaan sama. Dilihat dari keseharian, saya bekerja pada sebuah instansi yang mengharuskan saya bekerja 10 jam per hari, setiap hari Senin hingga Jumat, dari pagi sampai malam. Dengan beban kerja serta tuntutan harus selalu stand-by ditempat. Tidak jarang waktu kerja saya harus ditambah hingga malam karena tuntutan profesi ini. Mungkin mengalahkan satpam di kantor kalik ya, hehe. Lalu, kapan menulis?

Wednesday, March 18, 2015

Mereka Adalah Penjual Minyak Wangi

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Cerita kali ini adalah tentang sebuah komunitas yang baru saja saya bergabung beberapa bulan yang lalu. Komunitas ini berawal terbentuk dari sebuah brand online-shop khusus memasarkan produk hijab syar'i. Pasti udah pada tau kan, kalau saya adalah salah satu distributor baru brand ini (baca: Curhatan Seorang Distributor). Waktu pertama gabung, grup ini masih beranggotakan sekitar 15 orang akhwat keren dan hebat, berasal dari seluruh penjuru Indonesia. Malah beberapa dari kami, ada yang menetap di luar negeri. Seperti Jepang dan Taiwan. Mereka pulang ke Indonesia hanya sesekali dalam beberapa bulan. Tapi, dalam beberapa bulan kemudian, anggota grup ini sudah berjumlah 44 orang akhwat. Dengan komunikasi hanya melalui via chatting LINE. Thanks for technology that connects us around the world. Kebayang dong banyak dan rame nya grup ini kalau 44 orang ini lagi nimbrung di chat-room. Apalagi kalau lagi bahas produk jualan. Wahahaha..

Wednesday, March 11, 2015

8 Ayat Jawaban Untuk Malam Ini

Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?
Dan Kami telah menghilangkan dari padamu bebanmu.
Yang memberatkan punggungmu.
Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu.
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.
Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.

Sunday, March 8, 2015

Thursday, March 5, 2015

Maafkan.
Ikhlaskan.
Syukuri.

Alhamdulillah, untuk satu hari kehidupan yang berakhir lagi.

Sunday, March 1, 2015

Antara Pallubasa dan Kartu Kredit

Entah apa yang merasuki dan mendorong gue hari ini untuk bangun pagi-pagi dan memutuskan untuk jogging. Bukan jogging di sekitar rumah lagi, tapi di lapangan yang perjalanannya ke tengah kota lagi. Maklum, rumah gue lumayan jauh dan masih termasuk dalam lingkungan baru yang sedang berkembang. Belum ada apa-apa dan masih pure, murni dan asri seperti kampung sendiri. 

Thursday, February 26, 2015

Sebelum kita menguatkan orang lain, kita yang harus kuat dahulu.

Sebelum kita membuat orang berani, kita yang harus berani dahulu.

Menangislah. Sepanjang itu bisa menghilangkan ketakutanmu.

Menangislah. Sepanjang itu bisa menghilangkan kelemahanmu.

Monday, February 23, 2015

Apakah kau memerhatikan?
Ada sepasang mata jeli yang memerhatikan.
Melihat dengan alis berkerut.
Berharap ia bisa menjadi alasan bahagiamu.

Sunday, February 22, 2015

Cek Lagi

Ketika ada barang kesukaan kita hilang, rusak atau bahkan tidak bisa dipakai lagi.
Cek lagi, mungkin selama ini kita selalu melakukan hal yang sia-sia dengan barang itu. Tidak dimanfaatkan dengan hal bermanfaat.

Ketika ada harta, uang yang hilang, dicuri, atau bahkan kita tidak tahu sudah kita pakai apa uang itu. Rasanya rezeki berkurang untuk kita.
Cek lagi, mungkin selama ini kita terlalu boros beli ini-itu hingga lupa dengan sedekah dari harta itu.

Ketika ada suatu waktu tidak ada seorang teman yang menemani, kita sendirian. Padahal kita biasanya selalu sempat hang-out dengan mereka.
Cek lagi, mungkin kita terlalu sibuk dengan orang lain hingga lupa dengan yang utama. Lupa menyisihkan quality time dengan keluarga. Lupa quality time dengan Allah.

Ketika semuanya berjalan baik-baik saja, tiba-tiba kita mengalami kesulitan. Dijauhkan sejenak segalanya yang kita punya. Hati menjadi sangat demikian kesepian dan hampa. Kata-kata bahkan sulit melukiskannya.

Cek lagi, mungkin Allah hanya ingin ada kita dan Dia. 
Berdua saja.

"We Read to Know We Are Not Alone"- C.S Lewis

Buku-buku di atas meja belajar sudah mulai berdebu. Walaupun sampul dari sebagian buku-buku ini terjaga dan jarang ada yang lecek, apalagi sampai robek, tapi debu dikamar ini tetap saja selalu membuat semua buku ini kelihatan tidak terjaga. Makanya, tiap hari harus selalu saya bersihkan atau kalau mau praktis, saya tutupkan kain diatasnya biar tidak gampang berdebu. 

Friday, February 20, 2015

Pengen sekali-kali menulis cerpen disini. What do you think, guys? Hahaha. Maybe.





Semakin mencari, semakin hilang.
Semakin berharap, semakin kecewa.
Semakin berjalan jauh sendirian, semakin banyak jalan buntu yang ditemui.
Tidak terhitung sudah berapa kali berbalik arah dan terus mencari.
Tidak terhitung sudah berapa kali jatuh tertimpa harapan dan bangkit dari puing-puingnya.
Padahal hakikatnya adalah apa yang semu, semakin dicari maka ia akan semakin hilang.
Padahal apa yang fana, semakin digenggam, maka ia akan semakin terlepas.
Apa yang kita cari, dapatkan, dan pilih belum tentu yang terbaik.

Maka, lepaskanlah.
Lalu, biarkan Tuhan yang memilihkan.

Maka, perbaikilah.
Lalu, biarkan Tuhan menepati apa yang selalu Ia janjikan.

Maka, yakinlah.
Lalu, biarkan Tuhan yang membukakan jalan.

Karena..
Tuhan tidak pernah main-main dengan janjiNya.

Monday, February 16, 2015

Cerita DTU (Part 3)

Day 4-8 Minggu Materi

Melewati tiga hari pertama, yang konon katanya adalah tiga hari yang terberat selama DTU gak membuat kami lega. Tekanan dari instruksi demi instruksi dari pelatih tetap saja menghantui di hari keempat ini dan juga hari- hari selanjutnya. Pada hari ke 4 hingga hari ke 8 diisi dengan dengan beberapa materi selain latihan PBB (Pelajaran Baris Berbaris). Misalnya materi Penghormatan, TUS (Tata Upacara Sipil), ada juga satu sesi materi yang diisi oleh KPK, materi P3K, dan materi lainnya. Apakah di minggu materi ini kami lantas enak-enak di dalam ruangan ber-AC seperti saat diklat Prajab? Ckck..jangan coba-coba berfikir bakal enak-enak disini. *ngupil*

Sunday, February 15, 2015

Cerita DTU (Part 2)

Setelah menulis pengantarnya secara garis besar kegiatan ini seperti apa (baca: Cerita DTU (Part 1)), mari kita flash-back lagi. Apa yang gue dan 800-an orang lainnya lakukan selama DTU di Lido, Sukabumi pada tanggal 25 November - 5 Desember 2014 lalu.

Day H-1 Registrasi

Menginjak kaki di kota Jakarta bersama dengan 15 orang lainnya, bikin gue bisa secara pribadi merasa excited, karena gue bisa ketemu lagi dengan teman-teman sekelas yang unyu (hoeeeek..) semasa kuliah dulu. Tapi, sekaligus gue juga merasa mules  males. Mengingat lagi cerita-cerita pembantaian pada saat diklat dari para senior yang notabenenya sudah duluan mengikuti DTU ini. Menginjak kota Jakarta H-1 sebelum hari diklat, diawali dengan sibuk mengurus berkas untuk Registrasi dan akan dibawa ke KPDJP. Agak beruntung juga bisa berangkat penerbangan pagi, biar sampai ke Jakarta bisa agak siang. Apalagi batas waktu registrasi ini cuma sehari. Parno aja kalau telat kesana karena macet. Takut aja tersesat dan tak tahu arah jalan pulang gara-gara gak tahu jalan. Hiks.

Curhatan Seorang Distributor

Awalnya gue gak tau apakah gue ini benar-benar siap atau tidak untuk memulai usaha. Bukan usaha yang besar sih, tapi kecil-kecilan aja. Tapi, apa yang ada dalam fikiran gue sejak memutuskan untuk menyisihkan sebagian tabungan untuk ini adalah "kalau bukan sekarang, kapan lagi? Lo gak bakal tau kapan lo benar-benar siap sampai lo mulai". Itu saja yang ada dalam benak gue waktu itu. Toh, emang gue ada rencana untuk memulai sebuah usaha, sebagai sampingan kerjaan pegawai ini. Orang tua juga sudah lama banget menasihati untuk mencoba memulai usaha. Karena gue betul-betul sadar, ada banyak hal baik yang pengen gue lakukan dan itu semua gak akan pernah terwujud kalau gue gak punya banyak uang. Menabung dengan gaji pegawai mungkin akan butuh waktu yang lama sekali. Gue punya visi untuk orang lain diluar sana, yang gue tau, itu juga butuh modal. 

Saturday, February 7, 2015

Baca Ini Untuk Mengingatkanmu, Non

Terima kasih atas satu hari kehidupan lagi yang telah diberikan. Aku tahu, aku adalah orang yang selama ini banyak meminta. Dan kali ini, terima kasih atas kesempatan untuk sekedar mengucap syukur untuk semua yang telah terjadi dan juga yang akan terjadi.

Terima kasih untuk setiap nafas dari bangun dini hari hingga malam hari. Untuk setiap hening kala terbangun tepat di sepertiga malam. Untuk setiap waktu sunyi dalam satu malam, hanya sekedar berdiam. Merenung. Bahkan menangis. Hanya untuk mengeluarkan segala penat dan noda hati dihadapanMu. Hanya berdua denganMu. 

Terima kasih untuk setiap subuh khidmat setiap harinya. Jadi aku bisa mengawali hari dengan hal-hal positif lebih awal. Terima kasih untuk sarapan telur ceplok dan segelas susu coklat atau teh di setiap pagiku. Aku tahu, masih banyak orang lain yang belum beruntung diluar sana. Jangankan sarapan, bisa makan atau tidak hari ini saja, mereka belum tahu pasti. Mungkin juga pada malam harinya, mereka bahkan tidak tidur karena sibuk menahan lapar.

Monday, January 26, 2015

Kamu Gagal?

Allah selalu punya banyak cara untuk membuat sebuah pertemuan dan perpisahan.

Selalu ada makna terselip di balik sebuah kejadian indah dan suram.

Semua kejadian yang manusia alami selalu berawal dari sebuah pertemuan. Lalu, berlanjut terus, hingga waktu membuktikan sesuatu.

Sayang, kita selalu tidak pernah punya petunjuk, akan dengan siapa dan dimana kita menemukan sebuah pertemuan.

Orang bijak bilang, seseorang bisa hadir sebagai berkah..atau pelajaran. Perantara atas apa yang coba Allah ajarkan kita, bisa jadi melalui seseorang, dengan sebuah kejadian.

Tapi, dari semua kejadian itu, Allah hanya ingin ajarkan satu hal.

Keikhlasan. Bagaimana caranya memberikan terbaik hanya untuk Dia, setelah mendapatkan atau mengalami sesuatu.

Banyak manusia lupa akan itu. Termasuk saya. Mungkin juga Anda. Lupa kalau sesuatu itu bukan milik kita. Sehingga, kita memberikan segala usaha hanya untuk menggenggamnya.

Sayang, banyak juga yang lupa. Allah yang miliki segalanya. Dia bisa memberikan apapun, kapanpun kepada siapapun.

Tapi, Allah juga bisa mengambilnya, kapanpun dari siapapun.

Maka, ketika ada yang hilang. Ada yang pergi. Ada yang gagal. Mengapa terjadi?

Maka, tanyakan pada dirimu sendiri dulu. Siapa kamu sebenarnya hendak coba memiliki segalanya tapi tidak mencoba untuk memiliki Allah? Padahal Dia adalah Yang Maha Memiliki.

Menggenggam sesuatu tapi mulai melepaskan Allah, sama sekali bukan tindakan cerdas.

Semoga di kemudian hari, ego yang ingin memiliki semuanya tidak menguasai lagi. Apa yang terjadi, maka terjadilah.

Bukan sesuatu yang harus dilupakan dan disesali. Justru disyukuri. Karena melalui itu, Allah coba berbicara kepada kita dan ajarkan sesuatu.

Mungkin kamu gagal, karena hubunganmu dengan Allah sudah retak.

(Semoga tulisan ini menjadi pengingat untuk saya. Dan juga Anda yang membaca)

Friday, January 16, 2015

Cerita DTU (Part 1)

Mungkin sekitar sebulan lalu, saya mengikuti sebuah diklat yang diadakan oleh instansi tempat saya bekerja. As your information, diklat ini diikuti oleh sekitar 800-an orang, yang notabenenya adalah pegawai baru dan wajib mengikuti diklat ini. Awalnya gak kebayang aja gimana rasanya diklat dengan 800 orang selama 10 hari. Dengan aktivitas diklat yang gak biasa. Saya ceritakan sedikit kalau diklat ini memang basisnya adalah orientasi dan pembentukan karakter sebagai seorang abdi negara. Tapi, tahu kan yang namanya orientasi itu dimana-mana kayak gimana? Orientasi kampus, SMA, sampai udah jadi pegawai gini aja masih mesti di orientasi. Dilatih sama Kopassus pula. Bukan sama senior seperti yang ada di bayangan lo semua. Diklatnya di dekat gunung pula. Bukan di lapangan kampus lagi.

Guling-guling di atas rumput, tiarap bareng, doing push-ups, sit-ups, lari kayak orang gila. Kerjaannya ikutin instruksi pelatih dan jadwal dari panitia penyelenggara. Duduk diatas rumput, diguyur hujan terus kena sinar matahari lagi. Gitu terus bolak-balik. Cuacanya..

Wednesday, January 14, 2015

Seandainya Saja..

Seandainya saja perasaan kita tidak saling menyapa dari jarak sejauh ini,
Mungkin aku tidak perlu sesendu ini ketika hanya melihat langit yang sama dengan mu.

Seandainya saja pertemuan ini tidak begitu berarti.
Mungkin aku tidak perlu teringat melulu denganmu ketika hanya melihat hujan.

Seandainya saja aku sadar kalau aku pernah kalah melawan jarak dan waktu.
Mungkin aku tidak perlu menyisipkan sedikit tempat disini, di sebuah sudut dalam nirwanaku.

Begitu lucu ketika sebuah pertemuan diantara banyak pertemuan menjadi begitu sangat membekas. Sebab pada kenyataannya, kita selalu bertemu dengan orang lain. 

Awalnya tidak saling menyapa.
Tapi lama-lama bukan sekedar kita lagi yang berbincang.

Tapi, tidak denganku. Dan tidak pula denganmu. Kita berdua tahu. 
Pertemuan itu adalah awal. Entah kemana itu akan membawa kita.

Biarkan saja perasaan ini menggenggam dirinya sendiri, dalam senyap.
Disaat jemariku belum bisa tertaut dengan jemarimu.

Biarkan saja kata-kata ini mengantarkan rindu menujumu.
Disaat lisanku belum bisa berbisik sayang di telingamu.

Biarkan saja doa ini melindungimu dari sini.
Disaat lenganku belum bisa melingkar hangat membalas dekapanmu.

Biarkan waktu dan jarak ini mengiringi.
Hingga kita siap turut menggenggamnya.

Biarkan saja Tuhan yang tahu.
Siapa nama yang selalu aku biarkan melangit menuju-Nya.

Saturday, January 10, 2015

A Very Strong and Deep Line With Someone.

"Kalau suka, kenapa galau? Bukannya senang?"

"Setiap rasa punya resikonya.

Setiap hubungan ada masalahnya masing-masing.

Kita yang menentukan akan tetap tinggal..

..atau tidak"

Friday, January 2, 2015

Sebuah Keluarga

Sungguh senang dan tenang rasanya melihat sebuah keluarga kecil saling mendukung satu sama lain. Sekalipun anak-anaknya yang masih kecil. Bahkan berbicara saja masih belum bisa. Bahkan, yang kemana-mana masih pakai pempers. 

Bagaimana bisa tahu? Iya, sebuah keluarga itu saling mendukung satu sama lain akan terlihat dari luar. Ketika tidak ada yang melihat. Sore ini, aku terdiam sejenak, terduduk sambil sedikit tersenyum. Salah satu pegawai keluar dengan sedikit tergopoh-gopoh sambil menggendong seorang balita perempuan yang umurnya belum genap setahun. Berhati-hati agar ia tidak terpeleset. Maklum, seharian ini kota ku diguyur hujan deras. Dengan erat ia memeluk tubuh anaknya. Kerudung lebar warna hijau tuanya berkibar pelan ditiup angin sore. Kasih sayang ibu itu terpancar. Jika saja semua orang bisa melihatnya.

Anak yang ada di gendongan sang Ibu hanya mengerjapkan mata bulatnya. Cantik. Apalagi dengan baju berwarna merah muda. Kulitnya putih bersih. Suci, tanpa dosa dan kesedihan terlihat di wajahnya. Anak ini tidak rewel. Pintar seperti Ibunya mungkin. Makanya, ia tidak mudah menangis. Dia bisa saja mengerti bahwa Ibunya ini sedang bersusah payah menggendongnya kemana-mana. Apalagi jalanan sedang licin. 

Disamping sang Ibu, ada laki-laki tinggi turut berjalan beriringan. Itu jelas sekali adalah sang Suami. Sang Bapak. Sama berhati-hatinya seperti sang Istri, dia berjalan hati-hati dengan sebuah tas tergantung di lengannya. Berat pasti. Mungkin berisi peralatan si Bayi Perempuan tadi. Dengan sabar dan tanpa merengut- sekali lagi terlihat di wajahnya. Tulisan ini memang hasil visual penglihatan saya sih- memayungi si Istri dan si Bayi. Batiknya basah terkena hujan. Lebih baik ia yang basah daripada mereka. Belum lagi ada anak kecil lainnya, sekitar umur 4 tahun, bergelayut manja di gendongannya. Menambah beban berat lengan kokohnya.

Tapi, tidak pernah ada beban jika itu untuk keluarga. Tidak pernah ada yang merasa disulitkan ketika untuk keluarga. Saling mendukung satu sama lain. Saling menghargai. Begitu seharusnya sebuah keluarga. Sebuah pemandangan sederhana nan mengharukan dari sebuah keluarga kecil sore ini kembali mengingatkan saya tentang itu. Membuat hangat siapa saja yang melihatnya. Andai saja kalian bisa melihatnya juga.

Setelah semua ini, muncul pertanyaan baru: Kapan saya bisa punya keluarga kecil saya sendiri, seperti itu? 

Entahlah. Tuhan yang tahu.

Monday, December 29, 2014

Tentang Hujan.

Ini tentang rintik air beradu dengan rerumputan hijau di halaman kantor sore ini. Bertemu dengan lembut, bergerak dengan irama. Membuat rumput itu kelihatan empuk diinjak oleh kaki telanjang.

Ini tentang tetes air yang jatuh di kubangan air lumpur berwarna coklat. Atau tetes air bertemu dengan aspal. Atau tetes air jatuh menimpa atap rumahmu. Terlihat damai. Terlihat tenang. Kedengaran seperti lagu. Andai saja kita bisa lebih seksama memperhatikan. Lebih mendengarkan.

Apa yang lebih syahdu dari hujan selain bulir-bulir air diatas kaca mobil atau kaca jendela di kamarmu. Berlomba-lomba, jatuh membasahi setiap inci kebeningan itu hingga ujung terbawah. Berevaporasi. Jatuh, menetes perlahan, dan meninggalkan jejak. Seperti cinta.

Apa yang lebih mengharukan selain warna-warni payung milik para bocah di tengah hujan. Atau jejak-jejak kecil mereka berlari, berlomba-lomba dengan bocah lainnya, mengejar mereka yang membutuhkan payung. Atau suara tawa bocah-bocah itu saling mengejek dan bercanda di bawah rinai hujan walaupun bibir telah pucat dan badan menggigil.

Apa yang lebih menyakitkan selain mengingat kenangan di tengah hujan. Mengingat kesalahan yang masih sulit untuk bisa kau maafkan. Atau keadaan yang tidak akan pernah bisa kau ubah. Mengingat mereka yang menyakitimu dan kau sakiti. Berharap titik-titik air ini mengantarkan maaf. Atau meluluhkan hati memberi maaf. Atau bahkan tidak berharap apapun tentang itu. Entahlah, hujan ini selalu punya cara mencabangkan perasaan kita menjadi sesuatu.

Ini tentang hujan. Mereka. Kamu. Kepiluan kita. Dan sulit kuakui, ini juga tentang rindu.

Saturday, December 27, 2014

Aku tidak tahu apa lagi yang tetap menahanku disini.
Apa yang aku tahu adalah gravitasi ku bukan disini.
Bahagia ku bukan disini.
Aku bahkan tahu gravitasi ini tidak ingin menahanku lagi.

Bahkan tahu kalau dia ingin lupa untuk menarikku kembali ke tanah.
Dan biarkan aku saja melayang tanpa jatuh ke bumi.
Rasanya seperti tidak diinginkan.
Langit tidak membiarkan mu terbang.
Dan bumi juga tidak membiarkanmu mendarat.

Kau tahu ini lebih parah daripada kau jatuh berdebam saja.
Menubruk tanah, menghantam dengan kerasnya.
Daripada tidak kemana-mana.
Tidak ke atas atau ke bawah.

Karena aku tahu tidak ada lagi yang menahanku disini.

Thursday, December 11, 2014

It's hard letting go
I'm finally at peace but it feels wrong
Slow I'm getting up
My hands and feet are weaker than before

(From "Silhouettes" lyrics by Of Monsters and Men)

Sunday, December 7, 2014

Get To Me

Get To Me - Lady Antebellum

The night is hot,
Got a full moon rising
And you know this is the time I get a little bit lonely
And I can't fight it, I can't hide it.
Don't know where you are,
But I want you just like lightning
Shooting straight out of the sky,
Come and strike me with your light igniting
Yeah, igniting.

Gotta get to me, gotta get to me
You gotta spread your wings and start flying.
Like a drop of rain, gotta find the way
Don't hit the brakes, just come and crash through my horizon.
Bring back the air, I need to breathe, baby
You gotta get to me.

The bottle is empty
And I'm dancing in the shadow of a memory.
Yeah, call me crazy
But I still got this schoolgirl's dream.
You're gonna show up and kiss me,
Pull me in, hold me tight, love me and carry me away
Like there's no more tomorrows and no more yesterdays.

Gotta get to me, gotta get to me
You gotta spread your wings and start flying.
Like a drop of rain, gotta find the way
Don't hit the brakes, just come and crash through my horizon.
Bring back the air, I need to breathe, baby
You gotta get to me.

Gotta get to me, gotta get to me
You gotta spread your wings and start flying.
Like a drop of rain, gotta find the way
Don't hit the brakes, just come and crash through my horizon.
Bring back the air, I need to breathe, baby
And get to me.
Get to me, get to me, yeah
You gotta get to me.

The night is hot,
Got a full moon rising...

(Diposting karena lagi suka aja lagunya. Kayaknya gue emang suka lagu aliran country macem punya mereka ini.)
Kemarin saya saling berkomunikasi lagi via Whatsapp dengan salah seorang kakak akhwat. Rasanya sudah lama sekali tidak saling mengobrol sejak percakapan kami terputus beberapa bulan yang lalu. Tapi, semua percakapan kami dari kemarin seharian hingga pagi tadi, pada intinya adalah betapa bersyukurnya lagi saya pagi ini. Saya bersyukur bisa punya relasi dengan seorang kakak yang selalu mengingatkan dan membimbing. Jujur saja, tidak banyak orang yang bisa menasihati tanpa bisa membuat orang yang dinasehati itu seperti merasa di dikte. Tapi, kakak ini bisa. Saya merasa seperti adiknya kalau dia sudah membagi cerita. Apalagi sejak "proses" itu selesai.

Iya, "proses" itu. Harapan yang sempat ada tapi harus pupus karena sesuatu hal. Setelah saya dinasihatin lagi, topik tidak jauh-jauh juga dari "proses" itu, saya semakin bersyukur. Ada alasan Tuhan yang akhirnya terkuak dibalik berhentinya proses itu dulu. Dan sekarang terungkap sekarang. Alhamdulillah saya tidak sampai terjebak didalamnya. Alasan seperti apa saya tidak bisa tuliskan secara jujur disini. Semoga kabar itu salah. Yang jelas, apapun itu, jawaban Tuhan itu akhirnya baru muncul di permukaan sekarang. Tapi, jujur saja, sejak dari awal saya juga sudah merasakan tanda-tanda bahwa proses itu tidak akan berlanjut. Seakan-akan semesta berusaha memberitahukan saya tentang tanda-tanda ketidakcocokan dan kemudharatan yang akan terjadi. Melalui kecendrungan hati, melalui orang tua, melalui suara-suara orang lain. Bukannya saya mau berprasangka buruk tapi memang seperti itulah yang saya rasakan. Tanda-tanda itu. Sampai pada akhirnya, diputuskan untuk berakhir saja. Waktu diceritakan kembali, saya juga tidak kecewa. Toh sudah lama terjadi, Mungkin sekitar setahun yang lalu. Saya jadikan saja ini sebuah pelajaran. Pertemuan kami waktu itu bukan sebuah kebetulan. Semua sudah diatur. Ada tujuannya. Salah satunya adalah ini..as a lesson. 

Semakin sadar kalau Allah masih menjaga saya dari yang keburukan dan hanya akan membawa dampak buruk kedepannya. Semoga Allah selalu melindungi dan memelihara orang itu. Aamiin..

Saturday, December 6, 2014

Langit semakin terang. Matahari mulai terbit. Sepertinya saya harus memberi sedikit apresiasi untuk kedua mata saya yang kemarin hanya melihat warna hijaunya rerumputan, menggantinya dengan pemandangan padatnya kota Jakarta dari jendela kamar lantai 7 hotel tempat saya menginap. Mungkin beberapa hari kemudian saya akan mulai merindukan pemandangan rerumputan dan hutan itu.

Lagi-lagi televisi kamar ini menayangkan Disney Channel. Akhirnya saya bisa menonton TV. Tidur dengan santai, nyaman dan hangat. Makan makanan apapun yang saya mau. Bisa mandi dengan bersih. Lho? Memangnya kemarin tidak bisa? Saya baru saja selesai melaksanakan kegiatan diklat selama 10 hari, dalam rangka memenuhi tugas kantor pusat instansi tempat saya bekerja. Dan saya..tidak bisa melakukan hal-hal yang tadi. Saya hanya hidup "seadanya" selama 10 hari. Nanti saja di tulisan lain saya akan tuliskan dengan lengkap. Saya hanya terlalu lelah untuk bisa menulis tentang itu sekarang. Saya masih dalam keadaan setengah percaya dan sadar kalau sekarang saya sudah pulang. Hehe..

Terlalu banyak hal yang terjadi. Seperti biasa, untuk instansi kami, kegiatan diklat seperti ini seperti ajang reuni yang terjadi accidentally. Tidak direncanakan. Tidak dibicarakan, tau-tau sudah ada surat pemanggilan mengikuti diklat. Bertemu lagi dengan orang lama dan orang baru. Mengenal teman-teman baru. Mengenal ilmu baru. Setelah selesai, kembali lagi meninggalkan sesuatu disini. Begitu seterusnya, dan akan selalu berulang.

10 hari meninggalkan cerita. Meninggalkan kenangan. Meninggalkan rekam tawa dan muram. Meninggalkan cerita pertemanan masing-masing orang, yang baru akan dimulai. Dan selama 10 hari pula saya tahu..ada sesuatu yang belum terselesaikan.

Tuesday, October 28, 2014

Feeling so powerless. Feeling so weak. Semakin lama, semakin pasrah. Mungkin juga ini saatnya menyerah.

Saturday, October 25, 2014

My Deep Thoughts About What Had Happened Lately

Awalnya saya mau lari saja. Sudah cukup banyak hal yang seharusnya tidak saya ketahui. Saya bahkan tidak tahu saya sebaiknya berhak tahu hal ini atau tidak. Allah hanya memperlihatkan begitu saja. Tanpa ada angin, tanpa ada apa-apa, Allah dengan mudah memperlihatkan segala sesuatu hal tentang ini. Baik dan buruknya. Positif dan negatifnya. Maka, saya berkesimpulan, mungkin ini saatnya saya mengambil keputusan. Berdasarkan baik dan buruknya itu. Harapan itu layak untuk diperjuangkan atau tidak.

Beberapa hari ini, saya sempat berfikir untuk tidak melanjutkan harapan ini. Hanya mau lari saja. Saya pun mempertanyakan, apakah ini masih bisa disebut harapan kalau terlalu sering membuat luka? Dan apakah memang harapan itu bisa disebut harapan kalau prosesnya hanya membuat tawa saja? 

Mana Lebih Dulu: Berdoa Atau Bersyukur?

Seorang anak di sebuah sekolah dasar memanjatkan doa di sepertiga malam terakhirnya.

"Tuhan, Engkau kan tahu kalau ujian Bahasa Inggrisku hari ini dapat jelek. Tapi aku tetap bersyukur Tuhan, karena waktu ujian aku tidak sekalipun mencontek, meskipun teman-temanku yang lain melakukannya."

"Tuhan, tadi pagi waktu berangkat ke sekolah aku diberi ibu bekal sepotong kue dan sebotol air. Kata ibu, sekarang sedang paceklik, jadi hanya itu yang bisa kubawa agar di sekolah tidak perlu jajan di kantin. Terima kasih kuenya, Tuhan. Di jalan aku melihat pengemis yang kelaparan. Lalu aku berikan kue itu kepadanya. Tahu-tahu saja laparku hilang ketika melihat pengemis itu tersenyum."

"Tuhan, lihatlah, ini sepatu terakhirku. Mungkin aku harus berjalan tanpa sepatu minggu depan. Engkau kan tahu sepatu ini sudah rusak berat. Tapi tidak apa-apa, paling tidak aku masih bisa pergi ke sekolah. Tetanggaku bilang orang-orang sedang gagal panen, sehingga teman-temanku banyak yang terpaksa berhenti sekolah. Tolong bantu mereka Tuhan supaya bisa sekolah lagi."

"O..ia Tuhan, semalam ibu memukulku. Mungkin karena aku nakal. Memang agak sakit. Tapi pasti sakitnya segera hilang, karena kuyakin Engkau akan menyembuhkannya. Yang penting aku masih punya seorang ibu. Jadi, kumohon Tuhan, jangan Engkau marahi ibuku yah? Mungkin ibu sedang lelah saja dan panik memikirkan kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolahku."

"Terakhir Tuhan, sepertinya aku sedang jatuh cinta. Di kelasku ada seorang pria yang sangat pintar, tampan, dan baik. Menurut Engkau, apakah dia akan menyukaiku? Tapi apa pun yang terjadi, yang aku tahu Engkau tetap menyukaiku. Terima kasih, Tuhan."

Doa diatas saya kutip dari sebuah buku. Saya tidak perlu mempertanyakan apakah doa tadi nyata atau tidak. Apakah memang ada seorang anak yang betul-betul memanjatkan doa seperti itu. Pertama saya membaca, dan hingga sekarang saya mengetik ulang lagi, saya masih terharu. Juga malu. Apakah anda tidak merasa seperti itu? Terbayang kalau kita manusia saja bisa tersentuh ketika membaca doa tadi, bagaimana dengan Tuhan yang mendengarnya langsung dari hambaNya?

Sunday, October 19, 2014

Uzlah: Sunyi Dalam Keramaian, Ramai Dalam Kesunyian.

Sudah lama tidak menulis lagi. Kalau dihitung-hitung, mungkin sudah berbulan-bulan saya tidak menulis sesuatu yang begitu berarti. Beberapa tulisan pendek yang lahir sangat pendek. Mungkin saja karena selama berbulan-bulan ini, saya disibukkan dengan aktivitas keseharian yang sama. Harus saya akui, kalau dulu saya bisa menjalaninya dengan biasa dan bersemangat bahkan bisa sambil menyempatkan menulis dan membaca setiap hari, tapi belakangan ini hari-hari ini agak terasa berat. Mengambil hampir semua daya fisik dan fikiran. Belum lagi ada hal-hal diluar pekerjaan yang ikut memenuhi isi kepala. Sehingga, saya kehilangan "diri". Saya sudah menenggelamkan siapa diri saya ditengah-tengah padatnya persoalan yang belakangan ini sudah terjadi.

Pernah tidak kalian merasa kalian hanya ingin sendiri? Kebanyakan diam? Atau jalan-jalan kemana sendirian? Tapi, ditengah-tengah kesendirian dan kesunyian itu, kalian justru lebih banyak berbincang sendiri dalam hati? Entah, apa yang kalian bicarakan di dalam sana. Kalian hanya berkutat dengan isi hati kalian. Pernahkah?

Saya pernah baca sebuah buku, disebutkan bahwa ada istilah Uzlah. Apakah itu uzlah? Dituliskan dalam buku itu, bahwa tokoh-tokoh sufi banyak yang sepakat untuk mengartikan kata uzlah dengan sunyi bersama Allah dalam keramaian dunia dan ramai bersama Allah dalam kesunyian dunia. Fisik anda bisa jadi ada ditengah keramaian manusia, tapi hati anda sedang berbicara didalam. Anda bisa jadi sedang ruangan kantor yang sedang ramai, penuh dengan suara musik atau suara printer, ketikan keyboard silih berganti, suara dering telepon, tapi sebenarnya hatimu juga lebih ramai berbicara didalam. Dan notabene seorang manusia jika sedang memiliki percakapan sendiri dalam hati, itu artinya dia sedang bercakap dengan Tuhannya. Fisik bersama manusia, tapi jiwa bersama Allah. 

Tapi, Uzlah ini bukan berarti kita harus mengisolasi diri dari pergaulan sosial. Menutup diri dari lingkungan sosial dalam keseharian kita. Uzlah memang sebuah amal istimewa. Tetapi, uzlah juga tidak mengharuskan kita untuk menghindar dari kenyataan dunia, tinggal didalam goa, menutup diri dan menyendiri serta menjauh dari komunitas. Tidak seperti itu. Karena Allah tahu kita butuh komunikasi dengan manusia lain. Allah tahu kita butuh bersosialisasi dengan orang sekitar. Allah tahu kita butuh berbaur dengan lingkungan sekitar. Oleh sebab itu, Allah tidak pernah melarang kita untuk terlibat dalam pergaulan sosial. Bahkan ketika lingkungan sosial itu yang justru mengganggu, ada sebuah motivasi dari Rasulullah:

"Orang mukmin yang bergaul dengan manusia dan sabar menghadapi segala gangguan mereka, lebih baik daripada orang yang tidak mau bergaul dengan mereka dan tidak sabar menghadapi gangguan mereka" (HR. At-Tirmidzi, Ahmad, dan Al-Bukhari di dalam Al-Adabul Mufrad)

Terkadang setiap orang butuh waktunya masing-masing. Sendiri. Hanya dia. Biasanya orang butuh sendiri ketika dia sudah jenuh, bosan melakukan segala sesuatunya. Dia membutuhkan waktu dan tempat untuk sendiri. Dan tidak ada teman atau sahabat yang bisa diajak berbagi. Disinilah kehadiran Tuhan terasa sangat bermakna. Meski raga terlihat sendiri tapi, jiwanya ramai bersama Tuhan. Jangan fikir seseorang sendiri karena dia galau. Tidak punya arah tujuan jelas dan tidak punya teman. Justru karena ia kuat, dia lebih baik dalam kesunyian, menyembunyikan kesedihannya ini dibalik senyuman yang biasanya orang lain lihat. Justru sendiri karena ia merasa punya arah tujuan jelas, jelas kemana perasaannya ia akan bawa, bukan kepada manusia saja, tapi hanya dan akan kepada Allah. Sekalipun ia tidak bersama seorang manusia pun. Karena ia tahu dengan mengingat dan hanya berbincang dengan Allah akan membuatnya tenang. Sekalipun ia sedang tidak bersama siapapun.

Thursday, September 25, 2014

Kangen Lagi.

Hari ini saya lagi suka dengar lagu Six Degrees of Separation-nya The Script. Bener-bener didengarkan berulang-ulang sampai pada akhirnya sekarang mulai eneg. Saya juga awalnya tahu dan akhirnya suka sama The Script gara-gara dia. Maklum, dia laki-laki. Explore-nya tentang musik juga cukup luas. Dia tahu musik apa yang bagus. I mean, he has a taste on music. Biasanya saya suka minta lagu ke dia. Tidak heran kalau taste musik juga mirip kayak dia. Kayak laki-laki juga. Telinga emang sudah muak dengerin itu lagu hari ini, tapi kangen itu tetap ada. 

Tadi sore, selepas pulang dari kantor, entah apakah karena sudah lama tidak makan atau memang karena lapar, saya pun memutuskan untuk mampir di sebuah sudut di Jl. Haji Bau dan Jl. Cendrawasih, membeli sekotak pisang goreng coklat keju. Awalnya biasa saja, tapi teringat lagi, kalau dia suka sekali dengan makanan yang ini. Kalau saya dan si Bungsu lagi ngidam risoles mayo di Jl. Ranggong, dia malah tidak suka. Eneg, katanya. Terlalu banyak protein. Bahasanya biologi, tapi kuliah jurusan Teknik. Hadeuh. Biasanya saya beli dua kotak untuk 4 orang dirumah, kali ini cuma satu kotak. Karena hanya ada kita bertiga yang makan. Kangen itu tetap ada.

Ngomong-ngomong soal makanan, kemarin saya bikin makanan cemilan, resep lama dari waktu jaman kuliah dulu. Yang punya resep mengklaim makanan itu sebagai Sosis Sorban. Karena, itu sosis dibalut dan digulung dengan roti, lalu dicelupkan di kocokan telur serta tepung roti. Digulung, pantas namanya ada kata sorban. Dia dulu juga suka makan sosis sorban buatanku. Mungkin karena dia lapar atau karena dia memang suka. Yang jelas sekarang, dirumah, cuma ada satu orang yang menikmati. Tidak ada lagi adu mulut yang memperebutkan sepiring penuh dengan beberapa sosis sorban diatasanya. Kangen itu tetap ada.

Buset, lo baru dua bulan gak tinggal dirumah lagi, tapi lo masih bikin gue, mama dan si Bungsu kangen. Ugh..

Sunday, September 14, 2014

And here i am doing my favorite thing before i sleep. Headphone and music's on. Safe and Sound. Listening my deep breathe only. Staring at the wall. Thinking about few things. It's been months and still counting. And until today, whatever i have been through because of you. Problems, kindness, sadness, and happyness. I am still me hoping you are always safe in God's protection.

Tuesday, September 9, 2014

I don't even know how to write this. It is more complicated than me saying:

I miss the old you. I miss the old me. I miss the old us. I miss time-warping. I miss two of us sitting, eating ice cream, just talking and laughing like idiots because world still can't change us. I do really miss that.

Sunday, September 7, 2014

I have sit here for 15 minutes and i haven't written anything.

I always sleep with my headphone and music's on, lately. I listen Safe And Sound by Taylor Swift. Have you listened to it? You should listen to it. I always staring at my wall on my room without thinking anything but listening my deep breathe.

I don't get it but i know i am not fine.

Saturday, September 6, 2014

All of this fun, in this crowded place, all of this laughter. It is not because i did not appreciate what time has given right now. Because i do really. But..

If i do also really wish you were here, with this laughter, is it too much?

Friday, September 5, 2014

Monday, September 1, 2014

Perempuan Blazer Coklat

Perempuan yang duduk di sofa, tepat didepanku punya wajah cantik. Rambutnya agak kecoklatan hasil rebonding, dikepang satu, menjuntai indah di belakang kepalanya. Kelihatannya anggun, hanya saja tidak begitu terpancar untuk orang lain. Entahlah, apakah karena dia memakai setelan blazer coklat muda sehingga dia jadi terlihat seperti orang yang kaku. Tidak begitu senang tertawa atau ceria di pergaulannya sehari-hari. Atau mungkin saja dia jadi terlihat seperti itu, karena..well..mungkin ia memang bekerja di posisi penting yang membutuhkan konsentrasi serta fokus yang penuh sehingga membuat ia tidak begitu senang ber-haha-hihi karena pekerjaan yang begitu berat. Entahlah, mungkin ia seorang bendahara atau pengelola keuangan. Managing money is always frustrating for some other people. Bayangkan saja kalau setiap hari selalu berkutat dengan angka. Betapa capainya kedua mata itu karena terlalu sering bekerja di depan layar monitor. Menelanjangi setiap angka.

Itu sebabnya ia sesekali melepas kacamata minusnya dan memijat puncak hidung diantara kedua bola matanya. Yeah, i know how it feels wearing your glasses all day long. Penderita rabun jauh selalu punya dua pilihan. Kacamata atau lensa kontak. Kedua hal ini masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. If you asked my opinion, you must be not a careless person if you'd like to wear soft-lens. Jangan pernah coba-coba pakai lensa kontak kalau kamu buka orang yang sangat telaten. Jangan latah, ikutan trend. Bukannya apa ya, salah sedikit ketika memasang bisa sangat fatal untuk mata kamu. Sudah banyak kasus kerusakan pada bola mata gara-gara lensa kontak. Kalau saya sih, mending pilih yang aman saja, yaitu kacamata. Since i am little bit kinda careless about this, i am sure glasses is the best option.

Back to the woman, apakah ada seorang lelaki dalam hidupnya? Yes, she already married. Is that because of a ring? Honestly, i haven't seen her fingers. Saya hanya berasumsi dari looks nya. Sepertinya sudah tidak muda lagi. Tapi, tidak juga terlalu tua. Mungkin dia berumur sekitar 35 tahun. Sangat bersahaja. Kelihatan dia seorang perempuan memiliki banyak hal yang mesti dia fikirkan. Keluarga adalah salah satunya. Terlihat dari guratan halus di balik polesan bedak di wajahnya. Mengasumsikan dia kalau dia sering berfikir. Dan tampaknya semua perempuan yang sudah menikah seperti itu. Akan semakin sering berfikir. Hehe..inside joke. 

Dia sedang asik dengan iphone nya. Wajah orientalnya kelihatan bosan. Karena urusan dia di tempat ini belum selesai juga. Tidak tahu pasti tentang apa itu, tapi dia punya urusan yang sama dengan saya disini. Juga dengan kebosanan ini, sama dengan yang dia rasakan sekarang. Urusan dia belum selesai dan antrian ini juga tidak berjalan. Aku menguap sebentar, tapi bosan ini tidak ikut menghilang. 

Perempuan itu lalu bangkit berdiri dari loket pelayanan. Sepertinya urusan dia sudah selesai. Dan semoga kebosanan ini juga cepat berakhir. Dia membereskan semua map nya disana, lalu pergi dengan langkah pasti membawa tasnya. Anggun, mungkin sama seperti semua orang di ruangan ini ketika melihatnya berlalu.

Saturday, August 23, 2014

Salah satu yang bikin heart-breaking minggu ini adalah ketika penjual batagor langgananmu tidak pernah muncul lagi ditempat biasanya, disaat kamu mulai sangat menginginkan makan batagor kesukaanmu itu :"

Thursday, August 21, 2014

Sesederhana Main Basket dan Dua Remaja Istimewa.

Beberapa hari belakangan ini tulisan rada galau. Emang sih akhir-akhir ini saya agak sedih. Ada masalah. Yah biasalah, gak ada hidup yang baik-baik saja. Tapi, ternyata saya gak hanya merasa sedih, tapi juga lupa.

Pagi ini mencengangkan diri saya sendiri. Lagi-lagi terfikir apakah hari ini akan menjadi hari yang berat. Apakah hari ini akan menjadi hari dengan kekhawatiran yang sama. Langkah pertama keluar dari pagar rumah, tiba-tiba diperlihatkan saya dengan sebuah pemandangan menyadarkan. Ada dua orang remaja menderita down-syndrome. Sepertinya mereka saudara. Lengkap dengan berpakaian seragam sekolah. Memang didekat rumah nenek saya ini, ada sekolah luar biasa. Hanya saja saya tidak pernah tahu dimana letaknya dan saya pikir sekolah itu sudah berhenti.

Mereka itu tertawa. Bercanda di jalanan. Berangkat ke sekolah sama seperti orang lain. Seakan gak ada masalah apapun. Padahal mereka gak sama seperti orang lain. Mereka istimewa, berbeda.Tapi, mereka tuh kelihatan baik-baik saja. Saya langsung merasa tolol.

Bego banget malah. Udah dikasih segini banyak nikmat, ada orang-orang baik terdekat yang bisa saya sayang sepenuh hati, dan harusnya saya fokus dengan mereka. Lalu, karena seibrit masalah gara-gara orang gak dikenal aja langsung ciut. Trus, dengan ada masalah secuil ini saya jadi galau habis-habisan? Saya harus kalah sama orang lain yang saya tidak kenal gitu? It is just completely ridiculuous.

Saya harusnya sadar, masalah ini gak sebanding dengan apa yang Tuhan sudah kasih. "Orang" ini gak berhak apa-apa untuk membuat saya tidak fokus dengan apa yang sudah saya bangun. Dan saya sudah, dan selalu bisa melewati situasi seperti ini. Trus, kenapa sekarang berbeda?

Saya lupa kalau sebelum masalah ini datang, saya sudah punya apa yang gue butuhkan. Tuhan sudah kasih semuanya. Mungkin saya lupa bersyukur lagi. Dan dengan masalah itu, melalui "orang" itu, jadi reminder buat saya sendiri. Ini ujian.

Hadapi. Terima. Maafkan. Lalu, ikhlaskan. Saya harusnya seperti itu.

(Ditulis sambil sarapan dan mengingat betapa sederhananya bahagia itu selama kita menginginkannya. Sesederhana sore kemarin dan pagi ini)

Wednesday, August 20, 2014

Buat saya, film MIKA selalu punya pesan moral sendiri. Tiap kali saya nonton atau bahkan sekedar ingat-ingat lagi tentang filmnya, saya seperti diingatkan lagi tentang kesempurnaan.

Saya gak sempurna. Sangat tidak sempurna. Dan karena itu, orang-orang bisa datang dan pergi. Karena saya gak punya kesempurnaan itu untuk menahan mereka disini. Saya memang gak tau apa-apa. Cuma bisa berusaha yang terbaik sebisa saya untuk mempertahankan. Dan tanpa kehendak mereka sendiri juga, saya sama sekali gak bisa.

Tetaplah seperti ini, hati..
Sungguh, bahagialah..
Cerialah seperti kau sebelum khawatir ini datang..
Jadilah pelangi seperti dirimu sebelum mendung ini tiba..

Sejenak saja..
Atau tak bisakah kau menjadi sama seperti sore ini?
Yang bisa sesederhana itu kau bahagia.
Aku sungguh rindu dirimu yang itu, hati.

Tuesday, August 19, 2014

Jangan bersedih, hati.
Kau tidak perlu khawatir.
Sungguh, karena kau punya Dia.

Jangan menangis.
Kau tidak perlu takut.
Sungguh, jangan..
Setidaknya jangan malam ini..

Jangan sekarang..

Sunday, August 17, 2014

Karena Satu Kata, Rusak Semua Momennya.

Mungkin itu sebabnya, sesekali perempuan butuh bicara. Jangan kode muluu deh kayaknya. Karena kode kadang tidak berhasil untuk kita berkomunikasi. Karena laki-laki terlalu tuli dan tidak peka dengan bahasa kode. Gak tau, terserah mau kode semaphore kek, kode morse, atau apalah itu, laki-laki jarang ada yang mengerti. And most of them are like that. Always. Mungkin ini ada keterkaitan juga dengan ego. Itu sebabnya, komunikasi sering jadi akar permasalahan antara laki-laki dan perempuan.

Tapi, ada juga lho ternyata yang kita ngomong sudah to do point banget, tapi tetap aja gak ngerti. Ada. Jelas gitu aja gak ngerti apalagi kalau dikodein. Itu gimana ceritanya *facepalm* Wkwk~

(Terinspirasi dengan momen malam ini. Rusak.)

"O"

Flock of birds
Hovering above
Just a flock of birds
It's how you think of love

Mungkin cinta akan seperti burung. Entahlah, mungkin lembut dan polos seperti merpati. Atau berani dan kuat seperti elang. Ketika kau tengadahkan kepala mu melihat langit, ada sepasang merpati terbang beriringan. Saling melengkapi, berbagi udara diatas sana. Tidakkah hatimu melembut seperti saat kau sedang jatuh cinta?

And I always
Look up to the sky
Pray before the dawn
'Cause they fly always
Sometimes they arrive
Sometimes they are gone
They fly on

Jika cinta bagaikan sepasang burung, entah itu merpati atau elang, maka ia bisa pergi dan pulang. Kadang ia tinggal disini. Lalu, kemudian pergi mengepakkan sayapnya. Menjelajah langit. Dan hanya bersama fajar, ku edarkan penglihatanku ke langit. Ah, lihat betapa indahnya Tuhan menciptakan warna seindah itu. Hanya ada aku dan Tuhan dalam warna. Bercakap dengan Tuhan, sekedar meminta agar ketika cinta itu pergi, dia selalu tahu kemana ia harus pulang.

Flock of birds
Hovering above
Into smoke I'm turned
And rise following them up

Terbang bebas, mungkin seperti itulah seharusnya memperlakukan cinta. Bukan dalam sangkar. Dengan siulan nyanyian lembut. Bukan dengan teriakan marah nan kasar. Dan karena cinta terlalu rapuh akan sebuah kebebasan. Dia hanya butuh apa yang ia butuhkan. Ia tidak membutuhkan apa yang kita inginkan. Dia tidak butuh digenggam erat. Dia butuh kita menuntunnya pulang ketika ia sudah terlalu jauh terbang dan tersesat di langit yang sudah terlalu gelap.

Still I always
Look up to the sky
Pray before the dawn
'Cause they fly away
One minute they arrive,
Next you know they're gone
They fly on
Fly on

Dia memang boleh bebas. Pergi dan pulang. Terbang dan hinggap. Tapi, aku tetap meminta apa yang kuinginkan. Aku tetap meminta Dia melindungiku. Melindunginya.

So fly on
Ride through
Maybe one day I'll fly next to you
Fly on, ride through
Maybe one day I can fly with you

Mungkin suatu hari aku akan terbang bersamamu. Berbagi udara diatas sana. Terbang beriringan disampingmu. Agar aku tahu rasanya bebas seperti mu. Karena aku bebas ketika bersamamu. Dan aku butuh bersamamu.

(From my favorite song's lyric: "O" - Coldplay)
Ada banyak ruang disini.
Tapi, sesak dipenuhi rindu.
Dipenuhi dirimu dengan segala ketidaksempurnaannya yang sempurna.
Dipenuhi diriku dengan segala ketakutannya yang berani merasa

Merindukanmu akan berbahaya.
Dengan segala resiko ketidakpastiannya.
Kubiarkan rindu tertanam, lalu kucabut ia lagi.
Terus, hingga aku menginjakknya lantas tumbuh.

Kuteriakkan namamu agar lebih luas dari ladang kesepian 
Kuhembuskan angin rindu agar ia lebih bebas dari perasaan ini.
Kualunkan khilafku dalam bait doa bersama mata hati terbalut pejamannya.
Mengapa kubutuhkan rindu secepat kini?




Engkaulah gulita yang memupuskan segala batasan dan alasan
Engkaulah penunjuk jalan menuju palung kekosongan dalam samudera terkelam 
Engkaulah sayap tanpa tepi yang membentang menuju tempat tak bernama namun terasa ada 

Ajarkan aku, 
Melebur dalam gelap tanpa harus lenyap 
Merengkuh rasa takut tanpa perlu surut 
Bangun dari ilusi namun tak memilih untuk pergi

Tunggu aku, 
Yang hanya selangkah dari bibir jurangmu.

(Dari buku "Akar" Supernova oleh Dewi Lestari)

Thursday, August 14, 2014

Walk straight. Keep your head up. And keep on fooling yourself, non..

Tuesday, August 12, 2014

Photos.

I looked back my photo album on my instagram account. It is filled with photos of my beloved people. And i am so grateful that i have them stay around me, that i can love..

Monday, August 11, 2014

Kangen Odit.

I really can't explain how i miss Odit so much. I've not talked to him for a week. And i miss when he's angry at me. Lol.

Emang bener kata orang, kita bakal tahu kita sayang sama seseorang setelah dia pergi, gak ada di dekat kita. Gue sama Adit layaknya kakak-adik pada umumnya. Eits, bukan kakak-adik ketemu gede ya, tapi saudara kandung. Saudara beneran. Hehe.

Kita marahan, baikan, diem-dieman, trus kompakan. Tiap pagi gue paling sering kena omelan dia gara-gara gue telat bangun. Telat mandi dan segala macem. Gue bener-bener kangen dimarahin adek sendiri.

Gue mungkin belum jadi kakak yang baik buat dia. Terakhir kali ketemu dia aja gue cuma bisa kasih dia buku TOEFL sama buku Fisika Dasar. Gak kece plus gak seru banget kan? It doesn't sound fun for a farewell gift. Soalnya menurut gue, dua hal itu penting buat dia. Mengingat karena dia bakal tes kemampuan dasar gitu, dan salah satu mata pelajaran yang diujikan bahasa inggris dan fisika. Jadi, gue gak terlalu jahat amat kan kasih dia buku tebal dan membosankan macem begituan? Heu..

Dan sekarang tinggal si Bungsu ini adek gue yang masih disini. Tahun depan dia bakal kuliah juga. Entah itu di sekitaran Makassar aja atau diluar Makassar. Dengan tau dua kenyataan kalau kedua adek gue udah kuliah dan (akan) kuliah, gue merasa lebih tua aja. Ternyata waktu cepat banget berlalu. Time flies so quickly.

Day 10: Your Bestfriend

Di bangku SD, sahabat saya ada dua orang. Mereka adalah teman sekelas dan teman satu mobil jemputan. Kami bahkan tidak tahu apa itu sahabat....