Saturday, August 9, 2014

Jilboobs Terkenal Karena Kita.

Baru buka home facebook lagi dan saya kaget. Yup, apalagi kalau bukan karena artikel tentang Jilboobs. Scroll terus, baca belasan artikelnya dari sumber yang berbeda pula. Kembali ada perpecahan terjadi disana.

So sad knowing about this. Tapi, mari kita lihat dari beberapa sudut pandang yang berbeda. Pertama, mari kita lihat dari hal yang lebih fundamental dari semuanya. Hukum menutup aurat.

Cek lagi (An-Nūr):31 - Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka..."

Referensi dari Alqur'an langsung, jelas hukumnya wajib. Hematnya, jilbab itu menutupi. Dan disebut menutupi karena tidak melekukkan bagian tubuh lainnya.

Selanjutnya, harus saya akui, berkerudung tapi memakai kaos ketat itu memang kurang tepat. Karena pada dasarnya jilbab untuk melindungi. Singkatnya, kalau lekuk tubuh tetap terlihat jelas, apanya yang harus dilindungi lagi?

Memang itu bagian dari proses, saya pun awalnya juga seperti itu sampai akhirnya pakai jilbab syar'i. Proses, bukan berarti jalan ditempat disitu saja. Tetap berusaha memperbaiki tiap langkah, itulah proses. Terus belajar. Biar prosesnya maju. Tidak diam ditempat begitu saja.

Lebih penting lagi, ayo kita sama-sama lihat diri masing-masing. Lihat apakah kita memang sudah lebih baik daripada orang lain. Rasanya agak miris ketika tahu ada page Jilboobs community. Dan akan sangat miris lagi kalau adminnya ternyata seorang muslim.

Jika kita memang peduli, apakah tidak lebih baik kalau menasehati langsung secara personal dengan orangnya? Tidak perlu lah membuat page seperti itu. Apalagi turut meng-like atau mem-posting foto saudari mu disitu. Saya rasa orang-orang yang sudah mempopulerkan dan membuat istilah rese' itu menyebalkan juga.

Dan sadarkah kita bahwa orang-orang yang turut meng-klik tombol "share" juga ikut menyebarkan fitnah karena menyebarkan foto milik perempuan2 yang diupload di artikel tersebut? Sadar gak kalau kita juga turut menjelekkan mereka karena foto mereka juga tersebar yaa karena kita juga. Tanpa sengaja, kita juga bikin mereka jelek juga, membuka aib mereka, didepan orang lain. Fikirkan lagi deh.

"Tapi, kita kan juga cuma mau bikin mereka sadar" | Tujuanmu baik, tapi caramu salah. Nasehati teman mu langsung. Dari hati ke hati. Itu cara yang lebih efektif dan tepat. Dari istilah saja sudah mesum dan kasar begitu, bagaimana nasehatnya mau didengar?

Berhenti menyebarkan artikel tentang jilboobs. Jika kontennya foto aurat wanita juga. Hanya akan menambah dosa jariyah. Masih banyak artikel bermanfaat lainnya yang ada korelasi nya dengan itu, yang bahasanya lebih halus dan lebih baik.

Maaf kalau ada kata-kata saya yang tidak berkenan. Semoga bisa mengingatkan. Wallahu a'lam.

Hidup Seperti Anak SMA.

Tidak. Ini bukan lagi sebuah cerita tentang masa SMA. Tidak ada lagi diri yang semerta-merta mengambil keputusan seenak jidat. Atau, diri yang berlarut dalam kepekatan dunianya sendiri. Atau diri yang egois dan serakah tentang keelokan dunianya saja. Sudah tidak ada lagi hal-hal mudah disini.

Dewasalah. Berfikirlah. Tegaslah. Tidak usah jauh kepada orang lain, tegas dengan dirimu sendiri. Apa dan siapa yang kau inginkan dalam hidupmu. Dewasalah. Segala sesuatu akan selalu menjadi rumit daripada dirimu sendiri. Umur kita bertambah, pola fikir kita berubah. Begitu juga dengan keinginan kita. Kita akan semakin serakah seiring dengan bertambahnya tiap detik kita. Tapi, bijaklah. Pilihlah dengan tegas. Atau dewasa bahkan akan merusakmu. Bukan mengubahmu lebih baik.

Hidup kita tidak semudah hidup anak SMA lagi. Hura-hura, tanpa tekanan. Terbang tanpa pilihan. Tidak. Kau punya hidup. Kau punya keluarga. And you will have your own family. Kau akan selalu punya pilihan. Dan pilihan itulah yang menentukan kau akan hidup seperti apa.

Mereguk cemburu,
Tersedak sakitnya.
Racun membakar didalam sana.
Termegap-megap bernafas.

Logika berlari.
Amarah menguasai.
Bersama sakit ia menjalar.
Sendiri ia seorang manusia merasa.

Menelan untuk dirinya sendiri.
Tumpah bulir air matanya.
Mengalirkan perih.
Bersama ikhlas batinnya.

Raganya bergetar.
Tidak berdaya akan apapun.
Tidak dunia, tidak juga dirinya
Menahan sesuatu yang lebih besar dari dia didalam sana.

Hati-nya.
Ego-nya.
Rasa-nya.

Dan merelakan sesuatu yang lebih kuasa darinya....

Hatimu.
Egomu.
Hidupmu.

Sunday, July 27, 2014

Can't Sleep.

Detik-detik terakhir menuju hari raya. Suara kembang api dan petasan bersahutan diluar sana. Semua orang dirumah ini sudah terlelap. Dan seperti biasa, saya belum bisa tidur.

Sayup-sayup suara takbir dari beberapa mesjid, masih bergema diluar sana. Hati siapa yang tidak bergetar mendengarnya. Tiga puluh hari Bulan Ramadhan terasa berlalu begitu cepat. Manusia bahkan mungkin tidak tahu harus bersedih karena kepergian Ramadhan ataukah harus berbahagia karena Hari Raya Idul Fitri. Mungkin juga harus merasa keduanya.

Sejenak doa-doa pun disebut dalam hati. Banyak doa yang rasanya ingin sekali dibiarkan melangit malam ini, bersama gema takbir. Semoga diri ini bisa bertemu kembali dengan Ramadhan tahun depan. Bersama keluarga dan orang-orang tercinta. Semoga Allah melindungi keluarga saya. Semoga Allah melindungi teman dan kerabat diluar sana. Semoga Allah melindungimu. Hanya sebuah doa yang tidak muluk untuk malam ini.

Aamiin..

Saturday, July 26, 2014

I need to write something on my blog. I am getting more insane lately.

Wednesday, July 16, 2014

Note For This Morning

Catatan pagi ini:

Semoga Allah memberkahi orang yang lembut hatinya, saking baiknya bahkan sangat sedih melihat seekor katak mati pagi ini.

Dan..

Semoga Allah mengampuni orang yang egois hatinya, saking buruknya bahkan tanpa merasa bersalah lewat di atas jalanan yang belum sepenuhnya selesai. Semennya masih basah. Padahal, banyak orang yang terjaga hanya untuk membangun jalan tersebut, untuk kepentingan umum.

Aamiin..

Monday, July 14, 2014

Es Krim

Es krim ini mulai mencair. Mungkin karena tadi aku lupa masukkan di kulkas. 
Tapi, tak apalah, mencair pun ia tetap namanya es krim. Rasanya juga masih 
sama.

Bukan masalah es krim ini enak maka lantas aku tetap memakannya 
walaupun ia mencair, 
yang membuat es krim ini berharga. 
Tapi, karena ada kebaikanmu di dalam sana. 

Mungkin karena merasa kebaikan ini tulus 
makanya es krim ini terus melekat dipikiranku. 
Dan aku mereda.
Entahlah. Tapi, mengapa?

Maka, kupandangi lagi es krim ini. 
Mencari tanya dan jawabannya sekaligus disana.
Berharap rasionalitasku tetap bekerja saat ini.

Email Tahun 2013

Seperti ada yang aneh lagi ketika melihat sekumpulan email itu lagi, dari pengirim yang sama. Sekumpulan email yang dikirimkan pada tahun 2013 lalu. Sekumpulan email yang menjadi saksi bisu dari sebuah awal dan proses, walaupun akhirnya gagal. Sengaja saya tidak hapus, supaya mengingatkan diri sendiri tentang bagaimana harapan bermula dan ketidakpastian selalu menjadi bagiannya.

Bukan orangnya, tapi makna dan hikmahnya itu yang membekas dari proses tersebut. Ternyata setiap detil hidup selalu diatur oleh Allah. Masih jelas terekam bagaimana awal, proses dan akhirnya. Tidak terduga, diluar akal saya. But, that's the way it is. Begitulah caraNya. 

Tapi, justru kegagalan itu seperti menumbuhkan harapan. Bahwa dulu saja Allah bisa pertemukan dengan orang yang tidak terduga, dengan cara tidak terduga pula. Mengapa tidak Dia lakukan sekali lagi, kepada saya kelak?

Siapa dan dimana dia? Pertanyaan klasik bagi orang-orang yang sedang merindu separuh hidupnya. Hanya menggenggam ketidaktahuan dan ketidakpastian yang dikandung masa depan. Tapi, justru itu yang menumbuhkan keinginan untuk berjuang. Bukan hanya sekedar untuk jodoh itu sendiri, tapi untuk Allah dan diri sendiri, dunia dan akhirat.

Kadang ragu kapan Allah akan mempertemukan. Hingga perlahan rasa jenuh dan bosan hinggap. Mungkin itu saatnya Allah sedang bertanya "apakah kau bersungguh-sungguh?" Dan mengajak diri melihat jauh ke dalam. 

Tulisan ini bukan hanya perihal jodoh saja, tapi tentang sesuatu yang harus kau perjuangkan untuk dirimu sendiri. Yang harus kau usahakan yang terbaik untuk mendapatkan akhir yang terbaik. Dengan segala macam ketidakpastian dan kemungkinan yang akan muncul di sepanjang jalan. Membuatmu jatuh bangun dalam berharap. 

Bukankah jika segala sesuatu itu sudah pasti kita ketahui setiap rincinya, kita tidak akan melakukan apa-apa? Kita tidak akan punya sesuatu yang bisa kita tuju. Tidak seru. Terus, hidupmu kemana? Imanmu buat apa? 

Harapan karena ketidakpastian dengan setiap lantai keraguan didalamnya, membuat kita mau kembali berdiri, berjuang lagi. Membuat iman mu justru menjadi hidup.
"Berjalan berseberangan untuk kemudian saling menemukan sekali lagi, walau tahu akan kembali mengeja rasa masing-masing dalam diam, sekali lagi."

(reblogged this from http://ainidarmansyah.tumblr.com/)

Sunday, July 13, 2014

Renungan Hari ke-16: Haruskah Hati Menciptakan Jarak?

Alkisah, seorang Ustadz bertanya kepada para santrinya, "Tahukah kalian, mengapa ketika seseorang dalam keadaan marah, ia berbicara kuat-kuat atau berteriak?" 

Seorang santri menjawab,"Mungkin karena disaat seperti itu, ia telah kehilangan kesabaran sehingga berteriak."

"Tapi, bukankah lawan bicaranya berada di dekatnya? Jadi, mengapa harus berteriak? Apakah sang lawan bicara tidak dapat mendengar jika dengan sura halus? Ataukah ia tak dapat berbicara secara halus?"

Hampir semua santri memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut pertimbangan mereka. Namun, tak satupun jawaban memuaskan. Lalu, sang Ustadz berkata "Ketahuilah, ketika dua orang sedang berada dalam situasi penuh dengan kemarahan, maka jarak antara kedua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang sedemikian jauh, mereka harus berteriak. Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin menjadi-jadi pula kemarahan mereka dan jarak hati yang ada diantara keduanya pun menjadi semakin jauh. Karena itu, mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi"

Satu Bingkai.

Kerudung orangenya berkibar tertiup hembusan angin. Rintik hujan mulai turun. Langkahnya cepat seperti biasa. Waktu berbuka puasa sudah dekat. Alunan A Thousand Year kembali mengalun di telinganya. Dengan sedikit terburu-buru, ia naik mobil angkutan umum yang sudah mulai menjauh lagi.

Ini hari yang melelahkan untuknya. Entah kepada siapa lagi ia harus mengadu kecuali dengan hatinya sendiri. Tidak, bukannya ia tidak mempunyai orang-orang disekitarnya yang rela mendengarkan keluh kesahnya. Hanya saja, kadang seseorang butuh waktu untuk dirinya sendiri. Mungkin sekedar berbincang sebentar dengan Tuhan yang ada dalam hatinya. Lagipula ini hanya lelah, bukan sekarat. Bukan masalah.

Sesekali perempuan itu memeriksa telepon selularnya. Sekedar melihat, sudah jam berapa sekarang. Deg..seperti ada denyutan kecil di kalbunya setiap melihat wallpaper di layar handphone-nya.

Entah apa yang menggerakan perempuan itu untuk memilih foto tersebut. Bagaimana bisa ia sekarang bisa berada satu bingkai dengan orang yang sebelumnya dia tidak pernah berfikir, bahkan hanya untuk mengharapkannya saja rasanya dirinya tidak pantas? Dia, dengan segala sempurnanya. Dan perempuan itu, dengan segala kekurangannya.

Terlihat canggung perempuan itu di foto itu. Ah, mungkin ini hanya satu kesempatan kecil dari Tuhan. Agar dia sejenak bisa merasakan rasanya berdiri di sampingnya, bukan hanya dibelakangnya. Memandangi punggungnya diam-diam setiap dia berjalan. Tidak hanya mengaguminya dari jauh, tapi dari jarak sedekat ini. Dalam satu bingkai.

Saturday, July 12, 2014

Renungan Hari ke-15: Bulan Ramadhan, Bulan Sabar

Bulan Ramadhan mengajarkan kita untuk bersabar. Karena pahala yang dijanjikan adalah tak terhingga.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda 

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” (HR. Muslim no. 1151)

Renungan Hari ke-14: Barangsiapa Yang Bertawakal Kepada Allah, Dia Akan Mencukupinya

Suatu ketika masuklah seorang sahabat RasulullahShalallahu ‘Alaihi wassalam ke masjid Nabawi padahal saat itu bukan waktunya untuk melaksanakan shalat fardhu. Di dalam masjid, sahabat tersebut menemukan seorang bocah kecil sedang melaksanakan shalat dengan khusyuk. Hingga ia pun lantas menunggui bocah tersebut sampai selesai melaksanakan shalatnya.

Setelah selesai shalat, sahabat tersebut mendekati bocah itu dan menyalaminya sembari berkata, “Wahai anakku, siapakah orang tuamu?” anak tersebut menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mengeluarkan air mata pertanda menangis dan sedang sedih. Ia kemudian mengangkat kepalanya dan berkata, “Wahai pamanku, aku adalah anak yatim piatu yang sudah tidak lagi mempunyai ayah dan ibu.”

Renungan Hari ke-13: Hidup Itu Pilihan

Sebab, keimanan manusia tidak diciptakan untuk ditahan dalam tempurung baja yang terkunci rapat dan aman. Iman diciptakan oleh Allah dan ditempatkan ke dalam organ yang tidak statis. Ia justru bernaung di hamparan organ yang mudah berubah, bolak-balik, naik turun, yaitu di dalam kalbu, di hati manusia.

Mengapa Allah menaungkan iman di dalam organ abstrak yang labil dan mudah sekali berubah? Mengapa tidak diciptakan saja organ statis dan stabil yang melindungi dari hawa nafsu dan hembusan kotor masuk kedalamnya, supaya iman itu aman, sehingga selamatlah kita semua?

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al-Ankabut: 2)

Maka, terjawablah pertanyaan itu. Kalau iman sudah terjaga dalam hamparan organ yang tidak mungkin ditembus oleh rayuan kotor hawa nafsu, lalu untuk apa kita diciptakan di jagat raya ini? Dunia yang penuh sesak oleh segala kesenangan semu dan bujuk rayu sengaja diciptakan untuk menggoda hati kita yang selalu berbolak-balik. Apakah kita bisa bertahan dengan rayuannya yang sering kali melalaikan?

Renungan Hari ke-12: Haruskah Menunggu Batu Yang Dilemparkan?

Alkisah, seorang eksekutif muda memacu mobil Jaguar-nya yang baru. Di tengah perjalanan, dimana banyak mobil diparkir di pinggir jalan, tiba-tiba sebuah batu bata dilemparkan dengan keras ke pintu Jaguar-nya.
Secepat kilat ia menginjak rem dan memutar balik, menuju asal batu itu dilemparkan. Dengan marah ia melompat keluar dari mobil menarik kasar kerah baju anak yang melempar batu bata, dan mendorongnya hingga terbentur sebuah mobil yang diparkir.

“Apa-apaan ini? Apa yang kamu lakukan? Perbuatanmu membuatku harus mengeluarkan banyak uang untuk memperbaikinya. Apa maksudmu melakukannya?”

Anak laki-laki itu berbicara takut-takut,”Maaf , Tuan, saya minta maaf. Saya tidak tahu harus berbuat apa lagi. Saya melemparkannya karena tidak ada yang mau berhenti”

Thursday, July 10, 2014

Note For Us.

Alunan A Thousand Year versi Boyce Avenue memenuhi malam larut ini. Semoga lagu ini bisa meninabobokan aku, membuatku tidur walau hanya sebentar. Aneh karena malam ini mataku tidak mau terpejam padahal seharian ini rasanya melelahkan sekali.

Kupandangi langit-langit kamarku dan entah sudah berapa kali lagu ini dimainkan. Dan aku masih tidak bisa terlelap.

Seribu tahun. Aku belum tahu apa yang akan aku lakukan jika aku benar-benar bisa melewati seribu tahun kehidupanku. Tapi, apakah memang rasanya akan menyenangkan hidup disini selama itu? Sayang sekali ini bukan film Twilight, yang kehidupan tokohnya berjalan sempurna. Ini hidup, dan hidup itu dinamis. Bergerak naik-turun.

Seribu tahun. Mungkin akan terasa sangat lama jika seandainya aku harus menunggu seribu tahun untuk sesuatu. Tapi, jika itu adalah waktu yang terbaik pada saat tahun ke seribu, maka disitulah ia akan terjadi. Segala sesuatu yang terbaik tidak akan salah atau disesali kelak. Dan waktu terbaik itu hanya akan datang pada orang-orang yang siap.

Kita akan telusuri setapak jalan ini. Kita ikuti saja alur cerita hidup kita ini. Kita berjalan, kita tumbuh. Perlahan saja. Biar kita tidak merusak akhir ceritanya.

Maka, aku akan bersiap. Aku akan bersabar. Walau seandainya, itu membutuhkan waktu seribu tahun.

Wednesday, July 9, 2014

Note for Gaza.

Tulisan pendek pagi ini untuk saudara-saudari kita di Gaza. Thanks for twitter, which could provide update informations about what happened out there.

Baru saja saya sibuk scroll timeline twitter, dan tidak hanya penuh dengan berita kemenangan Jerman dan berhasil mempercundangi Brazil di pertandingan Semifinal World Cup 2014. Tapi, timeline saya juga penuh dengan berita tentang penyerangan lagi di bumi Gaza oleh Israel. Rasanya timeline twitter menjadi sangat ironis ketika menyajikan berita gembira dan berita duka di saat yang bersamaan.

Pilu rasanya ketika melihat foto anak-anak kecil yang terbujur kaku, setiap hari pasti ada dari mereka meninggal. Disaat bersamaan, baru saja kemarin di sebuah rumah makan cepat saji, saya melihat anak balita yang sangat lucu, sehat, tanpa kekurangan satu anggota tubuh pun. Ketika saya mengingat-ingat lagi, membandingkan anak-anak di Gaza dan di Indonesia, maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Alhamdulillah anak-anak disini sedikit lebih beruntung. Tapi, dibalik musibah ada hikmah. Anak-anak disini mungkin baik-baik saja, tapi mereka tidak mendapatkan kesempatan mati syahid seperti anak-anak di tanah Gaza. Menunggu orang tua mereka di gerbang Jannah. Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Semoga Allah memberikan kekuatan dan kesabaran kepada saudara-saudari kita di Gaza, dalam menghadapi kezaliman disana. Insya Allah, Allah akan memberikan balasan Jannah untuk mereka yang sedang berjuang di jalan Allah. Mari kita juga sejenak renungkan dan kirimkan doa untuk mereka disana.
Aamiin..

(Ditulis di pagi hari yang tenang. Maaf jika tulisan ini kata-katanya berantakan. Saya hampir kehabisan kata ketika menulis ini)

Tuesday, July 8, 2014

Renungan Hari ke-11: Jemaah Facebookiyah

“Jangan-jangan kita lebih menikmati teriknya siang di bulan Ramadhan hanya untuk ber-facebook ria daripada melakukan aktivitas produktif. Lebih intens update status daripada menyempatkan waktu untuk iktikaf. Kita lebih memilih chatting daripada membaca Al-Qur’an”

Tidak selamanya teknologi selalu membawa kebaikan. Meskipun begitu banyak kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi, tetapi begitu banyak pula yang direnggutnya. Meskipun kita sadari bersama bahwa tidak selamanya kita harus bingung akibat teknologi baru yang terus bermunculan. Teknologi itu sesuatu yang netral. Tidak bisa disebut sebagai sumber kebaikan, tetapi tidak bisa juga disebut sumber keburukan. Ibarat sebilah pisau, ia bisa menjadi kebaikan, juga terkadang berdampak keburukan, bergantung siapa yang memegangnya. Kalau bilah pisau itu dipegang oleh perampok, ia akan beralih fungsi menjadi alat pembunuhan, media kejahatan. Tentu berbeda jika pisau itu dipegang oleh ibu kita di dapur untuk mengiris bawang.

Lalu, bagaimana menyikapi facebook atau jejaring sosial yang telah bertaburan di internet?

Renungan Hari ke-10: Cerdas Menghadapi Kaum Peminta

“Jika anda memilih untuk tidak memberi tapi selanjutnya tidak mau melakukan tindakan apapun kepada mereka, ya, sama juga bohong”

Negeri Kaum Peminta, itulah kita. Berdasarkan survey dari sebuah lembaga, jumlah kaum pengemis dan gelandangan semakin bertambah tiap tahunnya. Beberapa daerah, baik provinsi maupun kabupaten, melaporkan bahwa peningkatan jumlah kaum pengemis masih cukup signifikan. Meskipun kita sepenuhnya menyadari, menjadi dilematis ketika kita harus menyorot kehidupan pengemis, namun bukan tidak pantas juga bagi kita untuk mengkritisinya. Pasalnya, “pekerjaan” ini selalu menjadi alternatif menarik bagi yang merasa tidak memiliki keahlian pada pekerjaan yang lebih baik.

Monday, July 7, 2014

Di gelap ini..
Diri menahan pilu serta malu karena telah lupa
Rasanya sudah terlalu lama
Kaki ini telah pergi melanglang buana

Gelap yang ini..
Bulir-bulir air mata basahi sajadah
Getar memohon ampun ucap bibir ini
Adakah Tuhan maafkan aku yang salah?

Gelap yang ini..
Biarkan gelap ini tenggelamkanku
Agar bisa ku peluk Nuur yang ku cari
Agar Tuhan bisa beri aku cahaya-Nya, memelukku.

Sunday, July 6, 2014

Note for Someone

Kalau ada yang berbuat tidak baik dibelakang kita, itu masalah dia.

Yang jadi masalah, kalau kita ikutan seperti itu.

Gak apa-apa kalau dia mau berbuat buruk apa saja dibelakang sana, asal jangan kita yang berbuat seperti itu.

Kita cuma bisa berdoa agar dijauhkan dari segala macam keburukan, baik yang terlihat, maupun yang tidak terlihat.

Keep calm and let Allah do the rest.

(Inspired by my deep-conversation with Sri couple days ago. Hmm Sri has taught me a lot of things)

Renungan Hari ke-9: Getaran Syahadat

Islam selalu memberikan jalan bagi umatnya, dalam melakukan segala aktivitas melalui berbagai cara yang unik. Sepertinya masing-masing syariatnya tidak berhubungan tetapi  setelah diperdalam, kita pun akan semakin mengerti tentang indahnya agama kita. Semuanya saling terkait satu sama lain. Lima panduan, lima pedoman. Berbicara tentang pedoman, kita punya 5 poin yang terbentuk sebagai lima rukun islam. Rukun islam inilah yang menjadi pedoman bagaimana cara untuk mengimplementasikan keislaman kita dalam kehidupan sehari-hari. Yaitu dengan Syahadat, Shalat, Zakat, Puasa, dan Haji. Tapi, dari kelima ini, syahadat menjadi poin terpenting dalam Islam. Karena jika baik syahadatnya, memaknai nya dengan baik, maka insya Allah, keempat rukun lainnya dapat dilakukan dengan baik pula.

Sejatinya, syahadat adalah perjanjian kita dengan Allah. Dalam Al-Qur’an telah Allah beritahukan bahwa sebelum seorang manusia dilahirkan, sudah ada perjanjian antara roh manusia dan Allah. Roh ditanya,”Alatsu birabbikum? (Bukankah Aku ini Rabbmu?), Roh menjawab,”Balaa syahidnaa” (Ya benar, kami bersaksi)

Saturday, July 5, 2014

Renungan Hari ke-8: Lu'lu'ul Maknun

“Jangan takut tidak memiliki eksistensi dalam lembar sejarah dunia karena lembar catatan sejarah akhiratmu tidak akan pernah melewatkan manusia-manusia mulia yang mengikhlaskan diri meniti jalan Tuhan”

Seorang Arab kampung datang kepada Muawiyah bin Abi Sofyan dengan pakaian yang sangat kumal. Ternyata karena alasan tiu, Muawiyah pun tidak memedulikan kehadirannya.“Ya Amirul Mukminin,” kata orang Arab Kampung itu. “Bukanlah pakaian yang mengajak anda berbicara tuan! Yang mengajak tuan bicara adalah manusia yang berada di dalam pakaian ini.”

Arab Kampung itu kemudian berbicara panjang lebar tentang berbagai masalah dengan tingkat keilmuan yang tinggi. Tutur kata dan bahasanya indah. Muawiyah tidak menyangka sebelumnya. Usai berbicara, Arab Kampung itu keluar dan pergi meninggalkan istana tanpa meminta suatu apapun. 

Muawiyah pun berkata,”Aku belum pernah melihat seseorang yang pada awalnya sama sekali tidak kuhargai, namun pada akhirnya ia begitu mulia dimataku.”

Lu’lu’ul Maknun. Mungkin banyak dari kita yang tertunduk malu pada mereka. Ketika banyak dari kita yang memburu popularitas, tidak terbersit dalam jiwa mereka untuk dikenal banyak orang dan diketahui jasa-jasa mereka. Mereka tidak tertarik dengan puja-puji dari manusia. Mereka tidak tertarik untuk dikenal oleh banyak manusia. Layaknya sebuah mutiara yang tersembunyi. Mereka hanya ingin dikenal sebagai hamba yang mulia oleh Tuhannya. Hanya merindu untuk segara tidur di atas dipan bertakhtakan emas. Mereka merindu hidup bersama bidadari-bidadari surga bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan. Lu’lu’ul Maknun.

Ada lagi kisah lain dalam buku ini yang dipaparkan penulis, membuat saya sangat malu dan tersentuh. Ada seorang tukang bakso yang memiliki kebiasaan unik. Setiap menerima uang dari pembelinya, ia menyimpan uang itu di tiga tempat. Sebagian di laci gerobaknya, sebagian di dompetnya, dan sisanya di kaleng bekas tempat roti. Ketika ditanya alasannya, jawabannya:

Friday, July 4, 2014

Renungan Hari ke-7: ‘Abidu Haramain

Pemuda itu dikenal di seluruh penjuru Arabia sebagai perampok. Meski masih muda, reputasinya sebagai penjahat kelas sanggup membuat nyali semua orang ciut. Ia tak kenal ampun dengan korban-korbannya. Siapapun yang coba-coba melawan ia tak segan membunuhnya.

Suatu ketika, ia tertarik dengan seorang gadis. Karena tak mampu menahan gejolak hatinya, dia berencana untuk mengendap masuk ke rumah si Gadis di kala semua penduduk kota terlelap tidur. Namun, belum sempat melancarkan niat jahatnya, pemuda mendengarkan seorang menyenandungkan ayat Al-Qur’an,

Thursday, July 3, 2014

Renungan Hari ke-6: Hidup Itu Singkat, Kawan.

“Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?” Seorang sahabat bertanya Rasulullah menjawab “Yang paling baik mengingat mati kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut. Itulah orang yang paling cerdas” (HR. Ibnu Majah dan Thabrani)


Hidup gak hanya didunia. Setelah kematian, kita semua akan memasuki kehidupan lain yang jauh berbeda dengan kehidupan dunia, yaitu kehidupan akhirat. Semua amal hanya bisa dikerjakan didunia, sedang “evaluasinya” dilakukan di akhirat. Pokoknya kalau di hidup dunia sebenarnya buat cari bekal kehidupan selanjutya. Cuma sebagai tempat singgah, untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya yang lebih panjang, yang lebih abadi.

Wednesday, July 2, 2014

Renungan Hari ke-5: Tuhan, Maaf Kami Sedang Sibuk

“Sungguh aku sangat ingin memerintahkan shalat untuk didirikan, lalu aku perintahkan seorang laki-laki untuk mengimami orang-orang, kemudian aku berangkat bersama beberapa orang laki-laki dengan membawa beberapa ikat kayu bakar kepada orang-orang yang tidak ikut shalat, lalu aku bakar rumah-rumah mereka dengan api tersebut” (HR. Bukhari dan Muslim)

Saat berjalan di mal, saat lagi sibuknya menyelesaikan pekerjaan kantor atau lagi sibuk mengerjakan tugas kuliah di kampus, lalu tiba-tiba adzan dikumandangkan. Ada berapa banyak dari kita yang langsung memenuhi panggilan Allah itu? Tuhan sering sekali kita nomor dua-puluh-tujuh-kan. Seolah kita bilang kepada Tuhan, “Maaf Tuhan, saya sedang sibuk. Shalatnya nanti saja, ya?”. Rasanya sangat menyedihkan kalau mengingat-ingat lagi kita masih sering menunda-nunda waktu sholat, padahal Allah tidak pernah sekalipun tidak memperhatikan umat-Nya. Allah sudah berikan banyak sekali nikmat, tapi mengapa untuk menghentikan kegiatan sejenak untuk sholat tepat waktu saja, kita masih tidak bisa?

Tuesday, July 1, 2014

Renungan Hari ke-4: The Miracle of Fasting

“Berpuasalah kalian, niscaya kalian sehat” (HR. Ibnu Al-Sunni dan Abu Nu’aim)

Mungkin kita belum pernah mau mempelajari kenapa berpuasa itu menyehatkan. Tidak hanya puasa saja, mengenai amalan-amalan lainnya kita juga sebenarnya masih belum memahami kenapa kita diperintahkan untuk melakukan sebuah amalan. Walaupun perintah Allah maupun sunnah Rasulullah itu pasti benar, tapi dengan kita lebih tahu tentang makna dan manfaat ibadah yang diperintahkan Allah kepada kita, Insya Allah akan semakin menguatkan dan memantapkan untuk menjalani ibadah tersebut.Sudah ada penelitian yang dilakukan umat manusia untuk membuktikan bahwa puasa itu menyehatkan fisik, psikis, sosial dan spiritual.

Monday, June 30, 2014

Note For Someone

It's been a month.
And i still can't figure it out why this could happened.
It is fine.
Glad to know what we are right now.
In the very first beginning, i know this won't be easy as i thought.
I am too afraid for letting myself go for a new beginning
And there're too many things that you didn't know, could be problems someday.
But, now i am ready fighting for it, as long as i can.
As long as we both want it.

(Just typing some words. Sorry, I just can't help myself to not write something tonight)

Indomie Selera Kita

Gue bakal kangen banget momen kayak gini, hari ini bareng Adit. Adik gue. Benar apa kata orang, bahagia itu sederhana. Dan buat gue malam ini, bahagia ketika gue kembali bisa melakukan aktivitas kesukaan gue bareng Adit. Masak indomie di dapur sambil ngobrol. Hahaha..

Biasa banget kan? Tapi, buat gue justru ini yang kadang bikin kita dekat di rumah. Secara ya, kalau sehari-hari gue sama dia sama-sama sibuk. Dia sekolah, gue kerja. Dua-duanya pergi bareng pas pagi banget, pulangnya sendiri-sendiri. Dia pulangnya sore, gue malam. Sampai rumah paling say hello bentar, trus kita di kamar masing-masing istirahat. Weekend, dia paling..yaa tidur. 

Renungan Hari ke-3: Izrail Bilang, Ini Ramadhan Terakhirku.

Kepada Yang Terhormat
Saudara Fulan

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Saudara Fulan, dengan ini saya beri tahukan kepada Saudara, bahwa saya ditugaskan oleh Allah untuk menjemput roh Anda pada tanggal 8 Syawal tahun ini, sehingga Ramadhan ini adalah Ramadhan yang terakhir bagi Saudara. Harap dipergunakan sebaik-baiknya. Demikian pemberitahuan dari saya. Kurang lebihnya mohon maaf.
Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Tertanda,
Malaikat Maut

-Izrail-

Saya merinding waktu baca surat ini dalam bukunya ini. Bayangkan saja kalau Izrail mengirim surat seperti itu ke kita. Pasti dan yakin saja, semangat beribadah langsung menuju puncak tertingginya. Mungkin kita bakal rajin sholat tepat waktu, rajin melaksanakan sholat tahajud, sibuk ber-qiyamullail, tidak mau lagi mengeluh beratnya menjalankan ibadah puasa pada siang hari. Kita akan rajin mengisi waktu dengan berdzikir dan membaca Al-Qur’an. Merenungi ayat-ayat-Nya. Kemudian, kita jadi menginfakkan semua yang bisa kita infakkan. Kita akan mendatangi orang-orang yang sudah kita zalimi, meminta maaf pada mereka dan mengakui segala kesalahan kita pada mereka. Pokoknya, kalau surat ini beneran ada ditangan kita, tidak akan ada lagi waktu sia-sia habis terbuang percuma karena melakukan kegiatan-kegiatan tidak bermanfaat.

Sunday, June 29, 2014

Renungan Hari ke-2: Selamat Datang, Ramadhan.

“Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah telah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa. Pada bulan itu Allah membuka pintu-pintu surga dan menutup pintu-pintu neraka” (HR. Ahmad)

Ada tiga hikmah yang bisa diambil dari sebuah pertanyaan “mengapa Allah masih mempertemukan kita dengan Ramadhan tahun ini?”. Pertama, bisa jadi karena kita diberi kesempatan untuk membersihkan tumpukan dosa. Kedua, mungkin karena kita diberi kesempatan untuk menjadikan Ramadhan sebagai momen mempertinggi derajat kita di akhirat kelak. Ketiga, boleh jadi Ramadhan ini justru hanya menjadi kesempatan lain untuk kita terjerumus dalam jurang dosa lebih dalam. Na’udzubillah min dzalik. Tapi, tetaplah optimis bahwa Ramadhan adalah untuk dua kemungkinan pertama tadi. Insya Allah, potensi kemudharatan di Bulan Ramadhan lebih kecil daripada potensi kemaslahatannya.

Ramadhan itu laksana tamu agung yang dikaruniakan Allah untuk seluruh umat muslim. Karena jelas sekali Ramadhan penuh dengan berkah dan kebaikan. Maka, sudah sepantasnya Ramadhan disambut dengan kebahagiaan. Ucapkan tahmid dan syukuri usia karena masih beruntung karena bertemu lagi dengan Ramadhan.

“Seandainya setiap hamba mengetahui apa yang ada dalam Bulan Ramadhan, maka umatku akan berharap seandainya setahun itu Bulan Ramadhan” (HR. Ibnu Khuzaimah)

Renungan Hari ke-1: Sudah Siapkah Kamu?

“Layaknya seorang pengelana bijak, sebelum berangkat berkelana ia pasti akan mempersiapkan segala bekal yang diperlukan dalam perjalanannya. Begitu juga dengan seorang muslim, saat ia akan berkelana melintasi Ramadhan, segala bekal harus dipersiapkan dengan baik”

Seharusnya saya menulis ini kemarin, sebelum hari pertama Bulan Ramadhan dimulai. Berhubung ini karena renungan pertama tentang bekal dan notabenenya segala sesuatu yang berhubungan dengan perbekalan adalah hal pertama yang harus disiapkan sebelum menempuh sebuah perjalanan. Tapi, lebih baik terlambat saya tuliskan daripada tidak sama sekali. Hehe..

Berbicara tentang perbekalan untuk menjalani Bulan Ramadhan, apa yang sudah dipersiapkan? Banyak quote bertebaran “Siapkan diri untuk Bulan Ramadhan” tapi nyatanya kita sendiri masih belum tahu kita harus mempersiapkan apa. Lalu, untuk apa kita mempersiapkan bekal ini?

Mari kita bicara tentang tujuannya dahulu. Jelas, untuk berkelana meniti sebuah perjalanan dengan baik, total, lancar serta bebas hambatan, kita butuh persiapan. Termasuk untuk menjalani hari-hari Bulan Ramadhan. Agar hari-hari di Bulan Ramadhan menjadi penuh akan amal, bukan malah menambah dosa. Perjalanan ini bisa menjadi nyaman serta penuh kekhusyukan. Dan akhirnya bisa menjadikan momen Bulan Ramadhan sebagai momen terindah untuk mendekat kepada Allah. Ah membayangkan saja rasanya sudah indah banget, kan? ^^

Apa yang perlu dipersiapkan?

Satu Tulisan, Untuk Satu Hari, Untuk Bulan Ramadhan.

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Insya Allah, selama bulan Ramadhan saya bakal menulis satu tulisan renungan untuk satu hari. Referensinya dari buku-buku bacaan sendiri yang isinya semoga bisa bermanfaat untuk dituliskan dan dibagikan kembali. Karena kebetulan saya terinspirasi dengan salah satu buku "Izrail Bilang, Ini Ramadhan Terakhirku" karya Ahmad Rifa'i Rif'an. Bukunya bagus dan ringan untuk dibaca. Dan banyak hal penting yang ingin saya bagi dari buku ini. Baik itu sebagai pengingat untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Jadi, mungkin sebagian besar tulisan akan merujuk pada buku itu. Karena temanya juga sesuai dengan Bulan Ramadhan. Tapi, tidak menutup kemungkinan saya juga bakal mengambil rujukan dari buku lain. Pokoknya doain aja deh biar saya istiqomah tetap menulis satu tulisan ini untuk satu hari di Bulan Ramadhan ini ^^


Note For Someone.

Please, do not act, say or behave, something like there's problem between both of us when actually there's not. It is hurt for me who completely didn't understand anything what you are thinking.

Please, if you have something to say, say it out loud in front of me. I am not the one, who can understand what it is in your mind, like God always do. I am sorry if i wasn't that perfect as you wish. Or perfect as anyone else. But as your information, i am just human. Completely imperfect. You are free to choose leaving or staying, if you no longer can't accept my imperfection.

Sorry for being rude and saying this.

MIKA

Saya fikir film Mika ini akan menjadi film yang sangat biasa dan agak membosankan. Jujur saja, itu karena tahu aktrisnya si Velove Vexia. Soalnya, saya tidak pernah lihat bagaimana akting Velove di layar lebar. Apa mungkin karena saya ketinggalan berita atau apa, tapi memang Velove ini baru main di satu judul film layar lebar ini, kan? Please correct me if i am wrong. Harus saya katakan, kalau usaha Velove untuk memerankan Indi, seorang perempuan belia yang masih polos penderita Skoliosis, diperankan cukup baik. Film ini juga tertolong dengan akting ciamik Vino G. Bastian. Saya rasa karena sudah punya jam terbang cukup banyak, main pada beberapa judul film layar lebar, Vino cukup sukses memerankan sebagai penderita HIV-AIDS, Mika, dalam film ini. 

Saturday, June 28, 2014

Kufikir senjaku akan sama.
Jingga bertebar diatas sana .
Bias cahayanya lewat kaca.
Tapi, bersamamu akan membuatnya berbeda.


Wherever you are

I’m telling you
I softly whisper
Tonight tonight
You are my angel

— Aku katakan padamu —
— Aku berbisik pelan —
— Malam ini… malam ini —
— Kau malaikatku —

Aishiteru yo
Futari wa hitotsu ni
Tonight… tonight…
I just say…

— Aku mencintaimu —
— Berdua menjadi satu —
— Malam ini… Malam ini —
— Aku hanya bilang… —

Thursday, June 26, 2014

Kenapa Ya?

Ada 10 pertanyaan yang lagi gue fikirin selama gue..hmm..kurang lebih sudah sejam bengong di mall menunggu bapak sama ibuk. Sebelumnya maaf yaa kalau ada yang tersinggung. Ini benar-benar murni hasil observasi langsung disini. So, here they are..

1. Kenapa kalau cewek lagi ngobrol, pasti ribut banget? | eh gak juga..cowok juga ding.

2. Kenapa kalau cowok lagi ngobrol, suka bilang "bro.." di tiap akhir kalimatnya? "Begini lho, bro..", "mau kemana, bro?", "eh cewek yang itu cantik, bro.." | pusing gak sih dengerin nya?

3. Kenapa donat j.co itu enak banget? Mereka pake resep apa ya sampai orang rela antri kayak ada sembako?

4. Kenapa anak remaja jaman sekarang, masih senang lempar poni? Kalau poni nya ganggu, mas/mbak, jepit aja bisa kaliik. Atau rambutnya disir rapi. Atau sekalian gak usah pake poni juga bisa.

5. Kenapa ya orang yang pacaran lagi jalan berduaan, jalannya pelan trus jalan ditengah lagi? Jalannya dipinggir kek. Rasanya serba salah aja kalau lagi jalan dibelakang mereka ("._.)

6. Kenapa ya cowok suka pake baju kaos berkerah V? Ntar masuk angin lho, mas..

7. Kenapa ya cewek suka pake hotpants ke mall? Ntar masuk.angin lho, mbak..

8. Kenapa ya gue masih (baru saja) lihat ibu-ibu sekitar umur 50an, pake baju yang gak ada lengannya? Ntar masuk angin lho, mbak..eh salah..mbah..*salim*

9. Kenapa ya kita sekarang lebih sering ngobrol dengan gadget daripada dengan manusia? Apa kita sudah sebodoh ini dibajak sama teknologi? *ngaca* *sigh*

10. Kenapa ya belakangan ini gue suka nulis tulisan yang gak jelas gini? Bingung juga sih.

P.s: kalau ada yang mau jawab pertanyaan diatas atau protes mungkin, atau yang mau mengklarifikasi, komen aja tuh dibawah. Tapi, kalau gak bisa, yaudahlah yaa. Mungkin kamu terlalu normal. Maaf lho. Eh atau gue yang..ahsudahlah.

Sunday, June 1, 2014

I don't even know myself at all
I thought I would be happy by now
The more I try to push it
I realize – gotta let go of control

Gotta let it happen
Gotta let it happen
Gotta let it happen
So let it happen

It's just a spark
But it's enough to keep me going
And when it's dark out, no one's around
It keeps glowing

Every night I try my best to dream
Tomorrow makes it better
Then I wake up to the cold reality
And not a thing is changed

But it will happen
Gotta let it happen
Gotta let it happen
Gotta let it happen

It's just a spark
But it's enough to keep me going
And when it's dark out, no one's around
It keeps glowing

It's just a spark
But it's enough to keep me going
And when it's dark out, no one's around
It keeps glowing

And the salt in my wounds isn't burning anymore than it used to
It's not that I don't feel the pain, it's just I'm not afraid of hurting anymore
And the blood in these veins isn't pumping any less than it ever has
And that's the hope I have, the only thing I know that's keeping me alive

Alive

Gotta let it happen
Gotta let it happen
Gotta let it happen
Gotta let it happen

Gotta let it happen
Gotta let it happen
Gotta let it happen
Gotta let it happen

It's just a spark
But it's enough to keep me going
(So if I let go of control now, I can be strong)
And when it's dark out, no one's around
It keeps glowing

It's just a spark
But it's enough to keep me going
(So if I keep my eyes closed, with the blind hope)
And when it's dark out, no one's around
It keeps glowing

(Last Hope - Paramore)

Thursday, May 29, 2014

The Liebster Award

Berawal dari sebuah postingan blog seorang teman, gue juga tertarik untuk menulis hal yang sama. Yang ternyata ini juga karena postingan si dhira di blognya. Yaampuuuuuuun..ketinggalan banget gue baca blog nya si Dhira. Baru tau, habis jarang blog walking lagi. Blog sendiri aja sudah mulai jarang update.


Sebelum kita menulis, pertama, mari kita ucapkan terima kasih kepada Dhira dan Aas yang sudah memberikan inspirasi menarik untuk dicoba disaat gue emang lagi lebih sering bengong depan entri blog daripada depan aplikasi SIDJP di kantor (if you know what i mean..)


Oke. Mari kita mulai..


Ternyata sebelum mulai, ada peraturannya. Here they are:

1. Post award ke blog kamu
2. Sampaikan terima kasih kepada blogger yang sudah memperkenalkan award ini dan link back ke bloggnya
3. Share 11 hal tentang kamu
4. Jawab 11 pertanyaan yang diberikan kepada kamu
5. Pilih 11 blogger lainnya dan kasih mereka 11 pertanyaan yang kamu mau

And here I go. In 3..2..1..

Tuesday, May 27, 2014

I have nothing to do but waiting, right now. Menunggu jemputan seperti biasa. Karena saya memang sedang tidak melakukan apa-apa, kayaknya tidak ada salahnya kalau saya mulai blogging sedikit.

Mari kita lihat. Hemm. Disini ada sepasang manusia, mereka adalah sepasang kekasih atau bukan, saya juga tidak tahu. Tapi, melihat gelagat dan bahasa tubuh mereka, sepertinya mereka hanya berteman. Hanya saja sedikit lebih dekat. Walaupun (sepertinya) mereka berteman, mereka sangat akrab. Seru sekali melihat mereka tertawa er..about something there, whatever. Kalau boleh asumsi saya expand lagi, sepertinya si cowok terjebak dalam zona friendzone dengan si teman ceweknya ini. But, they are still looked happy somehow.

Dan oh great..ada seseorang yang baru datang dan merokok. Ugh..hurts my precious lungs. And for God sake, why the hell do you sit there?

Lupakan tentang si perokok. I moved anyway. And feel so much better now. Disisi lain, ada juga sepasang manusia. Sepertinya mereka (hampir) berpacaran a.k.a lagi pdkt. Sangat jelas terlihat dari gelagat bahas tubuh mereka. Tawa mereka. Terlihat sangat dekat tapi tidak juga. Agak sedikit canggung. Mungkin kedua orang ini baru saja kenal dan memaksakan diri untuk saling mengenal satu sama lain.

Saya rasa semua orang setuju bagian menyenangkan dari sebuah hubungan adalah bersama orang yang bisa kau ajak bertukar cerita tentang apa saja. And yes, we usually call it a friend. It is just confusing when people over-thinking about what kind of relationship they have. Selama tidak melanggar nilai-nilai baik yang hidup di masyarakat dan agama, i think it is fine. Close doesn't always mean dating. And dating is not always an option. That relationship with a person always matter of time where it will bring you into. Tapi, rasanya memang menyenangkan menemukan orang seperti itu tadi.

The question is, have you ever met that kind of person?

(Ditulis ketika merenung sendirian di Circle K)

Monday, May 26, 2014

Kamu sesederhana ini.
Wajahmu rupawan.
Tawamu meneduhkan.
Tapi, hatimu itu adalah perasaan tersulit untuk kataku.
Malammu masih panjang, pangeran.
Berjuanglah, jangan bermimpi.
Terima kasih untuk hal yang lebih kuat dari cinta.
Harapan.

Tahukah kau apa gravitasiku?
Rindu.

Tahukah kau siapa langitku?
Tawamu.

Tahukah kau siapa hujanku?
Harapanmu.

Tahukah kau siapa bumiku?
Kau.

Menahanku begitu kuat.
Aku tidak beranjak kemanapun.
Aku masih punya dunia didirimu.

Rasanya sudah lama sekali tidak ke tempat ini. I just miss being here. Masjid memang cocok sekali untuk mereka yang rindu merenung. Sekedar bercakap-cakap didalam hati dengan Tuhan. Atau sekedar membaca selembar-dua lembar ayat Tuhan dengan khusyuk. Atau sekedar melelapkan fikiran dan hati dengan tenang di tempat ini. Kalau kalian merasa penat dan merasa semuanya terasa begitu salah dalam hidupmu, mungkin kalian rindu berada di masjid. Bernaung dalam rumah Allah.

Friday, May 23, 2014

Berlarilah..
Agar kau tahu apa yang kau cari..

Pergilah..
Agar kau tahu kemana kau harus pulang..

Ya Allah..
Lelah.
Apa memang selalu begini rasanya berjuang?

Ya Allah..
Cuma butuh Engkau.
Tolong beri aku saja bahu yang kuat untuk menampung semuanya.
Dan bantu aku lalui semuanya dengan sabar.

Saturday, May 17, 2014

....

I feel so curious. Sometimes i just can't help myself to not think about it. God, just help me through this. I absolutely don't want make any mistake that i will regret in the future, with this one.

(Maaf curhat lagi. Busett, akhir-akhir ini lagi mellow banget ternyata -_-)

.......

Pernah gak sih kalian mendapatkan satu kesempatan yang mungkin juga itu adalah mimpi terbesar bagi orang lain? 

Kadang masih tidak percaya. Ini sudah dua hari since that conversation and i just still can't believe it. Masih mikir aja "ini gue mimpi kan?" "Kalau ini mimpi, please jangan dibangunin dulu..". 

And i just still can not believe that such a perfection comes to me. Perfection? Like..really? Yes. Perfect. At least, that is what i have ever heard about people's opinion about this, "the perfection". I mean, kenapa gue? And i am so dying to know the answer of "why me?" question. Sampai sekarang gue masih aja bertanya-tanya sendiri. Terbengong sendiri kalau diinget lagi. Gila ya? Lebay juga gue malem ini nulisnya. Yaa abis mau gimana lagi, emang ini kesempatan baik banget ini. 

Allah emang selalu punya kejutan disetiap skenarionya. Dan sekarang cuma bisa bilang berkali-kali, Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Subhanallah untuk setiap skenario Mu ini. Dan gue cuma bisa terima dan jalanin ini.

Pokoknya, untuk kali ini bener-bener gak bakal gue sia-siain. At least, gue mesti berusaha yang terbaik. Give the best effort aja deh. Soal hasil, serahkan semuanya sama Allah. Pasrah. Hanya bisa berharap yang terbaik dariNya.

Twilight in My Unnecessary Writing

Siang panas begini, tiba-tiba mikirin para ibu di rumah kalau lagi weekend begini. Baik itu yang full-time mom or career mom. Pasti lagi sibuk banget ngurusin suami dan anak in all full weekend. Tapi, mungkin itu akan jauh lebih baik dan lebih mulia daripada ada di posisi Bella, salah satu tokoh film Twilight. Pernah nonton filmnya kan? Yang dimana salah satu tujuan Bella itu cuma mau bersama dengan pasangannya, Edward, selama-lamanya.

Kalau difikir-fikir lagi, Bella ini sudah termasuk a full-time Mom and Wife. Yaa, karena dia gak punya pekerjaan selain menjkah dan jadi vampir doang bareng suaminya. Kalau siang biasanya dirumah, main sama Renesmee, anaknya, atau kalau gak, cuma bermesraan ciuman dan pelukan sama Edward. Kadang sesekali mungkin ngobrol dengan teman serigalanya a.k.a calon mantunya, si Jacob. Kalau malam, yaa cari makan. Cari darah binatang gitu biar gak laper bareng suaminya juga. Enak bener ya, gak perlu ke pasar trus masak dirumah. Kalau Edward lapar, tinggal diajakin aja deh main ke hutan. Cari darah. 

Another thing that comes up on my mind about this Bella is dia terlalu beruntung. I mean, does woman sort of this Bella, exist? Punya suami yang ceritanya itu physically handsome, sangat cinta dan bisa mati kalau Bella udah gak bernafas a.k.a mati, punya anak yang gifted dan physically beautiful, punya mertua yang baik dan tajir mampus, dan Bella ini dibela dan dilindungin habis-habisan pula sama semua orang. Like this whole world is care so much about this little princess Bella. And this happens forever (diceritanya sih begituuuuu..)

Oh well, mungkin kelihatannya enak banget. Dan Bella dengan keadaan seperti ini seharusnya bisa ongkang kaki aja di rumah. Toh gak ada yang harus dia fikirin kok. Ngapain dia waktu itu sok sibuk juga ngurusin apa-apa waktu mau berantem sama Volturi. Hahaha..

Udah ah, tulisan ini cuma becandaan doang. Serius gitu bacanya.. :D
*langsung ditimpukin fansnya Twilight pake high heels*

It is like a dream.
A new dream.
The nicest one.
And i don't wanna wake up

At the same time..

It is real.
A brand new opportunity.
The finest one.
And i don't need dream.

This is even better than dream.
A hope.

Friday, May 16, 2014

Hopes.

Lagi-lagi harus berurusan dengan harapan. Tapi, bukannya itu wajar? Harapan tumbuh karena ketidaktahuan, ketidakpastian dengan masa depan. Dan saya hanya manusia yang jelas tidak tahu apa-apa tentang masa depan saya sendiri. 

Tapi, setelah melalui beberapa pengalaman. Saya selalu belajar untuk berharap bukan pada sesuatu yang selalu diharapkan itu. Tapi, selalu berharap saja sama Dia yang akan memberikan jawaban kepastian  akan harapan tersebut. Sudah ada beberapa pengalaman, biasanya kalau berharap sama "objek" nya itu sering kecewa. Karena yah ekspektasi kita hanya sebatas "objek" harapan kita itu dan juga terlalu tinggi. Gampangnya, kalau dapat ya dapat terus senang deh. Kalau gak, yaa gak dapat terus nangis peluk guling. Yaa pokoknya gitulah.

Sedangkan kalau berharapnya sama Dia. Biasanya ekspektasi kita menjadi lebih luas. Dan dengan ekspektasi luas, kita bisa mencari pemahaman untuk diri sendiri lebih luas juga. Tidak sempit terbatas hanya sampai "objek" harapan saja. Lebih luas dari itu.

Terbukti kalau misalnya kita mengharapkan sesuatu, lantas kita serahkan harapan itu pada Allah. Kita mendapatkannya kelak atau tidak, kita selalu bisa memahamkan diri sendiri dengan alasan-alasan yang baik. Berhusnudzon. Dan tidak gampang untuk kecewa atau terlalu bahagia.

Terlepas dari sebab-sebab menjadi nyatanya sebuah harapan atau tidak adalah rahasia Allah, yang terpenting adalah bagaimana sikap kita ketika menghadapi harapan itu sendiri.

Wednesday, May 14, 2014

!

I am not in good mood
I am not in good mood
I am not in good mood
I am not in good mood..
For God sake, i need to write something on my blog for making me sane from all of these stuff.

!

Friday, May 9, 2014

Wednesday, May 7, 2014

Tips Naik Angkot Buat Cewek

Kejadiannya adalah malam ini ketika saya pulang dari kantor. Tepatnya jam setengah 8 malam. Jadi gue pulang nih naik angkot seperti biasa. Didalam angkot itu sudah ada tiga orang penumpang. Dua orang perempuan, satunya masih muda dan berjilbab dengan memakai pakaian berlengan.panjang dan ketat. Dan mungkin berumur sekitar 24 tahun. Seorangnya lagi adalah wanita paruh baya. Mungkin berumur sekitar 33 tahun. Tidak berjilbab dan dengan pakaian kemeja serta rok. Biasa saja, malah terkesan berantakan.

Seorang penumpang lagi di dalam angkot itu adalah seorang laki-laki kurus dan berkulit hitam. Mungkin berumur sekitar 45 tahun. Dan dia duduk tepat disebelah perempuan-24 tahun tadi. Awalnya gue sih tidak peduli. Cuek aja. Tapi, lama-lama gue perhatiin tuh bapak duduknya agak mepet dengan perempuan itu *jreeeeng... Padahal, bangku tempat mereka duduk masih luas. Gue yang lihat itu jadi merasa aneh dan curiga dong. Masa bangku segitu luas cuma ada mereka dua orang yang duduk, si bapak itu duduk malah mepet banget sih? Gak cuma itu yang mencurigakan. Dibawah remang-remangnya lampu dalam angkot, gue liat tangannya tuh bapak agak dekat juga dengan tubuh si cewek. Tepatnya dibawah ketiaknya tuh cewek alias.. *pikir aja sendiri* *maaaaaaak.. > <

And the worse thing is kebetulan si cewek ini duduknya agak serong dan posisinya membelakangi si bapak. Otomatis dia jadi gak ngerasa apalagi melihat. Padahal tuh tangan bapak physcho sudah hampir menyentuh bagian tubuhnya. Gue pun langsung mengalihkan pandangan dari kejadian itu, pura-pura gak lihat sambil terus berbaik sangka "ah mungkin suaminya..". Dan gue pun tetap merinding sepanjang perjalanan, dan ngerasa si bapak liatin gue. Hih..beneran ngeri banget. Pengen loncat dari jendela aja gue.

Kengerian ini bertambah to the max ketika melihat perempuan itu turun, TAPI gak sama si bapak itu. Ternyata si bapak itu gak sama siapa-siapa, not even that girl. Berarti..dia habis grepe orang dan si korban gak ngerasa sama sekali. Oh God..ya Allahu..dalem hati cuma bisa istighfar sambil peluk tas ransel gue erat-erat biar gue langsung kabur kalau ada apa-apa.

Tips:
1. Kalau lagi naik angkot, dan ada penumpang lain, apalagi cowok, jangan duduk serong. Buat kamu membelakangi penumpang lain dan mengurangi kewaspadaan kamu akan gelagat penumpang lainnya. Duduknya yang lurus saja, jadi kamu bisa memprhatikan jeli situasi dalam angkot. Toh bayarnya tetap sama, 4000 juga.

2. Usahakan kalau keluar, jangan pakai baju ketat dan pendek. Apalagi yang berjilbab. Sudah berkali-kali peringatan tentang berpakaian ketat ini, bahwa itu bisa mengundang kejahatan juga.

3. Bayar dengan uang pas. Mau itu jauh-dekat. Bukan apanya sih, bang supirnya kadang suka ngomel kalau dikasih uang besar. *eh salah..abaikan saja ini* -_-

4. Pegang erat-erat dan siaga dengan barang bawaan kamu. Siapa tahu aja nih ya, kalau ada sesuatu aneh terjadi di dalam angkot dan alarm bahaya kamu nyala, kamu bisa langsung loncat dari angkot. Ini serius. Gapapa deh mungkin luka dikit asal jangan jadi korban kejahatan orang lain dalam angkot.

Sekian pengalaman malam ini. Semoga bermanfaat buat para perempuan yang suka naik kendaraan umum. Apalagi di malam hari. Kejahatan muncul bukan hanya dari niat si pelaku tapi juga kesempatan. Waspadalah.. (,--)/

Sunday, May 4, 2014

Cerita Hijrah

Beberapa hari yang lalu, salah seorang teman bercerita bagaimana gelisahnya ia karena keputusannya untuk mulai berhijab syar'i, memutuskan untuk berhijrah. Dia bercerita bagaimana ia selalu khawatir dengan reaksi orang lain mengenai tindakannya itu. Ia takut kalau seandainya teman-temannya akan menjauhi dia karena dianggap berbahaya dengan kerudung lebarnya. Belum lagi mamanya yang ternyata ikut tidak mendukung keputusan mulianya ini. 

Saya mengerti bagaimana perasaan teman saya itu. Harus saya aku bahwa keputusan hijrah memang sulit. Belum lagi dengan ujiannya. Tapi, itu hanya di awal saja. Nanti setelah dijalani, akan ada lagi ujian lagi. Mulai timbul juga bisikan syaithan yang menghembuskan perasaan was-was. Khawatir. Gelisah. Sulit sekali.

Menanggapi cerita teman tadi, saya hanya bisa mendengarkan dan memberikan saran terbaik semampu dan sepengetahuan saya. Bahwa, penilaian manusia tidak bisa dijadikan bahan pertimbangan untuk memulai suatu ketaatan. Biar bagaimanapun, ketaatan itu urusan seorang manusia itu sendiri dengan Allah. Manusia boleh berkomentar, tapi tetap Allah yang memiliki akhirat. Penilaian manusia tidak bisa selamanya dijadikan tolak ukur, apalagi kalau sampai hal itu menghambat kita untuk berusaha taat. 

Lalu, bagaimana dengan orang tua yang tidak setuju dengan keputusan berhijrah kita? Untuk satu ini, mungkin agak rumit. Karena orang tua adalah pihak terdekat dengan kehidupan kita. Yang tidak bisa begitu saja menghiraukan mereka, sama seperti ketika kita dengan orang lain. Maka, saya hanya bisa menyarankan kalau untuk mengatasinya harus pelan-pelan. Coba ajak orang tua berbicara dari hati ke hati dengan cara baik. Bertukar pikiran, bukan berdebat. Kalau bisa, hindari hal semacam debat kusir ini dengan orang tua. Katakan kalau keputusan berhijab ini juga salah satu usaha kita sebagai anak untuk tidak menyusahkan orang tua ketika mereka akan ditanyai pertanggungjawabannya di akhirat. Seiring dengan waktu untuk berusaha dan menunggu untuk meluluhkan hati mereka, tetap belajar pakai hijab syar'i nya. Diiringi dengan tetap berperilaku baik dengan orang tua. 

Dan untuk melengkapi semua usaha tadi, jangan lupa berdoa. Minta sama Allah agar dimudahkan, dan niatnya berhasil diwujudkan. Insya Allah, Allah akan mudahkan dan melembutkan juga hati orang-orang disekitar untuk mau menerima keputusan kita.

Jalan hijrah akan penuh dengan ujian. Tapi, justru itu akan membuktikan seberapa kuatnya keinginan hijrah itu sendiri. Dan seberapa besarnya keinginan kita untuk datang mengetuk pintu hidayahNya yang sudah Dia tunjukkan. Selalu ada ujian jika itu berhubungan dengan keimanan. Untuk teman-teman yang sedang memulai untuk berhijab, yang masih belajar, atau yang bahkan masih berniat, semoga segalanya dimudahkan oleh Allah. Setelah itu, semoga tetap istiqomah dan silahkan didakwahkan kepada teman-teman yang lainnya juga. Semoga tulisan ini bermanfaat..  :)

Wallahu a'lam.

Dua Puluh..

Dua Puluh..
Umur yang masih muda. Dengan segala sisa-sisa kelabilan dan ketidaktahuan akan apa-apa di dunia dari masa remaja selama 6 tahun yang lalu (Well, saya anggap masa remaja mulai dari usia 14 tahun. Is it allright?) yang masih melekat. Dan sudah cukup untuk waktu 19 tahun yang sia-sia dan semoga selalu bisa lebih baik lagi dari yang lalu. Maksudku yah, bukannya karena hari ini adalah ulang tahun makanya saya berharap untuk bisa lebih baik lagi. Karena pada nyatanya, seorang muslim sebaiknya selalu punya keinginan dan usaha untuk menjadi lebih baik dari hari kemarin. Pertanyaannya, how better am i?

Dua Puluh..
Melihat kebelakang sejenak, seperti biasa sudah banyak hal yang terjadi lagi selama setahun hingga hari ini umur sudah bertambah lagi. Skenario tidak terkira. Jatuh bangun membangun keistiqomahan iman dijalanNya selalu terjadi, sejak memutuskan berhijrah. Keputusan yang awalnya sulit, banyak ujian didalamnya. Tapi, justru ujian itu membuat iman menjadi terasa manis. Akan membuktikan seberapa kuat dan konsistennya iman kita. Pertanyannya, how strong is mine?

Dua Puluh..
Hidayah. Keluarga luar biasa. Teman-teman luar biasa pula. Lingkungan hidup yang kondusif. Pendidikan. Kesehatan. Rezki yang cukup. Pemahaman. Segala cerita masa lalu yang nilai ilmunya bertahan hingga sekarang. I've never stopped saying thank you for this amazing life that Allah has given. I have never and i hope, i won't. Insya Allah. Allah baik sekali. Selalu memberikan hal-hal yang menurut orang lain, mungkin masih sepele, tapi bagi saya, besar sekali artinya. Segala yang dari Allah adalah nikmat. Semua yang dimiliki sekarang karena semata-mata kebaikan Allah untuk mengamanahkan kepada saya. Karena saya tidak pernah benar-benar memiliki apapun. Pertanyaannya, how grateful am i?

Dua Puluh..
Terlepas dari segala kebahagiaan dan rasa syukur karena umur bertambah, saya ingat ada sesuatu yang penting pula. Umur bertambah, tapi disisi lain, umur didunia ini juga berkurang. Bukannya mau menakuti atau apa, tapi kita semua akan menemui ajal juga, kan? Bukan sesuatu yang tabu lagi untuk dibicarakan. Angka umur saya boleh bertambah, tapi saya juga selangkah lebih maju menuju ajal. Entah kapan dan dimana ajal itu menemui. Pertanyaannya, how ready am i?


Saturday, May 3, 2014

Another Unnecessary Writing

No more better words that i can say for today than Alhamdulilllah.
Mungkin bagi yang selalu membaca blog ini, akan sedikit bosan. Karena kebanyakan tulisan di blog ini fokus pada ekspresi syukur saya dengan apa yang sudah, yang sedang, dan yang akan terjadi. Whatever it is, Allah always has better plan. 

Oke..mari sehari ini saja kita tidak terlalu serius. Saya hanya akan menulis tulisan yang isinya hanya cerocosan aneh, tidak berguna, dan tidak penting. I just wanna have fun for a moment in this blog. Besides, i like writing my random thoughts. Like i always did.

Hari ini sebenarnya tidak ada yang terlalu istimewa selain hari ini dan besok adalah weekend. Waktu dimana saya bisa mengerjakan sesuatu hal lain dan tidak memikirkan pekerjaan kantor untuk sejenak. Bersantai, membaca buku sambil menunggu cucian di mesin cuci selesai, browsing, atau sekedar mengobrol dengan mama dan kedua adik saya. Sayang bapak sekarang tugasnya sudah jauh sekali dari Makassar. It is always fun. O yes, today is my birthday. Terlepas dari bagaimana islam memandang sebuah hari ulang tahun, momen seperti ini sebaiknya selalu diarahkan saja kepada yang positif. Misalnya, waktunya digunakan untuk spending time together with family, atau meng-aamiin-kan semua doa baik-baik yang orang lain kirimkan di hari ulang tahun ini. Lebih ke momennya saja, bukan karena sebab karena ulang tahun doang makanya hari ini spesial. Ya ya, i'd rather to do that.

Ada satu hal random lagi di pagi hari ini. Kalian tahu orang yang sering beratraksi dengan menyemburkan api dari dalam mulutnya. Ya itu sebenarnya hanya sebuah trik. Dengan kumur-kumur suatu cairan, hmm tidak yakin apakah itu minyak tanah atau apa, lalu disemburkan ke sebuah obor dengan api diatasnya dan..voila! Api menyembur lebih besar. Everyone knows that tricks. Tapi, waktu kecil saya fikir api itu betulan dari dalam mulutnya. And i was like "how did he do that?". Polos. And stupid, i guess.

Dan ternyata foto diriku di buku tahunan SMA tidak bagus. I was look..ugh..bahkan saya saja rasanya tidak mau berlama-lama melihat fotoku. Pakaian yang tidak sesuai, apa adanya, i was look so..terrible with that dress, that skirt, and those shoes -___-

Ah..terlalu banyak hal yang saya fikirkan akhir-akhir ini. Terlalu banyak hal rasanya yang ingin saya tuliskan tapi saya rasa itu agak inappropriate. Jadi, saya sudahi saja tulisan ini. Sorry for my unnecessary-thoughts.

Thursday, April 24, 2014

Assalamualaikum..

Hai hai ( ^^)/
Kayaknya sudah lama sekali saya tidak posting tulisan baru lagi di blog ini. Paling kalau sempat nulis cuma via mobile, jadinya gak bisa nulis panjang-panjang dan tulisan jadi kurang greget. Hehe..

Seperti yang saya sudah ceritakan pada tulisan sebelumnya (baca: Penempatan Definitif, Everyone..), rasanya itu yahh..deg-degan gimana lah ya. Mungkin karena bakal ketemu sama lingkungan baru lagi kaliik ya, ketemu beberapa orang baru lagi dengan pekerjaan dan tanggung jawab yang berbeda pula. 

Saya ditempatkan di Subbagian Umum, tepatnya di bagian Sekretariat, dan ini sudah berjalan selama seminggu lebih. Setelah satu minggu berada disana, itu rasanya..... *heavy breathing*. Ada sukanya, ada dukanya. 

Dukanya..hmm ada tapi gak terlalu banyak sih. Gak penting juga buat disebutin di blog. Ngadunya rahasia aja sama Allah. Hehehe..

Sukanya, saya dapat partner kerja perempuan dan hanya ada kita berdua diruangan itu. Seru sih, karena kakaknya juga orangnya asik diajak kerja, asik juga diajak ngerumpi. Heuheu.. Apalagi, kita masih sepemikiran, serasa kayak dapat kakak sendiri ^^

Sukanya..saya jadi lebih rajin makan. Harus saya akui, setelah seminggu di sekretariat, nafsu makan agak meningkat. Lebih cepat lapar, dan lebih sering makan. Apalagi, buat dapetin makanannya itu gampang. Cemilan selalu ada. Nasi juga tinggal pesan lewat telepon trus gak lama mbak-mbaknya sudah datang anterin. Ala ala delivery ke.ef.ci gitu :D

Sukanya..ini bisa jadi ladang pahala lain yang lebih banyak, yang lebih luas lagi. Asal gue kerjanya fokus dan benar, gak macem-macem, kerja yang terbaik buat keluarga, buat bantuin orang lain juga, insya Allah bakal jadi ladang pahala lagi. Aamiin..

Overall, i am so grateful. Alhamdulillah.. ^^

Friday, April 18, 2014

Yang Baik Agamanya..

Saya sedang berbincang-bincang dengan seorang saudari muslimah. Alhamdulillah, selain seorang rekan kerja, dia juga bisa dijadikan kakak yang bisa mengingatkan tentang kebaikan. Kebetulan kita sedang membicarakan standar kriteria  penilaian jodoh (tuh kan jodoh lagi, tuh kakak mungkin lagi pengen manas-manasin gue lagi kalik ya buat nikah. Haha :D)

Berbicara tentang kriteria, sudah sangat jelas diatur dalam agama. Penting mengenali seseorang dari agamanya. Tidak hanya sekedar tahu, tapi bagaimana ia memahami dan mengaplikasikannya. Misalnya, apakah ia menjalani sholat 5 waktu (ini sangat utama, menunjukkan apakah ia mengingat Tuhannya atau tidak). Setelah itu, baru kriteria yang lainnya. Selain itu, yang berani....berani datang ke rumah :p

Hemat saya, yang baik agamanya. Hal lain-lain bisa dipertimbangkan. Pasalnya, kalau hati sudah tertaut karena taqwanya kepada Allah, sudah bagus. Karena apapun yang kelak ia lakukan dan TIDAK ia lakukan, jika seandainya ia akan menjalani pernikahan, pasti akan didasari karena Allah. Wallahu a'lam.

(Kurang lebih pembicaraan kami seperti ini adanya.. ^^)

Sudah Lama Banget Rasanya Pengen Nulis Ini..

Suka sebel sendiri sama kelakuan laki-laki. Kenapa sih kebanyakan yang ngajakin nonton, jalan, makan daripada ngajakin ta'aruf buat nikah? Padahal kan kalau tujuannya mau mengenal ya mbok ajakin ta'aruf lah kalau cocok langsung khitbah aja, bukan ajakin nonton. Gimana sih.. *tepok jidat* *banting hape*

Menurut saya pribadi sih, justru laki-laki yang bahkan berani datang ke rumah buat kenalan sama orang tua si perempuan justru akan mendapat poin plus pertama sebelum melangkah ke kriteria penilaian lainnya. Hehe..Karena jarang ada macem tipe laki-laki kayak begitu, yang mau langsung datang ke rumah, duduk sambil ngobrol masa depan dengan mereka sambil minum teh di ruang tamu. Apalagi kalau anaknya sudah kenal dengan kamu, lebih gampang lagi karena gak perlu mulai dari awal banget.

Lagipula cara itu lebih banyak baiknya dan lebih pasti tujuannya. Daripada ngajakin anak gadis orang nonton, ngobrol gak jelas, makan tapi udah gitu aja. Maunya apa gak jelas ,kepastian juga gak ada. Jangankan kepastian, bakal digebetin sama tuh cowok aja belum tentu. Siapa tahu dia cuma lagi pengen jalan aja sama orang, siapa aja. Padahal perempuan itu sudah ngarep lho. Nah, nyesek gak tuh?

Daripada kalian laki-laki cuma bisanya bikin perempuan berharap tidak jelas. Ingat, hati perempuan itu rapuh sekali. Rentan sekali berharap apalagi sama urusan beginian. Mending gak usah deketin deh kalau gak niat serius nikahin. Temen ya temen aja, gak usah ngajakin malem mingguan, apalagi berduaan. Teman ya temenan tapi biasa aja, gak usah modus. Mungkin ini juga perlu dijadikan catatan untuk perempuan biar mesti hati-hati. It's better to build your own wall so nobody will hurt you :D

Kalau memang mau usaha dapetin hati si dia, mending ngobrol sama orang tuanya aja sono, mereka lebih kenal anaknya. Toh orang tuanya juga yang bakal ikut menilai kamu, gak cuma anaknya. Atau ngobrol sama teman dekatnya, mereka lebih sering berinteraksi dengan si dia. Kenalan tidak harus dengan mengajak si dia pergi keluar berduaan, kok.

-______-

Saya punya sebuah mimpi. Sudah lama sekali saya memimpikannya. Tapi, ada satu hal yang selalu menjadi masalah selama saya masih memeluk mimpi itu. Saya selalu merasa mimpi itu terlalu tinggi jauh diatas sana dan jangankan untuk membuatnya menjadi nyata, bahkan untuk memimpikan dan mengharapkannya saja rasanya saya tidak pantas. Saya sepertinya tidak terlalu percaya diri bahkan untuk menggenggam mimpi itu. Saya fikir mimpi itu mungkin lebih pantas dimimpikan orang lain dibandingkan saya.

Seiring berjalannya waktu, saya hanya tetap bisa bermimpi walaupun tidak tahu kapan ia akan jadi kenyataan. Dan tidak tahu kapan saya bisa percaya dengan diri sendiri untuk mengejarnya. Karena kesempatan itu juga tidak ada. Mimpi itu masih hanya menjadi dirinya.

Hingga suatu hari, Tuhan memberikan jawaban. Tidak ada yang kebetulan didunia ini. Suatu kejadian punya jawaban. Kesempatan itu datang. Dan betul saja, mimpi itu sedikit demi sedikit menunjukkan tanda-tanda akan menjadi kenyataan. Tapi, sayang sekali, ia datang dengan cara salah. Menyayangkan hal itu karena mimpi itu harus diabaikan sejenak karena caranya salah. I mean, untuk apa kalau toh jalannya salah?

Ini berhasil membuka fikiran saya sedikit demi sedikit. Kesempatan tadi bukan hanya sekedar kesempatan tapi sebuah jawaban. Bahwa mimpi ini tidak pantas untuk diperjuangkan, selama kedatangannya bersama kenyataan dan harapan masih dengan cara yang salah.

Monday, March 31, 2014

Surat Untuk Tuhan

Tuhan,
Untuk apa Kau ciptakan segumpal daging dalam tubuh manusia yang disebut hati?
Pagi ini, ada seorang teman baru saja curhat sama saya. Katanya dia galau, Tuhan. Putus-nyambung dengan pacarnya bikin dia galau. Saya rasa tidak hanya temanku ini yang galau karena hal yang mereka sebut ini cinta. Saya rasa cinta Kau ciptakan tujuannya bukan untuk selalu digalaukan, ya kan? Apalagi cinta kepada manusia tanpa ikatan dan landasan karena ridho-Mu. Dan Kau ciptakan hati bukan untuk sepenuhnya mencintai seorang cinta saja kan? Bukan untuk ditarik ulur seperti itu ,kan?
Teringat saya dengan salah satu ayat-Mu dalam surah Ar-Rad. Mengatakan bahwa hanya dengan mengingatMu, aku akan tenang. Mengingat setiap manusia tidak sendirian, sekalipun semua manusia menjauhi atau sekalipun seorang cinta meninggalkan. Saya rasa ini bisa menjadi obat kami untuk melepaskan.
Teringat juga dengan salah satu janji-Mu dalam surah An-Nur. Laki-laki yang baik akan Kau sandingkan dengan perempuan yang baik pula. Ayat ini Kau turunkan untuk menghindarkan 'Aisyah dari fitnah. Bahwa 'Aisyah pasti seorang perempuan baik, menjaga harga dirinya, sehingga ia bisa disandingkan dengan Baginda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam. Walaupun, dalam beberapa kasus ada yang tidak seperti itu. Tapi, siapa yang tahu tentang ketaqwaan seseorang selain diri-Mu? Wallahu a'lam.
Tuhan.
Saya fikir jika sepasang manusia memang tidak berjodoh, maka mereka tidak akan berjodoh. Kau lebih mengetahui mengapa, daripada kami. Tidak ada yang terjadi jika Kau tidak mengizinkan, tidak peduli sudah seberapa kuat kami menggenggamnya. Dan janji-Mu itu pasti. Bisakah Kau sampaikan ini saja ke dalam hati temanku itu?

Day 10: Your Bestfriend

Di bangku SD, sahabat saya ada dua orang. Mereka adalah teman sekelas dan teman satu mobil jemputan. Kami bahkan tidak tahu apa itu sahabat....